REVOLUSI KREATIF December 3, 2009
Posted by yogasdesign in SUDUT PANDANG.Tags: BISNIS, BISNIS KREATIF, DUNIA KREATIF, KREATIF, PEKERJA KREATIF, REVOLUSI
14 comments
Prihatin. Sejah ini adalah sebuah kata yang tepat menggambarkan situasi bisnis dunia kreatif di Indonesia. “Lho, bukannya justru sekarang lagi maju-majunya?”, begitu sanggah seorang rekan. Ya, memang saat ini, setidaknya 2-3 tahun terakhir, bidang kreatif sedang dalam masa emasnya. Tapi, kalau saja publik tahu yang terjadi di sela masa keemasan itu, mungkin mereka juga akan bergumam sama. Prihatin.
Apa pasal sih? Begini, kebetulan saya hanya salah satu pekerja kreatif independen yang ada di Indonesia. Bekerja dengan modus mobile worker dan homebase business. Kebetulan juga -mudah-mudahan ada hubungannya- pekerjaan kreatif yang saya tangani adalah bidang desain grafis, dimana saya sendiri tidak memiliki background pendidikan desain. Hanya berbekal kemampuan yang telah dianugerahkan kepada saya, plus sedikit pengalaman dan dibantu bacakground pendidikan ilmu komunikasi yang telah saya tempuh.
Saya sendiri ragu, apakah kondisi yang telah saya -dan rekan-rekan seprofesi saya- alami, diketahui oleh para “petinggi-petinggi” di dalam dunia bisnis kreatif ini. Dalam hal ini anggaplah senior-senior bidang kreatif yang juga punya background kuat dalam menjalankan profesinya. Beberapa kali -bahkan sebenarnya acap kali- saya mengalamai betapa belum terbukanya mata publik non bidang kreatif, bahwa pekerjaan kreatif itu selalu melewati proses. Proses pemikiran ide, pewujudan ide, sampai kepada eksekusi. Tak usah jauh-jauh. Pada tahap eksekusi saja, proses pengerjaan banyak menggunakan perangkat bernama komputer. Dengan berbagai keunggulan spesifikasinya, dengan berbagai kehebatan dan kecepatan bekerjanya, dan pastinya, dengan berbagai keterbatasannya sebagai mesin yang dibuat oleh manusia.
Pekerja kreatif bukanlah tukang sulap. Yang bisa dengan sekejap merubah pisau jadi pensil, kelinci jadi burung. Contoh sederhana, ada yang namanya revisi desain. Oke-oke aja kok, kalau sebuah hasil desain direvisi. Tapi, harap maklum, bahwa semua ada prosesnya. Proses penggunaan software, editing, akurasi ukuran, proses komposisi. Atau revisi copywriting, gak beda jauh prosesnya. Dipikir dahulu, dicari kata-kata, dirangkai, diedit lagi, dan proses-proses lainnya. Dan tentunya yang sering dilupakan, proses istirahatnya si eksekutor.
Ironisnya, banyak mediator pekerjaan yang menjadi front person, sering juga lupa bahwa ada proses tadi. Kalau klien bilang begono, bilang bisa. Begini, bisa. Semua bisa. Padahal ia belum bertanya ke eksekutor. Akhirnya? Ya semua dipaksakan, terpaksa dilembur, terpaksa dikebut, terpaksa melek, terpaksa mikir, terpaksa.bla…bla…bla…… yang akhirnya berdampak hasil yang tak sempurna, akhirnya revisi lagi…. revisi lagi….. sampai kalau dihitung waktunya, justru sama saja kalau proses revisi diberi waktu yang masuk kategori “tidak buru-buru”, tapi akan meminimalisir kesalahan. Peliknya lagi, kerap target-target penyelesaian pekerjaan yang ditentukan menjadi tidak logis kalau di compare dengan standard kemampuan bekerja dari para eksekutor. Ya itu tadi, dianggap eksekutor adalah tukang sulap dan bernyawa lebih dari satu, serta dianggap “gak punya puser”.
Belum lagi ide-ide yang truuussssss… berkembang saat dipresentasikan hasil pekerjaan. Kalau ujung-ujungnya memang ide itu layak dieksekusi mungkin masih bisa kompromi. Tapi, justru seringkali sebaliknya. Ide-ide yang diorder untuk dikembangkan oleh para eksekutor malahan membuat semua jadi melenceng, dan itu justru disadari oleh penggagas pengembangan ide. Akhirnya -setelah berkola-kali ganti ide- diambil keputusan, “Ya udah deh bikin yang seperti awal aja…”. Hhhh…. cape deeeehh….
Inilah segelintir kondisi real yang terjadi di area bisnis kreatif yang saya jalani. Saya tidak tahu apakah ini hanya dialami oleh sebagain pekerja kreatif yang “sejenis” dengan background yang saya miliki, atau memang sudah begini culture-nya? Apakah “petinggi-petinggi” di dunia kreatif tahu hal ini? Who knows… Kalau memang tahu, apakah belum ada niat memberi edukasi kepada publik tentang pentingnya unsur proses dalam dunia kreatif? Who knows…. Kalau hal ini tidak ditindaklanjuti, saya khawatir, pekerja kreatif tak kan pernah beranjak dari profesi kelas dua!
Jadi, kalau boleh usul -dan saya kayanya yakin gak akan didengar, karena ada yang bilang “siapa elu sih..?”- bagaimana kalau segenap pekerja kreatif di Indonesia melakukan: REVOLUSI KREATIF. (seru kali yeee…… he…he..he…)
Ingin Jadi Tuhan November 11, 2008
Posted by yogasdesign in SUDUT PANDANG.Tags: INGIN, JADI, PANDANG, SUDUT, TUHAN
add a comment
Setiap manusia sudah dianugerahi nyawa sejak ia lahir. Bahkan rohnya sudah dimasukkan saat berusia 4 bulan dalam kandungan, termasuk takdir-takdirnya. Sebuah bentuk berkah yang merupakan modal utama kita untuk bernafas di dunia. Kemudian, seorang manusia juga sudah dianugerahi nafsu, emosi, akal dan pikiran. Anugerah yang begitu sering digunakan oleh manusia dalam mengatur irama hidup, dan selalu saja membuat penghuni bumi kerap tertawa, sedih, menderita, bahkan menjadi khilaf.
Sampai saat ini, memang manusia masih diberikan waktu untuk meramu jalan hidupnya. Pengaturan nafsu, emosi , akal dan pikiran, akan menolong penemuan jalan terbaik bagi kepentingan manusia menghadapi akhir jaman. Dan bukan tak mungkin, justru penemuan jalan terburuk adalah “rejeki” yang didapatnya. Tak ada yang sanggup menerka.
Kemampuan yang ada dalam setiap manusia, adalah sah jika digunakan untuk menyambung hidup. Keinginan untk menjadi sempurna di hari depan, adalah sah jika dicita-citakan setiap insan. Dan kumpulan anugerah yang memenuhi diri seseorang, ditakdirkan untuk membuat manusia bersyukur. Bukan lantas membesarkan kepala hanya untuk mencapai kesempurnaan, yang lambat laun menuju keinginan melebihi-Nya.
Manusia bukanlah Tuhan. Manusia adalah makhluk yang di dalamnya terdapat kelebihan dan kekurangan. Sebesar apapun gelembung keinginan bermuara di dalam diri, haruslah berkompromi terhadap takdirnya sebagai makhluk Tuhan. Makhluk yang takkan bisa melebihi-Nya. Makhluk yang seharusnya sadar terhadap keadaan dirinya, juga sekelilingnya. Makhluk yang tak bisa menyangkal ketidakberdayaan di hadapan-Nya.
Kita bisa melihat, betapa bangganya individu yang begitu sadar bahawa ia punya potensi. Kita bisa melihat, betapa canggihnya otak manusia sehingga ia harus meladeni kemampuannya yang lambat laun ingin menjadi paling sempurna.Kita sudah banyak melihat dan juga mendengar, keinginan berhasilnya hidup yang jugamenyertakan ego dan kepentingan tanpa batas, serta merta menjadi sift yang “sah-sah saja” digenggam manusia.
Dari bekal ilmu, potensi individu, serta kemajuan jaman, seorang manusia terpacu untuk mengikatnya menjadi satu. Sampai-sampai ia lupa bahwa yang paling berhak menciptakan hanyalah Yang Maha Pencipta. Bahawa yang paling berhak menyandang gelar penguasa, adalah Yang Maha Penguasa. Lantas, mengapa kita harus berlomba untuk menyamakan diri dengan-Nya?
Kalau Sang Pencipta saja sudah diniatkan untuk disamakan kemampuannya. Bagaimana dengan sesama manusia? Apakah harus, manusia-manusia yang bersama hidup di alam fana in I, tak dianggap sebagai manusia? Tak diangap sebagai makhluk ciptaan Tuhan, yang juga berhak mempunyain potensi dan berhak mempunyai kemampuan?
Boleh-boleh saja kita bangga dengan potensi. Boleh-boleh saja kita menun jukkan kemampuan, Tapi, perlulah diingat bahwa, yang berpotensi tak hanya satu, dua, atau tiga. Setiap insan punya potensi, punya kemampuan, punya akal, punya budi, serta punya nafsu dan emosi. Setiap makhluk punya jatah yang sama sebagai makhluk. Setiap makhluk sudah punya bagian yang telah dibagi-bagikan berupa rahmat, berkah, hidayah, sampai dengan rejeki dan musibah.
Sifat individualistis bukan tak boleh diaplikasikan. Tapi kalau saja sifat ini terus merajalela, buka tak mungkin, di luar kesadaran manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya, ia harus peduli dirinya. Seseorang hanya peduli dirinya. Seseorang hanya peduli dengan nasibnya. Seseorang hanya teringat bagaimana meberhasilkan hidupnya, bukan membawa keberhasilan bagi kehidupan di dunia. Ambisi untuk menjadi “raja”, sebaiknyalah tidak menjadikan seseorang atau sekelompok individu menjadi angkuh mengusung panji kedigdayaan.
Dari rentetan sehjarah kita bisa mendapat dan melihat bukti, bagaimana manusia-manusia yang terus saja “terlalu” menikmati “potensi berlebihan” yang disandangnya, akhirnya hancur juga. Kita sudah bisa mendapatkan fakta, banyak manusia yang kini terjebak untuk memaksimalkan kemampuan diri, sebagai media menyamakan dirinya dengan Tuhan. Manusia diganti robot, binatang direproduksi dengan teknologi, dan manusia bebas menyudahi hidup manusia lain. Untung saja, belum sanggup merekayasa reproduksi manusia baru untuk tinggal bersama di bumi, dengan tanpa mengindahkan proses alami yang sudh dikodratkan.
Bentuk nafsu ataupun emosi yang terkolaborasi dengan akal, budi, dan pikiran, bukanlah wadah bagi keinginan untuk meninggalkan kodrat sebagai makhluk ciptaan-Nya. Kelonggaran bernapas, berpikir, ber-ilmu pengetahuan, samapi dengan kelonggaran bercita-cita yang diberikan oleh-Nya, bukanlah berkah yang membuat manusia jadi penuh ambisi, takabur, dan semena-mena. Nafsu boleh-boleh saja. Emosi boleh-boleh saja. Berpikir boleh-boleh saja. Ambisi boleh-boleh saja. Tapi siap sangka, akhirnya banyak manusia ingin jadi Tuhan? Namanhya juga manusia. Dikasih hati, minta jantung…
(TOR-02-99)
Kecutnya Ketiak November 11, 2008
Posted by yogasdesign in SUDUT PANDANG.Tags: Add new tag, KECUT, KETIAK, PANDANG, SUDUT
add a comment
Bersikap adalah menunjukkan sikap. Baik buruknya sikap dapat dinilai darimkonsekuensi si pemilik sikap terhadap perilakunya. Sikap baik belum tentu sanggup direalisasikan secara murni oleh seseorang. Maka ia akan terjebak pada kenyataan bahwa ia tidak dapat bersikap.
Wajar kalau sikap, bersikap, atau apapun namanya, akan membuat bingung jika harus dibeberkan denga arti harfiah. Seseorang yang punya sikap, bukan berarti sikapnya baik. Seseorang yang tidak bersikap, bukan berarti ia bisa bersembunyi dari ketidaksanggupannya bersikap.
Kalau seseorang sudah mengeluarkan kata-kata dari mulutnya, sebagai sebuah bentuk sikapnya pada fenomena yang ada, adalah harus (kalau tak mau dibilang wajib) orang tersebut berperilaku sesuai dengan apa yang dikatakannya. Kalau ia bilang ember harus diisi air, maka sewajarnya ia juga mengisi setiap ember miliknya dengan air. Jika ia menyatakan rumah harus dicat dengan warna cerah, adalah sah jika rumahnya juga dicat dengan warna cerah. Atau lebih mudah kita nyatakan bahwa apa yang dikatakan memang sudah dilakukan.
Akan tetati (tetapi maksudnya….), jika kita melihat seseorang ataupun sekelompok orang yang dengan berwibawa menyatakan, “Kita harus menyampaikan yang benar itu benar, yang salah itu salah”, di hari berikutnya justru ia menekuk lutut untuk menyatakan kebenaran hanya karena sungkan, takut, ataupun toleransi, gelar apa yang pantas kita sandangkan kepadanya? Tidak bersikap, tidak mempunyai sikap, tak tahu sikap, atau mungkin pengecut?
Bukan berniat mencerca, protes, ataupun antipati terhadap nilai manusiawi dari seseorang. Tapi, adalah kenyataan bahwa sudah terlalu banyak orang yang berlaku tak sesuai dengan apa yang dikatakan lewat mulut. Sudah terlalu keruh dunia ini diisi oleh orang-orang yang hanya ingion dibilang “top” padahal dia “down”. Bilang berani, tapi tak berani. Bilang bersikap, tapi tak punya sikap. Bilang manis, tahunya kecut.
Dari lingkup regional, lokal, sampai dunia, kita dapat menyaksikan betapa hebatnya orang-orang yang berdiri tegak di podium kejayaan, kedigdayaan. Mereka melimpahkan kata-kata dalam mjulutnya dengan bunyi sirine perang melawan kebathilan. Dan mereka sekaligus mengumandangkan pernyataan-pernyataan yang justru menunjukkan bahwa, orang memang paling pintar bicara, tapi mana prakteknya? Katanya harus lari, kenapa jalan kaki. Katanya mau ngasih buah, kenapa yang dikasih Cuma biji.
Yah…, memang lain kata lain praktek tidak dapat disalahkan. Orang kan manusia. Yang kadang menemukan kekhilafannya. Yang kadang tak mengira kenyataan terus berubah. Yang tak mengira bahwa dirinya dapat menjadi pemberani, dapat juga jadi pengecut, dapt juga tak punya sikap, bahkan dapat menjadi penipu. Jadi, juga jangan disalahkan kalau saja seorang pemuda berumur 28 tahun berkata, “Pengecut itu tak punya sikap, penipu berarti tak punya sikap, dan tak punya sikap berarti juga menipu”. Entah apa artinya, tak usahlah dipersoalkan. Karena jangan-jangan pemuda itu juga pengecut. Siapa tahu? Ketiak saja baunya kecut…
(TOR-05-99)
Monyet Bukan Anjing, Kerbau Bukan Kuda November 8, 2008
Posted by yogasdesign in SUDUT PANDANG.add a comment
Sebagai penghuni bumi, manusia ditemani makhluk hidup lain. Sesama manusia, hewan, juga tumbuhan. Sebagai penghuni bumi, manusia ditemani sifat-sifatnya. Sifat baik dan sifat buruk. Dan sebagai penghuni bumi, manusia juga ditemani oleh nasib. Nasib baik dan nasib buruk.
Kerap kita dapat merasakan betapa nikmatnya sebagai manusia, makhluk paling sempurna di antara makhluk-makhluk lain ciptaan-Nya. Sering kita mendengar, betapa beruntungnya manusia, yang dengan segala upayanya menempuh hidup dengan berbuah keberhasilan. Dan kita juga acap kali melihat, mendengar, bahkan merasakan, betapa teriris-irisnya perasaan manusia. Ketika ia harus ikhlas direnggut haknya oleh ‘rekan’ hidup di bumi ini, manuia juga.
Hanya karena adanya perbedaan nasib di antara yang satu dengan yang lain, lalu keberadaan manusia lain sebagai makhluk yang bermartabat dan berhak hidup harus terlihat samar. Keharusan manusia untuk mengisi hidupnya dengan berusaha dan berdo’a, kian hari kian menjadi hal yang disepelekan. Saat seorang atau sekelompok manusia harus memperjuangkan nafasnya di bumi, bersamaan dengan itu, masih terlalu banyak yang dengan keabsolutannya lebih mementingkan pendayagunaan nafas manusia lain sebagai pemenuh kebutuhan. Syukur-syukur jika nafas itu masih dianggap berharga di depan kelopak mata. Tapi nyatanya adalah terbalik.
Makin banyak saja terlihat, keberlangsungan hidup umat manusia dianggap sebagai permainan yang dapat diputar-putar bagai kincir angin. Sudah ingin terkapar di tanah, masih sja dianggap mampu berlalri mengitari lapangan bola. Sudah harus minum air menghilangkan dahaga, masih saja disuruh menarik gerobak sebagai pengganti kerbau. Apa iya, sebagai sesama, tidaklah sanggup lagi mempergunakan hati nurani. Apa iya, dengan segala kelebihan yang diberikan-Nya, harus memperlakukan sesamanya sebagai hewan perasan. Lalu siapa justru yang lebih cocok dianggap hewan? Kerbau, monyet, kuda, anjing, atau justru manusia?
Kerbau saja harus beristirahat sambil memamah rumput. Monyet saja harus berhenti berteriak untuk memakan pisang. Anjing-pun harus berhenti menggonggong untuk sekedar buang air besar. Lalu kalau makhluk-makhluk yang lebih terkenal dengan sebutan hewan itu, dapat begitu indah menikmati adanya kelonggaran dalam aktivitasnya, mengapa manusia harus tidak?
Manusia punya daya tahan, kemampuan, dan kemampuan itu bukanlah berarti harus mampu semampu-mampunya toh? Mampunya manusia pasti ada batas. Batas ketahanannya. Batas kesanggupannya. Bahkan juga, batas keberadaannya sebagai makhluk ciptaan-Nya. Dan tentunya batas waktu ia harus bernafas di bumi tercinta ini.
Manusia punya nyawa, darah, otak, akal, dan pastinya jantung. Ya, manusia makhluk paling sempurna di antara makhluk lainnya. Ya, manusia selalu saja diberi kelebihan dalam hidupnya. Dan, ya, manusia harus punya keterbatasan, harus punya ketidakberdayaan, dan tentunya hati nurani. Sebab kalau tidak, namanya bukan manusia? Lalu apa? Kerbau, monyet, sapi, kuda, anjing, atau…., atau….?
(TOR-04-99)
Dasar Nasib… November 8, 2008
Posted by yogasdesign in SUDUT PANDANG.add a comment
Dalam hidup, nasib merupakan hal yang melekat pada diri tiap manusia. Nasib baik, nasib buruk. Di sisi lain, perjalanan manusia mengisi hidup ini dengan ikhtiar tak selamanya menjadikannya merasa berhasil secara absolut. Ada saja ketidaksempurnaan yang turut serta dalam perjalanan itu.
Sebagai contoh, seorang petani yang udah begitu tekun membajak sawahnya dari hari ke hari, justru di saat memanen hasilnya ia mendapat bencana yang tak terkira sama sekali. Hujan deras yang menyiram bumi membuat air meluap dan banjir tak dapaat dibendung. Lalu, sawah-sawahpun tenggelam tak berbekas. Ironis.
Maaf, cerita di atas tidak dimaksudkan untuk ‘menghina’ sang hujan sebagai hal yang tak dikehendaki. Karena kita tahu bahwa hujan adalah rahmat dan berkah dari Yang Maha Pencipta. Ok… kita tidak membicarakn hal itu. Tapi coba kita fokuskan alam pikir kita kepada hal yang memandang sebuah keoptimisan sebagai bagian dari perjalanan hidup manusia.
Tak bisa disalahkan jika manusia diberkahi rasa optimis dalam dirinya. Tak bisa disalahkan jika manusia dianugerahi rasa ingin menggapai kondisi positif dalam perilakunya. Dan tak dapat dipungkiri bahwa manusia diciptakan-Nya untuk menjadi pemimpin di dunia.
Dalam setiap usaha manusia, pergerakan-pergerakan yang memungkinkan tercapainya hasil positif bisa dikatakan alami adanya. Keinginan untuk merancang hidup ini menjadi berarti, adalah sebuah kodrat. Hampir tak ada manusia yang menginginkan hidupnya menjadi sial. Hampir tak ada manusia yang mendambakan hidupnya menjadi mentah.
Kembali kepada nasib petani, merintis terbentuknya kondisi ideal, di mana unsur positif menjadi raja, manusia tidak bisa hanya merebahkan diri di kasur tidur. Ia harus dengan kesadarannya sendiri berani melakukan hal-hal bernuansa lelah. Lelah fisik hingga lelah pikiran. Kenapa harus lelah? Ini disebabkan lelah cenderung diartikan sebagai usaha maksimal sampai pada batas kemampuan. Lelah-pun bukans ebuah keadaan yang selalu tidak dinantikan. Karena makhluk hidup bisa dikatakan pasti mengalami kelelahan. Apalagi ketika ia menjalani hidup ini sebagai kredit menuju alam sempurna nanti.
Dalam waktu yang tak dapat diterka dan ditentukan, ikhtiar manusia akan diikuti dengan gejolak-gejolak yang mungkin tak dapat disangka pula. Ketika kesungguhan menghinggapi diri, perjalanan terasa menyenangkan bagai piknik ke bulan. Lalu, saat berangsur-angsur langkah menemukan ganjalan,saat itu pula manusia harus berusaha melewatinya. Dari proses melewati inilah kadang (bahkan sering) lelah menghampiri. Apa yang harus dilakukan Istirahatlah, walau sejenak.
Setelah beristirahat (bukan berleha-leha), maka teruskanlah perjalanan. Dalam perjalanan selanjutnya inilah lalu kita harus mulai terbiasa menemui ganjalan. Yang nanti, idealnya, justru menjadi hal yang biasa-biasa saja. Dari keadaan bisa-biasa saja lalu kita akan menemukan ganjalan lain yang berbeda dengan sebelumnya. Gankalan baru yang lebih menantang atau justru bukan tantangan. Tapi, tantangan atau bukan, sebaiknya dianggap remeh. Karena jika saja lengah, tak usah ragu, katapun akan tersandung.
Perlu diingat, adakalanya sebuah usaha ataupun perjalanan akan berhenti dan beristirahat dalam waktu lama, bukan dengan maksud menyerah. Berhenti kalau memang tak dapat lagi diteruskan, adalah keadaan yang tak dapat ditolak. Kemampuan ada batasnya, usaha ada maksimalnya. Soal hasil, manusai tak punya otoritas menentukannya. Adanyang lebih berhak!
Bagi yang hingga kini terus saja mengalami berhasilnya perjalanan hidup, mungkin tak boleh mengindahkan begitu saja hal-hal tak terkira yang di hari depan nanti akan menghadang. Dan bagi yang telah mempertimbangkan masak-masak keputusan untuk memberhentikan dengan sementara usaha-usahanya menghadapi kerasnya perjalanan, jadikanlah semua yang telah dialami sebagai pelajaran. Pelajaran untuk memulai hidup baru, walaupun itu tidak lebih menguntungkan dibanding hidup sebelumnya.
Yahh…., usaha-usaha adalah sebaiknya terus saja dilakukan bukan demi sebuah eksistensi belaka, tapi lebih sebagai perbaikan kualitas hidup. Toh, nasib siapa yang tahu…
(TOR-33-99)
Hidup Bemo! November 8, 2008
Posted by yogasdesign in SUDUT PANDANG.add a comment
Cobalah sekali-kali menjadikan kendaraan bernama “Bemo” sebagai contoh bagaimana kita menjalani tugas sebagai manusia di bumi ini.
Loh, apa yang harus di contoh? Bemo, seperti yang kita tahu, adalah sebuah kendaraan umum yang terbilang ‘jadul’. Dengan penyediaan bangku panjang berhadap-hadapan, bemo menjadi wahana interaksi antar manusia.
Coba kita lihat di pagi hari daerah Pejompongan – Benhil, dimana berbondong-bondong manusia berebut untuk segera sampai di tempat tujuan, mencari nafkah. Ternyata bemo masih banyak yang menggunakannya sebagai alternatif untuk melancarkan jalan menunaikan misi mulia ini.
Ya, mencari nafkah memang tergolong misi mulia. Bagaimana tidak, sebagai manusia yang terlanjur berada di bumi, nafkah adalah hal yang menjadi unsur penting dalam meneruskan tugas manusia sebagai pemimpin. Memimpin dunia, memimpin orang lain, memimpin masyarakat, memimpin keluarga, sampai memimpin diri sendiri untuk selalu berjalan di jalan yang dikehendaki-Nya.
Kembali kepada bemo. Dalam sebuah bemo terdapat bangku yang memang disediakan untuk penumpangnya. Walau sempit, hingga kini di daerah tertentu seputar Jakarta, bemo masih menjadi idola pengguna transportasi umum. Walaupun tidak dapat dihindari adanya risiko berdesakan. Dari keadaan di dalam bemo ini, kita sebenarnya bisa belajar. Bagaimana kita harus berbagi, saling menghargai, saling menghormati, dan saling menyintai.
Betapa tidak,dalam keadaan yang sudah begitu minim (dalam bemo maksudnyah…), penumpang harus menyediakan tempat yang tersisa sebisa mungkin. Kalau masih muat satu penumpang, ya harus dimuatkan. Kalau masih muat dua penumpang apa lagi. Bahkan kalau keadaan di “lapangan” hanya memungkinkan masuk setengah penumpang, terus dicoba masuk, untukmikut duduk.
Sekali lagi di sini kita bisa belajar bagaimana kita dapat mengajak manusia selain diri kita untuk ikut menikmati betapa sempitnya ruang untuk melancarkan nafas selancar-lancarnya. Seperti diketahui, bumi inikan sudah begitu sumpek, sudah begitu majemuk. Dan kemajemukan isi bumi ini sepatutnya membuat penghuninya sadar, bahwa kita berada dinplanet yang dalam bahasa inggrisnya dinamakan “earth” ini, bukan untuk melupakan keberadaan penghuni lainnya. Karena, kalau saja manusia sudah berpikir sejak awal mengenai kemajemukan yang dianggap tak akan menguntungkan, rugilah ia!
Kumpulan makhluk di bumi ini memang diciptakan tidak seragam. Dan itu bukan untuk saling mendorong agar keberuntungan selalu terpusat pada ego seseorang, sekelompok orang, ataupun sekelompok makhluk. Kumpulan makhluk yang berderajat sama di hadapan-Nya, diciptakan untuk saling berkomunikasi, saling membutuhkan, saling mengingatkan, sampai saling menyayangi.
Tapi sudah menjadi rahasia umum. Nyatanya makhluk-makhluk di bumi ini justru lebih bergembira dengan melaksanakan hobi saling mendorong, saling menggeser, saling menjorokkan, dan mungkin saling meludahi (maaf, agak kasar). Merasa dirinya yang paling berhak mendapat terempuk adalah manusiawi. Tapi kitapun tahu, mansusiawi belum tentu benar. Karena yang benar bagi manusia belum tentu benar bagi-Nya. Dan yang benar bagi-Nya, pasti benar untuk manusia.
Jadi, sifat manusiawi ini adalah bijak kalau kita dapat menyesuaikan dengan nilai-nilai paling ideal. Manusia harus berangkulan dengan makhluk lain. Apalagi dengan manusia lain. Buat apa kita harus hidup beragam, kalau hanya saling menjatuhkan. Padahal (sekalimlagi), kita diciptakan memang dalam keaqdaan tak sendiri. Toh, nantinya bemo yang paling nikmat bangkunya tak ada di sini, di alam serba fana ini. Tapi ada di…?
(TOR-09-99)
Mengadili Intelektualitas November 8, 2008
Posted by yogasdesign in SUDUT PANDANG.Tags: INTELEKTUAL, MENGADILI, PANDANG, SUDUT
add a comment
Melihat gejala-gejala yang timbul di masyarakat, terbesit pemikiran. Pemikiran tentang pentingnya kadar intelektualitas seseorang dalam menyampaikan apa saja yang ada di benaknya. Mengapa harus dikatakan penting, karena dari kenyataan yang ada kita disuguhi ‘tontonan’, betapa kaum yang mengaku dari golongan intelek begitu percaya untuk menyampaikan ataupun memberikan masukan kepada bangsa ini untuk keluar dari permasalahan-permasalahan yang mendera.
Sebenarnya bukan saat ini saja para intelektualis dipercaya memberikan sumbang saran bagi kepentingan umum. Dari jaman kerjaan-pun hal ini sudah dilakukan. Contohnya, seorang raja yang sangat percaya kepada para cendikiawan. Mereka dipercaya kerena potensinya masing-masing yang mencoba untuk berpikir bedasarkan proses sebab-akibat. Kalau keadaan begini, maka akibatnya begitu. Kalau keadaan begitu, maka akibatnya begono. Dan kalau keadaan beginu, maka akibatnya begenee…
Nuahh…, di jaman sekarang ini kita juga dapat melihat bahwa, tak diminta oleh siapapun, makin banyak saja yang dengan kesadaran penuh mempraktekkan dirinya sebagai bagian dari kaum intelek. Kaum dengan tingkat intelektual di atas rata-rata. “Dari indikasi yang ada, kita diharapkan dapat meng-implementasi-kan potensi kita ke dalam proses bergaining. Sehingga tidak terjadi setback yang tak diharapkan, menyusul adanya distorsi dalam sistem yang sudah dikonfirmasikan bersama”, begitu kata salah satu pengamat politik.
Lalu orang yang kebetulan ada di sebelahnya-pun dengan semangat menimpali, “Benar apa yang dikatakn teman saya ini. Dalam mencapai tingkat pengkristalan sistem, setiap personal diharapkan dapat mempertahankan kekonsistennannya sebagai elemn sistem tersebut. Bahkan, dalam rangka memulai step-step selanjutya, kausa-kausa yang telah lalu cenderung dapat kita jadikan plafon dalam menghitung kadar kesatuan atribut-atribut sistem”. Lalu decak kagum diiringi hiasan tepuk tangan, menggema di ruangan sebuah seminar.
Dengan tema “Mari Memberantas Kebutaan Politik”, seminar itu dapat menjadi contoh betapa pintarnya mereka. Betapam pemikiran-pemikiran mereka selalu menggunakan prosedur keilmupengetahuan. Lontaran pendapat ataupun teori seakan merupakan solusi prima dalam menyelesaikan masalah. Atau merupakan masukan terbaik mengenai sebuah masalah.
Tapi rasa-rasanya kita sudah sangat sering mendengar atau menyaksikan sendiri banyaknya diskusi-diskusi maupun seminar-seminar yang intinya mencari jalan keluar masalah yang dialami masayarakat luas. Tentang kelaparanlah, tentang perbankanlah, atau mungkin tentang seks bebas. Dan nyata-nyata dalam pandangan kita, betapa masayarakat hingga kini masih saja terpuruk dalam ketidakjelasan ke mana arah negeri kita akan berlabuh. Kemiskinan tak kunjung habis. Krisis tak kunjung hilang. Dan moral tak kunjung baik.
Padahal, kalau kita simak tulisan di atas, bahwa di Indonesia kita ini, begitu banyak para ahli yang dipercaya sebagai kaum intelektual. Kaum yang dengan serta-merta selalu mengeluarkan ‘kata-kata kuncian’ agar mendukung prediksi ataupun opini tentang bagaimana membawa Indonesia ke dalam keadaan yang lebih cerah. Lalu apa yang salah, siapa yang salah?
Rasanya sulit melihat siapa yang salah. Karena yang kita ketahui, bahwa para pecinta intelektualitas adalah diakui sebagai orang-orang yang akan mengabdi kepada masyarakat. Mengabdikan ilmu yang sudah terlalu menumpuk di kepala untuk kepentingan masyarakat. Bukan untuk kepentingan diakuinya mereka di mata masyarakat. Bukan untuk kepentingan diinginkannya mereka oleh ‘tim fungsionaris negara’.
Maka ada baiknya mereka yang mengaku berintelektualitas tinggi tidak hanya jago melontarkan kata dengan kadar intelektual, tapi juga fasih melontarkan kata berdasarkan hasil pemikiran mereka sebagai intelektual sejati. Sehingga masyarakat tak termakan indikasi-indikasi, implementasi, bergaining, step,konfirmasi, setback, atau apa saja yang justru membuat mereka merasa sebagai orang paling bodoh. A tau memang masyarakat kita memang sudah terbiasa dibodoh-bodohi dan saling membodohi?
(TOR-26-99)


