NDELALAH…

siluet_11

Amat dan teman2nya yang lucu tinggal di sebuah desa. Desa yang dari jauh terlihat makmur, adem ayem, dan rukun antar warganya. Tapi Amat berpandangan lain. Desanya tak semakmur, adem (apalagi ayem), dan rukun. Ia resah, ia gundah, ia mau (maaf) muntah…

Desa Amat dkk dilintasi sebuah kali yang cukup besar (bahkan bisa untuk mandi dan berenang). Lima tahun terakhir, arus di kali begitu deras. Sudah banyak yang hanyut. Dari celana, baju, tempayan, sampai anjing piaraan.

Uniknya, di seberang kali terlihat bayang-bayang (agak kurang nyata karena selalu berkabut, maklum di kaki pegunungan), ada desa-desa lain yang tidak diketahui apakah makmur, adem ayem, dan rukun. Ndelalah… Amat sering berkhayal untuk menyebrangi kali dekat desanya. “Aku berani menyeberangi kali itu”, begitu selalu terucap dalam hati. Tapi, sering teman-temannya mengingatkan,”Mat, belum tentu lho di sana enak, udahlah di sini aja, kita terima keadaan, menderita dikit juga gak napalah…”

Lagi-lagi ndelalah… Amat bukan orang yang begitu saja menelan perkataan orang lain. Ia selalu berusaha berpikir independen (walaupun istilah independen di desanya gak ada yang tau…).

Suatu waktu ia berjalan mnyusuri pinggir kali sambil celingukan. Tiba2, ia bertemu seorang yang agak tua, dengan jenggot yang tipis tapi panjang. Amat belum buka pembicaraan, orang tua itu langsung memegang pundak Amat dan berkata, “Di dunia ini banyak orang berani. Tapi, tidak banyak orang yang yakin.”

Bermalam-malam, berhari-hari, berbulan-bulan ia memikirkan kata-kata itu. Sampai akhirnya usia bertambah. Dan ia sadar, waktu tak boleh dibuang-buang, ia menanamkan keyakinan bahwa ia harus menyebrangi kali sebelum arus bertambah deras dan menenggelamkan desanya. Maka dengan keyakinan (tentu juga keberanian) ia menyeberangi kali yang memang arusnya sudah semakin deras. Tak peduli apa kata orang, apa kata kepala desa, apa kata ketua RT, apalagi kata kepala keamanan desa.

Hhhh…. Amat berhasil juga menyebrang. Ia injak daerah baru yang ia tak pasti mengetahui seluk beluknya. Tapi, ia selalu ingat kata orang tua yang ditemuinya di pinggir kali tentang pentingnya keyakinan diri berada di atas keberanian.

“Ternyata selama ini aku buta. Aku terjebak oleh kabut yang selalu menyelimuti desa ini….”, ujar Amat yang telah menrasakan betapa pintu di desa lain ternyata sangat membuka diri baginya. Dan… Amat siap menjalani keberadaannya di desa baru itu dengan segala resikonya. Dan nyatanyapun Amat kini lebih bersemangat dalam hidup, lebih menikmati apa yang ia kerjakan sehari-hari, dan tentunya lebih mensyukuri nikmat berupa keyakinan untuk berubah lebih baik….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s