Dasar Nasib…

Dalam hidup, nasib merupakan hal yang melekat pada diri tiap manusia. Nasib baik, nasib buruk. Di sisi lain, perjalanan manusia mengisi hidup ini dengan ikhtiar tak selamanya menjadikannya merasa berhasil secara absolut. Ada saja ketidaksempurnaan yang turut serta dalam perjalanan itu.

 

Sebagai contoh, seorang petani yang udah begitu tekun membajak sawahnya dari hari ke hari, justru di saat memanen hasilnya ia mendapat bencana yang tak terkira sama sekali. Hujan deras yang menyiram bumi membuat air meluap dan banjir tak dapaat dibendung. Lalu, sawah-sawahpun tenggelam tak berbekas. Ironis.

 

Maaf, cerita di atas tidak dimaksudkan untuk ‘menghina’ sang hujan sebagai hal yang tak dikehendaki. Karena kita tahu bahwa hujan adalah rahmat dan berkah dari Yang Maha Pencipta. Ok… kita tidak membicarakn hal itu. Tapi coba kita fokuskan alam pikir kita kepada hal yang memandang sebuah keoptimisan sebagai bagian dari perjalanan hidup manusia.

 

Tak bisa disalahkan jika manusia diberkahi rasa optimis dalam dirinya. Tak bisa disalahkan jika manusia dianugerahi rasa ingin menggapai kondisi positif dalam perilakunya. Dan tak dapat dipungkiri bahwa manusia diciptakan-Nya untuk menjadi pemimpin di dunia.

 

Dalam setiap usaha manusia, pergerakan-pergerakan yang memungkinkan tercapainya hasil positif bisa dikatakan alami adanya. Keinginan untuk merancang hidup ini menjadi berarti, adalah sebuah kodrat. Hampir tak ada manusia yang menginginkan hidupnya menjadi sial. Hampir tak ada manusia yang mendambakan hidupnya menjadi mentah.

 

Kembali kepada nasib petani, merintis terbentuknya kondisi ideal, di mana unsur positif menjadi raja, manusia tidak bisa hanya merebahkan diri di kasur tidur. Ia harus dengan kesadarannya sendiri berani melakukan hal-hal bernuansa lelah. Lelah fisik hingga lelah pikiran. Kenapa harus lelah? Ini disebabkan lelah cenderung diartikan sebagai usaha maksimal sampai pada batas kemampuan. Lelah-pun bukan sebuah keadaan yang selalu tidak dinantikan. Karena makhluk hidup bisa dikatakan pasti mengalami kelelahan. Apalagi ketika ia menjalani hidup ini sebagai kredit menuju alam sempurna nanti.

 

Dalam waktu yang tak dapat diterka dan ditentukan, ikhtiar manusia akan diikuti dengan gejolak-gejolak yang mungkin tak dapat disangka pula. Ketika kesungguhan menghinggapi diri, perjalanan terasa menyenangkan bagai piknik ke bulan. Lalu, saat berangsur-angsur langkah menemukan ganjalan,saat itu pula manusia harus berusaha melewatinya. Dari proses melewati inilah kadang (bahkan sering) lelah menghampiri. Apa yang harus dilakukan Istirahatlah, walau sejenak.

 

Setelah beristirahat (bukan berleha-leha), maka teruskanlah perjalanan. Dalam perjalanan selanjutnya inilah lalu kita harus mulai terbiasa menemui ganjalan. Yang nanti, idealnya, justru menjadi hal yang biasa-biasa saja. Dari keadaan bisa-biasa saja lalu kita akan menemukan ganjalan lain yang berbeda dengan sebelumnya. Ganjalan baru yang lebih menantang atau justru bukan tantangan. Tapi, tantangan atau bukan, sebaiknya tidak dianggap remeh. Karena jika saja lengah, tak usah ragu, kitapun akan tersandung.

 

Perlu diingat, adakalanya sebuah usaha ataupun perjalanan akan berhenti dan beristirahat dalam waktu lama, bukan dengan maksud menyerah. Berhenti kalau memang tak dapat lagi diteruskan, adalah keadaan yang tak dapat ditolak. Kemampuan ada batasnya, usaha ada maksimalnya. Soal hasil, manusai tak punya otoritas menentukannya. Adanyang lebih berhak!

 

Bagi yang hingga kini terus saja mengalami berhasilnya perjalanan hidup, mungkin tak boleh mengindahkan begitu saja hal-hal tak terkira yang di hari depan nanti akan menghadang. Dan bagi yang telah mempertimbangkan masak-masak keputusan untuk memberhentikan dengan sementara usaha-usaha menghadapi kerasnya perjalanan, jadikanlah semua yang telah dialami sebagai pelajaran. Pelajaran untuk memulai hidup baru, walaupun itu tidak lebih menguntungkan dibanding hidup sebelumnya.

 

Yahh…., usaha-usaha adalah sebaiknya terus saja dilakukan bukan demi sebuah eksistensi belaka, tapi lebih sebagai perbaikan kualitas hidup. Toh, nasib siapa yang tahu…

 

(TOR-33-99)

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s