Hidup Bemo!

Cobalah sekali-kali menjadikan kendaraan bernama “Bemo” sebagai contoh bagaimana kita menjalani tugas sebagai manusia di bumi ini.

Loh, apa yang harus di contoh? Bemo, seperti yang kita tahu, adalah sebuah kendaraan umum yang terbilang ‘jadul’. Dengan penyediaan bangku panjang berhadap-hadapan, bemo menjadi wahana interaksi antar manusia.

Coba kita lihat di pagi hari daerah Pejompongan – Benhil, dimana berbondong-bondong manusia berebut untuk segera sampai di tempat tujuan, mencari nafkah. Ternyata bemo masih banyak yang menggunakannya sebagai alternatif untuk melancarkan jalan menunaikan misi mulia ini.

Ya, mencari nafkah memang tergolong misi mulia. Bagaimana tidak, sebagai manusia yang terlanjur berada di bumi, nafkah adalah hal yang menjadi unsur penting dalam meneruskan tugas manusia sebagai pemimpin. Memimpin dunia, memimpin orang lain, memimpin masyarakat, memimpin keluarga, sampai memimpin diri sendiri untuk selalu berjalan di jalan yang dikehendaki-Nya.

Kembali kepada bemo. Dalam sebuah bemo terdapat bangku yang memang disediakan untuk penumpangnya. Walau sempit, hingga kini di daerah tertentu seputar Jakarta, bemo masih menjadi idola pengguna transportasi umum. Walaupun tidak dapat dihindari adanya risiko berdesakan. Dari keadaan di dalam bemo ini, kita sebenarnya bisa belajar. Bagaimana kita harus berbagi, saling menghargai, saling menghormati, dan saling menyintai.

Betapa tidak,dalam keadaan yang sudah begitu minim (dalam bemo maksudnyah…), penumpang harus menyediakan tempat yang tersisa sebisa mungkin. Kalau masih muat satu penumpang, ya harus dimuatkan. Kalau masih muat dua penumpang apa lagi. Bahkan kalau keadaan di “lapangan” hanya memungkinkan masuk setengah penumpang, terus dicoba masuk, untukmikut duduk.

Sekali lagi di sini kita bisa belajar bagaimana kita dapat mengajak manusia selain diri kita untuk ikut menikmati betapa sempitnya ruang untuk melancarkan nafas selancar-lancarnya. Seperti diketahui, bumi inikan sudah begitu sumpek, sudah begitu majemuk. Dan kemajemukan isi bumi ini sepatutnya membuat penghuninya sadar, bahwa kita berada dinplanet yang dalam bahasa inggrisnya dinamakan “earth” ini, bukan untuk melupakan keberadaan penghuni lainnya. Karena, kalau saja manusia sudah berpikir sejak awal mengenai kemajemukan yang dianggap tak akan menguntungkan, rugilah ia!

Kumpulan makhluk di bumi ini memang diciptakan tidak seragam. Dan itu bukan untuk saling mendorong agar keberuntungan selalu terpusat pada ego seseorang, sekelompok orang, ataupun sekelompok makhluk. Kumpulan makhluk yang berderajat sama di hadapan-Nya, diciptakan untuk saling berkomunikasi, saling membutuhkan, saling mengingatkan, sampai saling menyayangi.

Tapi sudah menjadi rahasia umum. Nyatanya makhluk-makhluk di bumi ini justru lebih bergembira dengan melaksanakan hobi saling mendorong, saling menggeser, saling menjorokkan, dan mungkin saling meludahi (maaf, agak kasar). Merasa dirinya yang paling berhak mendapat terempuk adalah manusiawi. Tapi kitapun tahu, mansusiawi belum tentu benar. Karena yang benar bagi manusia belum tentu benar bagi-Nya. Dan yang benar bagi-Nya, pasti benar untuk manusia.

Jadi, sifat manusiawi ini adalah bijak kalau kita dapat menyesuaikan dengan nilai-nilai paling ideal. Manusia harus berangkulan dengan makhluk lain. Apalagi dengan manusia lain. Buat apa kita harus hidup beragam, kalau hanya saling menjatuhkan. Padahal (sekalimlagi), kita diciptakan memang dalam keaqdaan tak sendiri. Toh, nantinya bemo yang paling nikmat bangkunya tak ada di sini, di alam serba fana ini. Tapi ada di…?

(TOR-09-99)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s