Monyet Bukan Anjing, Kerbau Bukan Kuda

Sebagai penghuni bumi, manusia ditemani makhluk hidup lain. Sesama manusia, hewan, juga tumbuhan. Sebagai penghuni bumi, manusia ditemani sifat-sifatnya. Sifat baik dan sifat buruk. Dan sebagai penghuni bumi, manusia juga ditemani oleh nasib. Nasib baik dan nasib buruk.

Kerap kita dapat merasakan betapa nikmatnya sebagai manusia, makhluk paling sempurna di antara makhluk-makhluk lain ciptaan-Nya. Sering kita mendengar, betapa beruntungnya manusia, yang dengan segala upayanya menempuh hidup dengan berbuah keberhasilan. Dan kita juga acap kali melihat, mendengar, bahkan merasakan, betapa teriris-irisnya perasaan manusia. Ketika ia harus ikhlas direnggut haknya oleh ‘rekan’ hidup di bumi ini, manuia juga.

Hanya karena adanya perbedaan nasib di antara yang satu dengan yang lain, lalu keberadaan manusia lain sebagai makhluk yang bermartabat dan berhak hidup harus terlihat samar. Keharusan manusia untuk mengisi hidupnya dengan berusaha dan berdo’a, kian hari kian menjadi hal yang disepelekan. Saat seorang atau sekelompok manusia harus memperjuangkan nafasnya di bumi, bersamaan dengan itu, masih terlalu banyak yang dengan keabsolutannya lebih mementingkan pendayagunaan nafas manusia lain sebagai pemenuh kebutuhan. Syukur-syukur jika nafas itu masih dianggap berharga di depan kelopak mata. Tapi nyatanya adalah terbalik.

Makin banyak saja terlihat, keberlangsungan hidup umat manusia dianggap sebagai permainan yang dapat diputar-putar bagai kincir angin. Sudah ingin terkapar di tanah, masih sja dianggap mampu berlalri mengitari lapangan bola. Sudah harus minum air menghilangkan dahaga, masih saja disuruh menarik gerobak sebagai pengganti kerbau. Apa iya, sebagai sesama, tidaklah sanggup lagi mempergunakan hati nurani. Apa iya, dengan segala kelebihan yang diberikan-Nya, harus memperlakukan sesamanya sebagai hewan perasan. Lalu siapa justru yang lebih cocok dianggap hewan? Kerbau, monyet, kuda, anjing, atau justru manusia?

Kerbau saja harus beristirahat sambil memamah rumput. Monyet saja harus berhenti berteriak untuk memakan pisang. Anjing-pun harus berhenti menggonggong untuk sekedar buang air besar. Lalu kalau makhluk-makhluk yang lebih terkenal dengan sebutan hewan itu, dapat begitu indah menikmati adanya kelonggaran dalam aktivitasnya, mengapa manusia harus tidak?

Manusia punya daya tahan, kemampuan, dan kemampuan itu bukanlah berarti harus mampu semampu-mampunya toh? Mampunya manusia pasti ada batas. Batas ketahanannya. Batas kesanggupannya. Bahkan juga, batas keberadaannya sebagai makhluk ciptaan-Nya. Dan tentunya batas waktu ia harus bernafas di bumi tercinta ini.

Manusia punya nyawa, darah, otak, akal, dan pastinya jantung. Ya, manusia makhluk paling sempurna di antara makhluk lainnya. Ya, manusia selalu saja diberi kelebihan dalam hidupnya. Dan, ya, manusia harus punya keterbatasan, harus punya ketidakberdayaan, dan tentunya hati nurani. Sebab kalau tidak, namanya bukan manusia? Lalu apa? Kerbau, monyet, sapi, kuda, anjing, atau…., atau….?

(TOR-04-99)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s