Kecutnya Ketiak

siluet_33

Bersikap adalah menunjukkan sikap. Baik buruknya sikap dapat dinilai darimkonsekuensi si pemilik sikap terhadap perilakunya. Sikap baik belum tentu sanggup direalisasikan secara murni oleh seseorang. Maka ia akan terjebak pada kenyataan bahwa ia tidak dapat bersikap.

Wajar kalau sikap, bersikap, atau apapun namanya, akan membuat bingung jika harus dibeberkan denga arti harfiah. Seseorang yang punya sikap, bukan berarti sikapnya baik. Seseorang yang tidak bersikap, bukan berarti ia bisa bersembunyi dari ketidaksanggupannya bersikap.

Kalau seseorang sudah mengeluarkan kata-kata dari mulutnya, sebagai sebuah bentuk sikapnya pada fenomena yang ada, adalah harus (kalau tak mau dibilang wajib) orang tersebut berperilaku sesuai dengan apa yang dikatakannya. Kalau ia bilang ember harus diisi air, maka sewajarnya ia juga mengisi setiap ember miliknya dengan air. Jika ia menyatakan rumah harus dicat dengan warna cerah, adalah sah jika rumahnya juga dicat dengan warna cerah. Atau lebih mudah kita nyatakan bahwa apa yang dikatakan memang sudah dilakukan.

Akan tetati (tetapi maksudnya….), jika kita melihat seseorang ataupun sekelompok orang yang dengan berwibawa menyatakan, “Kita harus menyampaikan yang benar itu benar, yang salah itu salah”, di hari berikutnya justru ia menekuk lutut untuk menyatakan kebenaran hanya karena sungkan, takut, ataupun toleransi, gelar apa yang pantas kita sandangkan kepadanya? Tidak bersikap, tidak mempunyai sikap, tak tahu sikap, atau mungkin pengecut?

Bukan berniat mencerca, protes, ataupun antipati terhadap nilai manusiawi dari seseorang. Tapi, adalah kenyataan bahwa sudah terlalu banyak orang yang berlaku tak sesuai dengan apa yang dikatakan lewat mulut. Sudah terlalu keruh dunia ini diisi oleh orang-orang yang hanya ingion dibilang “top” padahal dia “down”. Bilang berani, tapi tak berani. Bilang bersikap, tapi tak punya sikap. Bilang manis, tahunya kecut.

Dari lingkup regional, lokal, sampai dunia, kita dapat menyaksikan betapa hebatnya orang-orang yang berdiri tegak di podium kejayaan, kedigdayaan. Mereka melimpahkan kata-kata dalam mjulutnya dengan bunyi sirine perang melawan kebathilan. Dan mereka sekaligus mengumandangkan pernyataan-pernyataan yang justru menunjukkan bahwa, orang memang paling pintar bicara, tapi mana prakteknya? Katanya harus lari, kenapa jalan kaki. Katanya mau ngasih buah, kenapa yang dikasih Cuma biji.

Yah…, memang lain kata lain praktek tidak dapat disalahkan. Orang kan manusia. Yang kadang menemukan kekhilafannya. Yang kadang tak mengira kenyataan terus berubah. Yang tak mengira bahwa dirinya dapat menjadi pemberani, dapat juga jadi pengecut, dapt juga tak punya sikap, bahkan dapat menjadi penipu. Jadi, juga jangan disalahkan kalau saja seorang pemuda berumur 28 tahun berkata, “Pengecut itu tak punya sikap, penipu berarti tak punya sikap, dan tak punya sikap berarti juga menipu”. Entah apa artinya, tak usahlah dipersoalkan. Karena jangan-jangan pemuda itu juga pengecut. Siapa tahu? Ketiak saja baunya kecut…

(TOR-05-99)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s