Workshop Kecil di Bukit Berkabut

Tiba-tiba saja, Joko Dolok, seorang rekan yang juga fotografer dari Forum Kreativitas (FOK’R), organisasi berbasis dunia kreatif, menelpon saya. Ia mengundang untuk ikut hadir dalam acara pelantikan anggota organisasi tersebut sekaligus bicara-bicara (sharing) seputar perkembangan dunia kreatif, tanggal 13, 14 dan 15 Januari 2012. Lalu beberapa waktu kemudian, seorang rekan lain yang juga dalam wadah yang sama, Adi Prianda mengirim pesan seluler yang bunyinya, “Ente siap ya, Sabtu tanggal 14 Januari, ngisi materi desain, jam 1 – 3 siang”. Kontan saja saya respon dengan cepat, “Oke, tapi karena kalau workshop desain persiapannnya agak berat, bagaimana kalau diganti saja dengan obrolan seputar dunia kreatif secara umum? ”. Dan akhirnya kami sepakat.

Tepat pukul 7 pagi, Sabtu, 14 Januari 2012, saya ditemani rekan-rekan penggiat kreatif yang juga merupakan personil FOK’R, Chanang (script writer), Adi Prianda (fotografer), dan Gatot B.D. (graphic designer, fotografer), berangkat menuju sebuah penginapan berbukit di Mega Mendung, Puncak, Jawa Barat. Di sanalah tempat akan dilaksanakan sharing dan workshop bersama personil-personil FOK’R, terutama mereka yang tergabung sebagai peserta pelantikan anggota.  Sekitar pukul  9 pagi kami sampai di lokasi dengan sambutan hujan rintik-rintik dan kabut pagi. Lalu, beberapa cangkir kopi panas-pun tersaji. Sebuah suasana yang “mahal”. Tak lama kemudian beberapa rekan dari media datang. Setelah terlibat obrolan hangat sambil ngemil snack yang tersedia, di antara mereka ada yang harus kembali bertugas ke Jakarta.

Jelang waktu tengah hari, sharing & workshop yang harus saya pandu-pun dimulai. Dibuka oleh rekan Adi, lalu sayapun mulai menyampaikan bahan obrolan yang sudah di-sounding sebelumnya, Temanya : “Industri kreatif hari ini dan masa datang”. Dalam sesi awal, obrolan dimulai dari tinjauan historis diakuinya bidang kreatif sebagai sebuah industri. Dari transformasi  ekonomi berbasis agraris ke eknonomi berbasis industri. Dari pemberdayaan sumber daya alam ke pemberdayaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan tentu di dalamnya juga terkandung pengetahuan-pengetahuan umum mengenai bidang-bidang yang kini diakui sebagai bagian dari industri kreatif, seperti: musik, fotografi, website, video, film, seni pertunjukan, penerbitan, desain, arsitektur hingga riset.

Setelah mendeskripsikan beberapa kondisi industri kreatif yang kini sedang berjalan, pembicaraan mulai diarahkan ke kondisi masa depan. Dimana diperlukannya insan-insan kreatif berjiwa entrepreneur yang akan memberikan banyak kontribusi bagi pembangunan ekonomi. Sehubungan dengan pemanfaatan teknologi dan ilmu pengetahuan, juga tentunya sumberdaya manusia, maka inovasi adalah keperluan yang harus terus didorong produktifitasnya. Bentuk-bentuk kreatifitas baru harus terus dilahirkan. Yang tidak “merongrong” sumberdaya alam yang makin terbatas, yang makin berfikir efesiensi energi, dan tentunya biaya.

Lalu, dengan mengacu pada cepatnya perkembangan dunia digital, proses kreatif diakui banyak terbantu dengan hadirnya kemudahan-kemudahan. Menyadari bahwa kondisi hari ini adalah eranya informasi, maka banyaknya perubahan bentuk informasi dari atom menjadi bit menjadi perhatian pokok. Walaupun masih banyak informasi yang diterima masih berbentuk atom, seperti bentuk cetak dari surat kabar, buku, majalah, tabloid, tapi proses pembuatannya kini sudah berbasis bit. Dari pengumpulan data, foto dan gambar, layout, hingga pra produksi sebelum diaplikasikan pada kertas cetak, semua sudah terdigitalisasi. Pengiriman data dari luar kota, tidak lagi harus melalui bentuk nyata berupa benda yang harus dikemas lalu diposkan (atau masuk dalam paket titipan kilat). Tapi sudah melalui pengiriman dengan menggunakan proses serba komputasi. Email, cloud computing, hingga bentuk-bentuk komunikasi ringan via selular seperti chatting ataupun sms dan mms.

Beberapa gambaran makin digitalnya beberapa segi kehidupan di antaranya diberikan contoh, mesin penyaji kopi di gerai-gerai yang sering menjadi tempat “nongkrong”, kini tinggal pilih: jenis, ukuran. Sekali tekan, semua sesuai pesanan. Atau booming tablet PC dengan touchscreen dan swipe style nya. Satu perangkat menyediakan banyak kemudahan. Terhubung dengan internet, menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan, bermain game, hingga belanja. Seperti yang kini sudah mulai banyak diaplikasikan, yaitu digital magazine, bentuk penerbitan dengan basis digital ini, dijual dengan harga jauh lebih murah dari harga versi cetak.

Juga diakui, dengan laju perkembangan yang begitu cepat dari teknologi informasi, maka hampir semua produk-produk kreatif menjadi bagus. Dengan melakukan riset dengan serach engine saja, seorang fotografer dapat melihat hasil-hasil karya fotografi tingkat dunia yang dapat dijadikan acuan berkarya. Atau bermacam-macam tutorial desain yang tinggal “click” sudah didapatkan detailnya. Lalu mengemukalah tips & trick bagaimana mencuri perhatian dalam berkarya kreatif di antara makin banyaknya karya/produk kreatif yang semua berlomba-lomba “mempercantik diri” untuk mendapat perhatian publik. Selain menghasilkan inovasi-inovasi, perlu juga insan kreatif yang sudah mengkonsentrasikan dirinya pada satu bidang, mempelajari bidang-bidang lain yang berhubungan. Seorang graphic designer perlu mengetahui ilmu marketing, fotografi, hingga bisnis. Seorang fotografer perlu mempelajari ilmu periklanan, tata letak hingga manajemen. Begitu pula dengan bidang-bidang lain.

Setelah sesi sharing, maka workshop dimulai. Mengambil sample produk kreatif berupa majalah, peserta dibagi beberapa kelompok. Setiap kelompok diberikan tantangan untuk merancang penerbitan majalah, dari nama, perwajahan, hingga penulisan judul. Dari sini, sudah ada beberapa unsur kreatif yang masuk dalam kajian. Konsep kreatif, desain, fotografi, copywriting hingga kemampuan memperesentasikan proposal. Dengan tim penilai dari unsur internal organisasi (FOK’R) yang bersama saya berangkat dari Jakarta, Chanang dan Gatot B.D, ditambah dengan Eko HC (video editor). Setiap kelompok mendapat kesempatan mempresentasikan hasil mereka sekaligus didebat oleh peserta lain. Sesi workshop ini akhirnya ditutup sekitar pukul 13.00 siang dengan pengumuman hasil penilaian dan kesimpulan yang menjadi masukan berarti bagi semua peserta.

Begitulah yang berjalan di Sabtu, 14 Januari 2012. Alhamdulillah, amanat yang diembankan kepada saya berjalan dengan baik. Terlebih dengan sambutan dan antusiasme anggota FOK’R yang sudah sejak Jumat, 13 Januari 2012 berada di sana, maupun yang datang pada hari yang sama. Majulah terus FOK’R, berkreatifitaslah tanpa henti, dan tentunya: majulah dunia kreatif Indonesia!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s