Workshop & Sharing bersama Majalah Kabare

Awalnya saya dipertemukan oleh jurnalis senior Burhan Abe dengan tim manajemen majalah Kabare, bapak Eddy Purjanto dan ibu Ida Susanti. Setelah melakukan diskusi beberapa jam tentang segala hal mengenai niatan manajemen untuk melakukan rebranding dan upgrading, lalu kami sepakat untuk saling berkomunikasi agar dalam waktu dekat bisa dilakukan workshop  dan sharing session di redaksi Kabare, Jogjakarta.

Tak lama waktu berselang, bapak Eddy menghubungi saya lewat pesan seluler. “Mas Yogas, apakah kira-kira ada waktu sengang antara tanggal 31 Maret – 3 April?”. Saya jawab, “Ya, sejauh ini saya belum ada rencana kemana-mana”. Dan setelah melalui  diskusi via saluran seluler itu, kami sepakat bahwa saya akan menyambangi redaksi Kabare, Jogjakarta, pada 3 April 2012, untuk mengadakan workshop & sharing.

Hari keberangkatanpun tiba, tepat pukul 07.40 wib dari Jakarta saya menuju kota dengan julukan Kota Pelajar. Dan sesampainya di Jogja, saya sudah dijemput manajer artistik majalah Kabare, Sutoto, atau biasa disapa mas Totok. Lalu kami sejenak mencari sarapan ringan, dan lanjut menuju redaksi Kabare, di kawasan Baciro. Setelah melakukan persiapan, maka satu-persatu teman-teman dari majalah Kabare dan Cekidot (satu grup dengan majalah Kabare), dari artisitik, redaksi, hingga fotografi, menampakkan diri untuk bersama mengikuti workshop sekaligus diskusi mengenai desain majalah, dan dunia permediaan pada umumnya. Setelah dibuka oleh pemimpin redaksi Kabare, bapak Danang Wibowo, sesi pertama-pun dimulai.

Pada sesi pertama ini pembahasan terfokus pada bagaimana meneropong perkembangan visual atau perwajahan media, khususnya majalah dengan kategori hi-quality magazine. Dengan memberi contoh beberapa media yang sudah pernah saya bidani, baik public media maupun inhouse media, tergambar beberapa design style dan layout yang intinya lebih stylish, lebih lentur, dan tidak terkesan monoton. Begitupula dengan gaya foto yang diakui dengan maraknya digitalisasi tren fotografi sangat cepat berubah. Dari gaya Lomo yang kembali mengemuka, hingga gaya High Dynamic Range yang saat ini sedang banyak menyita perhatian.

Unsur-unsur grafis-pun tak lepas dari sorotan. Dalam rangka membuat perwajahan media menjadi dinamis, disepakati perlunya elemen-elemen tambahan yang sebenarnya sederhana tapi banyak mengesankan perbedaan pada desain dan layout. Contoh: tanda kutip, outline, multiple coloumn style,  header style, hingga penentuan fonts yang mengacu pada kekinian. Juga kemampuan tim artistik bersama redaksi merumuskan media sebagai produk kreatif yang mapan dan siap disajikan kepada publik. Dari copywriting, news value, pewarnaan, hingga digital imaging dan tentunya komposisi.

Selain itu, untuk kesekian kalinya mengemuka tentang pentingnya melakukan riset , baik dari segi visual maupun membaca gejala pasar sesuai segmen dan target yang telah ditentukan manajemen. Begitupula dengan pembahasan asumsi-asumsi yang berkembang berkenaan dengan potensi  perilaku pembelian media di masyarakat umum. Sehingga pengemasan produk media dapat mendekati targetnya dengan tepat dan diharapkan juga cepat.

Sesi pertama inipun disudahi bertepatan dengan waktu makan siang. Sajian gudeng khas Jogja-pun tersaji. Makanan khas ini memang tak pernah lekang di makan waktu, di antara berbagai jenis makanan instan modern. Tetap nikmat dan mengundang selera, setidak-tidaknya bagi saya.

Lepas waktu makan siang, sesi kedua dimulai. Kali ini pembahasan banyak terfokus pada aplikasi komputer untuk mendukung kinerja dan hasil optimal produksi. Tentunya penggunaan software yang tepat bagi kebutuhan masing-masing bidang adalah utama. Dengan diawali sedikit diskusi tentang komparasi  perilaku bisnis permediaan antara di Jogja dengan di ibukota, lalu masuklah pada pengupasan secara spesifik berkenaan dengan aplikasi komputer.

Dalam kesempatan ini saya menyajikan pembahasan dari sudut pandang umum atau permukaan dari software Adobe Indesign yang memang saat ini bisa dikatakan menjadi idola para desainer maupun layouter majalah. Fungsi umum, kemudahan-kemudahan berkenaan dengan pra produksi hingga produksi, dan tentunya beberapa tip yang bersifat makro seputar desain dan tata letak.

Setelah itu, saya juga membahas mengenai satu plugins pengolahan foto instan yang bisa direkomendasikan  untuk dimasukkan pada software adobe Photoshop, yaitu Alien Skin Exposure dan Topaz Labs Adjust. Bagaimana plugins ini dapat membantu pengolahan warna dan tone pada foto-foto yang telah dihasilkan seorang fotografer. Dengan preset berbagai style yang bisa dipilih, tampilan foto yang terkesan datar dapat dikembangkan menjadi foto yang stylish.

Tak terasa waktu sudah menjelang sore, dan kami yang terlibat dalam workshop & sharing inipun menyudahinya. Memang waktu sehari terasa pendek untuk berdiskusi panjang. Tapi setidak-tidaknya kami sudah saling membuka wawasan agar tetap berkarya dengan tak lepas dari segala perkembangan di dunia kreatif itu sendiri seiring zaman yang terus bergerak. Sayapun kemudian diantar ke penginapan yang sudah disiapkan di area Gowongan,  jalan Mangkubumi.  Dan keesokan harinya dijemput kembali untuk melakukan evaluasi sembari menyantap sarapan di Soto Kadipiro yang melegenda itu, bersama pihak manajemen Kabare, dalam hal ini bapak Eddy yang ditemani mas Totok, selaku manajer artsitik. Lalu setelah itupun sayapun harus segera meluncur ke airport untuk kembali menuju Jakarta.

Terima kasih majalah Kabare telah bersedia memberi kepercayaan kepada saya untuk menyajikan workshop & sharing, dan terima kasih Jogjakarta, yang dengan keramahannya membuat saya dapat menikmati tugas dan menjalankan amanat dengan baik. See you!

Advertisements

GRAND SCENARIO “TRIPLE DOUBLE U”

scenicreflections.com

Tak pelak, kemajuan teknologi informasi bisa dikatakan belum ada yang sanggup membendung. Dari periode ke periode, terasa sekali banyaknya kemajuan yang tak terkira. Hitung saja dari era penulisan di batu hingga sandi dan simbol sampai tablet pc atau smartphone. Luar biasa! Saya coba flashbacksekitar 20 tahun yang lalu, sama sekali di kala itu tidak membayangkan bahwa handphone akan menjadi kebutuhan primer seperti saat ini. Begitupula dengan internet, yang pertumbuhan tingkat kebutuhannya sudah melampaui hitungan dari tahun ke tahun.

Dari uraian singkat yang memang belum menyentuh hal-hal mikro itu, saya punya analisa pribadi. Yang tidak ada kewajiban bagi khalayak umum untuk meng-iya-kannya. Karena analisa ini sangat subyektif berdasarkan fantasi-fantasi yang merngurut hal-hal kejadian masa lalu, masa kini, hingga bayangan masa datang.

Begini. Hakikatnya (menurut saya) jalannya hidup itu adalah perjalanan ke titik nol. Diawali dari nol menuju nol. Dari tiada menjadi ada, lalu kembali lagi menjadi tiada. Kalau boleh disketsakan, skemanya mirip seperti gambar balon tiup yang menggelembung, lalu kita ambil awal dari  pangkal tempat balon ditiup kemudaian menuju area gelembung teratas, dan akhirnya turun lagi menuju pangkal.

Sebuah benda, ada karena proses penciptaan dari tiada, lalu setelah difungsigunakan hingga mencapai titik maksimal, ia akan perlahan maupun cepat menjadi tak berfungsi guna, dan akhirnya bernilai nol. Atau yang paling gampang dan sangat harfiah. Manusia, dari tiada, lalu dilahirkan kemudian menjalani proses hidup hingga melewati masa puncak, entah di usia berapa, lalu bisa perlahan-lahan ataupun secara tiba-tiba, menjadi tiada. Begitupula bisa lihat pepohonan. Dari tiada, lalu ditanam atau tertanam benih-benihnya hingga ia tumbuh dan produktif menghasilkan buah sampai masa yang tak bisa diprediksi, kemudian perlahan mengering hingga mati, dengan proses alami maupun kesengajaan oleh anggota alam lainnya, seperti manusia ataupun hewan.

Lalu apa hubungannya dengan kemajuan teknologi ataupun teknologi informasi? Seperti telah disinggung, jaman dulu kala kebutuhan menyampaikan informasi tidak seagresif masa kini. Baik dengan penyampaian simbol  atau dibawanya surat tertulis oleh burung kepada penerima informasi dan bentuk-bentuk lainnya. Lalu seiring perjalanan waktu bentuk-bentuk ataupun cara-cara itu terus berkembang. Hingga penemu-penemu brilian menemukan cara-cara yang lebih cepat dan efektif. Ditemukannya mesin sandi morse, telepon maupun telegrap harus diakui merupakan salah satu catatan sejarah terbaik dalam kemajuan teknologi informasi.

Dan… lihatlah hari ini! Handphonesmartphone, tablet pc, internet,atau smart tv adalah benda-benda yang mendominasi. Betapa kebutuhan dan agresifitas berinformasi begitu luar biasa. Dan itupun terus berkembang. Dengan keluarnya model-model baru yang bertujuan sama: mempercepat, mempermudah. Hingga seluruh pelosok dunia dapat bertukar informasi dengan hitungan kecepatan cahaya. Pertanyaan yang mengganggu saya adalah, apakah hal ini merupakanh puncak peradaban manusia hingga nanti akan mulai menuju kemunduran, atau masihkah akan terus bergerak maju sampai pada waktu, yang bisa jadi saya sendiri belum tentu mengalaminya?

celebritywonder.ugo.com

Beberapa kali saya melihat film serial di televisi maupun layar lebar yang terkesan sekedar khayalan. Seperti Buck Rogers, Star Wars, Star Trek, Mad Max, hingga Lord of the Rings. Mengapa tiba-tiba saya seperti tersadarkan, bahwa arah perjalanan hidup ini menuju ke arah yang ditunjukkan dalam film-film tersebut? Serba canggih, komunikasi serba virtual dan sekali sentuh, kehancuran kota-kota besar karena peperangan antar suku, antar wilayah, antar planet hingga antar galaksi, dan kemunculan peradaban baru dengan lahirnya spesies-spesies baru makhluk hidup, termasuk manusia dengan bahasa-bahasa varian barunya. Dari telanjang menjadi telanjang, dari biadab menjadi biadab, dari kanibal menjadi kanibal, dari primitif menjadi primitif. Dari tulisan di daun, batu dan kayu menjadi tulisan di atas media yang sama lagi, daun, batu dan kayu.

Kok bisa saya berpikir seperti itu? Coba lihat. Belahan dunia manapun kini dengan mudah bersitegang, berkonflik, saling menyerang. Kelompok dengan kelompok, komunitas dengan komunitas, sampai Individu dengan individupun juga begitu. Apa pasal? Salah satunya: makin cepat dan mudahnya laju informasi. Saat ini, adu domba hanya pekerjaan sekali sentuh. Tidak adanya lagi tembok-tembok penghalang untuk mengatakan segala yang ada di benak, itu hanya hal sederhana. Bahkan dengan teknologi informasi yang ada, tak ada lagi yang bisa mencegah orang lain untuk mengorek-ngorek rahasia. Bahkan rahasia negara sekalipun, termasuk mengorek brankas bank!

Dari sini saya lalu berpikir, penemuan brilian apa yang bisa menjadi catatan penting setelah para penemu pendahulu menemukan benda-benda dasar teknologi informasi? Ya!! Triple double U alias www (World Wide Web). Lalu saya coba bandingakan dengan proses kemajuan yang ada dan telah terjadi. World Wide Web (www) yang hingga kini telah menggeser perilaku berinformasi, telah banyak mempengaruhi berbagai sisi kehidupan. Baik keseharian hingga ekonomi bisnis. Termasuk munculnya jargon “Go Green” yang menurut saya lebih kepada doktrin ketimbang gerakan. Karena sebenarnya yang terjadi hanya pergeseran cara orang dalam menggunakan produk yang sarat kandungan hasil alam. Contoh; dari kertas menjadi online. Padahal pembatasan penggunan kertas dengan alasan makin menipisnya ketersediaan kayu beserta pepohonan, tak pernah dibandingkan langsung dengan seberapa dahsyat eksplorasi sumber daya alam yang digunakan untuk menghasilkan listrik yang dibutuhlkan dalam dunia online.

Selanjutnya dengan keberhasilan pergeseran perilaku tersebut, “Triple double U” berkembang menjadi World Without Wire (dunia tanpa kabel), dimana bentuk-bentuk perpindahan inforamsi semua mengarah pada komunikasi nirkabel. Tengok saja benda-benda yang telah disebut, handphone hingga tablet pc.Saking cepatnya perkembangan teknologi informasi ini, pada sebuah forum resmi seorang konsultan multimedia marketing pernah mengemukakan, bahwa sudah ada website khusus pemantau suratkabar cetak yang tutup atau bangkrut.Tapi ia lupa, bahwa ternyata belum ada website khusus pemantau media online yang berkondisi sama, mati. Dan saya yakin, justru jumlahnya luar biasa banyak, karena kematiannya pasti semudah membuatnya.

blogcdn.com

Kemudian”Triple double U” semakin berkembang menjadi World Without Wall (Dunia Tanpa Dinding), bahwa tak ada lagi dinding penyekat antar individu, wilayah, dan tentunya antar belahan dunia. Akses informasi dengan mudah didapat dengan internet dan segala turunan produknya: dari website, weblog hingga social media. Akses yang sangat terbuka dan dapat dibuka dengan cara legal maupun ilegal adalah yang terjadi dimanapun saat ini. Ingat dengan kasus Wikileaks? atau di-hack-nya website Mabes POLRI? itu hanya contoh di permukaan. Atau mau bicara content? seorang bocah SD yang baru hitungan bulan mengenal dunia website, sudah fasih mencari dimana ia bisa melihat perilaku hubungan badan antara dua orang dewasa. Ya, pornografi menjadi mudah terakses oleh siapapun!

Lalu yang kini mulai menggejala dan sedang dalam proses menjadi habit, World Wide War!!! Perang yang berkecamuk diseantro dunia. Lihat people power di Mesir dan Libya, terdapat peran penting jejaring Twitter dan Facebook. Riot in London, dengan Balckberry Messenger dan Facebook, atau tweet war anntar selebritis Indonesia yang sudah di luar kewajaran. Luar biasa dahsyat! Inipun juga menggejala di tatanan hidup masyarakat yang tersederhana. Makin bebas berbicara dengan social media membuat tumbuhnya kembali narsis kedaerahan yang menjadi rasis terselubung. Lalu pemaksaan doktrin komunitas yang bebas bergentayangan menyerang siapapun tanpa rambu-rambu, atau info-info sarat kepentingan pribadi yang membuat orang mengkerutkan dahi karena semua merasa punya hak berbicara. Demokrasi, begitu alibi yang jadi tren terkini. Padahal saya sendiri belum menemukan literatur yang mengatakan bahwa “mazhab” yang kini bersentral di negeri yang ditemukan Colombus itu adalah yang paling baik bagi tatanan kehidupan dunia. Padahal nyatanya hanya membuat individu semakin “kerdil” dengan artian semakin sensitif, emosional, melakonis, dan cenderung over pride.

up.neutek.ned

Kemudian apa selanjutnya? Sayapun hanya bisa berandai-andai, bahwa setelah peperangan terjadi dan memuncak, lalu terwujudlah World Without Wealth, dunia tanpa kekayaan. Semua kekayaan bumi habis tak tersisa, hancur, porak poranda, kembali menjadi nol! Dan inilah yang juga sejalan dengan hakikat jalannya hidup, dari nol menunju nol. Justru makin agresif manusia menuju kemajuan untuk mencapai puncak peradaban, makin dekatlah dengan perjalanan ke titik nol.

Dan itu pasti, karena memang begitulah jalur hidup ini semua akan kembali pada titik tiada. Tinggal manusia yang memutuskan, apakah terus ingin terburu-buru mencapainya, seperti makin terburu-burunya ingin mendapatkan informasi, maupun makin terburu-burunya berperikehidupan sehari-hari hingga merasa semua pekerjaan sebisa mungkin diselesaikan dengan cepat melebihi batas-batas yang sudah ada. Tak salah memang, jangankan bekerja, untuk berdoapun manusia selalu terburu-buru memohon permintaannya dikabulkan oleh Tuhan.

Bagaimanapun dalam hati kecil, saya tak ingin terbawa arus “Grand Scenario” ini. Walaupun kenyataannya, tak  bisa dihindari, harus mengikuti perkembangan yang ada. Yah…, setidak-tidaknya dengan uraian berdasarkan fantasi ini , minimal untuk saya pribadi dapat memberi batasan-batasan atau standar bagaimana menyikapi perkembangan teknologi, termasuk teknologi informasi. Karena tulisan yang saya tulis inipun jauh dari memenuhi syarat atau jauh memenuhi kelengkapan kaedah-kaedah dasar penulisan, apalagi studi pustaka maupun literatur.  Hanya sekedar ber-ide tiba-tiba, saat menyeruput secangkir kopi hitam… slurp..ahhh…..

Workshop Kecil di Bukit Berkabut

Tiba-tiba saja, Joko Dolok, seorang rekan yang juga fotografer dari Forum Kreativitas (FOK’R), organisasi berbasis dunia kreatif, menelpon saya. Ia mengundang untuk ikut hadir dalam acara pelantikan anggota organisasi tersebut sekaligus bicara-bicara (sharing) seputar perkembangan dunia kreatif, tanggal 13, 14 dan 15 Januari 2012. Lalu beberapa waktu kemudian, seorang rekan lain yang juga dalam wadah yang sama, Adi Prianda mengirim pesan seluler yang bunyinya, “Ente siap ya, Sabtu tanggal 14 Januari, ngisi materi desain, jam 1 – 3 siang”. Kontan saja saya respon dengan cepat, “Oke, tapi karena kalau workshop desain persiapannnya agak berat, bagaimana kalau diganti saja dengan obrolan seputar dunia kreatif secara umum? ”. Dan akhirnya kami sepakat.

Tepat pukul 7 pagi, Sabtu, 14 Januari 2012, saya ditemani rekan-rekan penggiat kreatif yang juga merupakan personil FOK’R, Chanang (script writer), Adi Prianda (fotografer), dan Gatot B.D. (graphic designer, fotografer), berangkat menuju sebuah penginapan berbukit di Mega Mendung, Puncak, Jawa Barat. Di sanalah tempat akan dilaksanakan sharing dan workshop bersama personil-personil FOK’R, terutama mereka yang tergabung sebagai peserta pelantikan anggota.  Sekitar pukul  9 pagi kami sampai di lokasi dengan sambutan hujan rintik-rintik dan kabut pagi. Lalu, beberapa cangkir kopi panas-pun tersaji. Sebuah suasana yang “mahal”. Tak lama kemudian beberapa rekan dari media datang. Setelah terlibat obrolan hangat sambil ngemil snack yang tersedia, di antara mereka ada yang harus kembali bertugas ke Jakarta.

Jelang waktu tengah hari, sharing & workshop yang harus saya pandu-pun dimulai. Dibuka oleh rekan Adi, lalu sayapun mulai menyampaikan bahan obrolan yang sudah di-sounding sebelumnya, Temanya : “Industri kreatif hari ini dan masa datang”. Dalam sesi awal, obrolan dimulai dari tinjauan historis diakuinya bidang kreatif sebagai sebuah industri. Dari transformasi  ekonomi berbasis agraris ke eknonomi berbasis industri. Dari pemberdayaan sumber daya alam ke pemberdayaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan tentu di dalamnya juga terkandung pengetahuan-pengetahuan umum mengenai bidang-bidang yang kini diakui sebagai bagian dari industri kreatif, seperti: musik, fotografi, website, video, film, seni pertunjukan, penerbitan, desain, arsitektur hingga riset.

Setelah mendeskripsikan beberapa kondisi industri kreatif yang kini sedang berjalan, pembicaraan mulai diarahkan ke kondisi masa depan. Dimana diperlukannya insan-insan kreatif berjiwa entrepreneur yang akan memberikan banyak kontribusi bagi pembangunan ekonomi. Sehubungan dengan pemanfaatan teknologi dan ilmu pengetahuan, juga tentunya sumberdaya manusia, maka inovasi adalah keperluan yang harus terus didorong produktifitasnya. Bentuk-bentuk kreatifitas baru harus terus dilahirkan. Yang tidak “merongrong” sumberdaya alam yang makin terbatas, yang makin berfikir efesiensi energi, dan tentunya biaya.

Lalu, dengan mengacu pada cepatnya perkembangan dunia digital, proses kreatif diakui banyak terbantu dengan hadirnya kemudahan-kemudahan. Menyadari bahwa kondisi hari ini adalah eranya informasi, maka banyaknya perubahan bentuk informasi dari atom menjadi bit menjadi perhatian pokok. Walaupun masih banyak informasi yang diterima masih berbentuk atom, seperti bentuk cetak dari surat kabar, buku, majalah, tabloid, tapi proses pembuatannya kini sudah berbasis bit. Dari pengumpulan data, foto dan gambar, layout, hingga pra produksi sebelum diaplikasikan pada kertas cetak, semua sudah terdigitalisasi. Pengiriman data dari luar kota, tidak lagi harus melalui bentuk nyata berupa benda yang harus dikemas lalu diposkan (atau masuk dalam paket titipan kilat). Tapi sudah melalui pengiriman dengan menggunakan proses serba komputasi. Email, cloud computing, hingga bentuk-bentuk komunikasi ringan via selular seperti chatting ataupun sms dan mms.

Beberapa gambaran makin digitalnya beberapa segi kehidupan di antaranya diberikan contoh, mesin penyaji kopi di gerai-gerai yang sering menjadi tempat “nongkrong”, kini tinggal pilih: jenis, ukuran. Sekali tekan, semua sesuai pesanan. Atau booming tablet PC dengan touchscreen dan swipe style nya. Satu perangkat menyediakan banyak kemudahan. Terhubung dengan internet, menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan, bermain game, hingga belanja. Seperti yang kini sudah mulai banyak diaplikasikan, yaitu digital magazine, bentuk penerbitan dengan basis digital ini, dijual dengan harga jauh lebih murah dari harga versi cetak.

Juga diakui, dengan laju perkembangan yang begitu cepat dari teknologi informasi, maka hampir semua produk-produk kreatif menjadi bagus. Dengan melakukan riset dengan serach engine saja, seorang fotografer dapat melihat hasil-hasil karya fotografi tingkat dunia yang dapat dijadikan acuan berkarya. Atau bermacam-macam tutorial desain yang tinggal “click” sudah didapatkan detailnya. Lalu mengemukalah tips & trick bagaimana mencuri perhatian dalam berkarya kreatif di antara makin banyaknya karya/produk kreatif yang semua berlomba-lomba “mempercantik diri” untuk mendapat perhatian publik. Selain menghasilkan inovasi-inovasi, perlu juga insan kreatif yang sudah mengkonsentrasikan dirinya pada satu bidang, mempelajari bidang-bidang lain yang berhubungan. Seorang graphic designer perlu mengetahui ilmu marketing, fotografi, hingga bisnis. Seorang fotografer perlu mempelajari ilmu periklanan, tata letak hingga manajemen. Begitu pula dengan bidang-bidang lain.

Setelah sesi sharing, maka workshop dimulai. Mengambil sample produk kreatif berupa majalah, peserta dibagi beberapa kelompok. Setiap kelompok diberikan tantangan untuk merancang penerbitan majalah, dari nama, perwajahan, hingga penulisan judul. Dari sini, sudah ada beberapa unsur kreatif yang masuk dalam kajian. Konsep kreatif, desain, fotografi, copywriting hingga kemampuan memperesentasikan proposal. Dengan tim penilai dari unsur internal organisasi (FOK’R) yang bersama saya berangkat dari Jakarta, Chanang dan Gatot B.D, ditambah dengan Eko HC (video editor). Setiap kelompok mendapat kesempatan mempresentasikan hasil mereka sekaligus didebat oleh peserta lain. Sesi workshop ini akhirnya ditutup sekitar pukul 13.00 siang dengan pengumuman hasil penilaian dan kesimpulan yang menjadi masukan berarti bagi semua peserta.

Begitulah yang berjalan di Sabtu, 14 Januari 2012. Alhamdulillah, amanat yang diembankan kepada saya berjalan dengan baik. Terlebih dengan sambutan dan antusiasme anggota FOK’R yang sudah sejak Jumat, 13 Januari 2012 berada di sana, maupun yang datang pada hari yang sama. Majulah terus FOK’R, berkreatifitaslah tanpa henti, dan tentunya: majulah dunia kreatif Indonesia!

VISUAL DESIGNER NONGKRONG BARENG VOL. 4

Menutup akhir tahun, acara “Visual Designer Nongkrong Bareng” kembali digelar pada Minggu, 18 Desember 2011. Masih tetap dengan style yang sama. Home to home event. Kali ini XODBOX Grpahic studio menjadi tuan rumahnya. Studio yang digawangi antara lain oleh Sapta “Bozo”, Bambang Suwito, Fajar, dan David ini,  berdomisili di kawasan Ciganjur yang penuh pepohonan. Acara digelar agak berbeda dari biasanya. Selain menu standard, workshop dan diskusi, kali ini acara “nongkrong bareng” juga menyajikan pameran mini dengan tema “Visual bebas bicara, bebas bicara visual”.  Pameran mini yang diisi hasil-hasil karya praktisi visual ini ditujukan untuk saling berbagi ilmu dan lebih mendorong semangat berkreatifitas dari para praktisi tersebut, dan tentunya agar saling mengetahui potensi yang ada hingga dapat berkembang biak menjadi jejaring kreatif yang solid. Terpampang 45 frame hasil karya visual dari 15 penggiat visual. Dari essai fotografi, packaging design, mobile ad, corporate design, print ad, digital imaging, hingga komik, animation project dan karikatur.

Selain diisi dengan pameran mini, acara kali ini juga mengikutsertakan praktisi dunia kreatif yang makin beragam. Graphic designer, layouter, kartunis, video editor, fotografer, web programmer, hingga print production specialist, dan dari praktisi event organizer. Seperti biasa, sesi pertama dilangsungkan workshop yang kali ini membahas komparasi image colour editing tools. Dan pada kesempatan ini Ferry “Pepenk” Ardianto, yang berprofesi sebagai konsultan desain dan freelancer, yang menyampaikannya.

Pembahasan difokuskan pada studi banding umum 3 tools untuk editing warna foto. Yaitu Capture One, Adobe Lightroom, dan adobe Photoshop default. Masing-masing tools dikupas secara permukaan. Baik kelebihan maupun kekurangan masing-masing. Diberikan juga  contoh foto yang hanya bersumber dari standard spot shot yang ternyata dapat di-edit dengan tidak memakan waktu lama. Hal ini diberikan contoh mengingat banyaknya tampilan foto bukan dari fotografer profesional atau spesialis yang terbilang tidak ideal dalam pewarnaan. Baik pada produk printing maupun web.

Sesi ke 2 dimulai sekitar setelah maghrib dan setelah jamuan makan malam. Dalam sesi ini dilakukan diskusi yang menyambung dari workshop di sesi 1. Yaitu “pertarungan” idealisme visual antara hobbiest fotografi, fotgrafer professional, creative designer, & creative management. Berdasar dari ukuran taste yang hingga kini memang terlahir tak mempunyai standard pasti, banyak terjadi  perbedaan-perbedaan dalam memandang sebuah obyek visual. Masing-masing memang mempunyai cara pandang beda. Dan kecenderungan dominasi asumsi memang sangat kuat. Di satu sisi eksekutor foto memiliki keinginan untuk menampilakan karya seperti yang ada dalam pemikirannya. Kemudian para ekskutor desain juga mempunyai cara pandang berdasarkan hasil akhir produksi, hingga kadang kala hasil kesepakatan justru bisa menjadi mentah di mata creative management. Dan lagi-lagi semua masih dalam kategori asumsi, hingga akhirnya yang terjadi adalah pertarungan asumsi dalam mengapresiasi karya visual.

Lalu diskusipun merambah bidang lain yang juga masih berkorelasi kuat dengan tema. Sebuah kasus yang diungkap oleh salah seorang peserta memaparkan bagaimana dalam proses penentuan jenis huruf (font) pada sebuah karya, dapat menjadi perdebatan panjang. Pemilihan font berdasarkan kapasitas seorang graphic designer seringkali tak mendapat “restu” dari creative management. Bahkan saat diadakan polling, hasil yang berpihak pada si desainer, tak kunjung juga mendapat persetujuan. Lalu apa yang harus dilakukan? Beberapa pandangan diungkapkan, bahwa dengan menggunakan studi literatur, riset, dan bahkan dengan menggunakan data empiris, hal-hal menyangkut pola pandang visual dapat menjadi kuat ketimbang hanya dengan menggunakan argumen berdasarkan asumsi. Mungkin tidak usah harus mencapai validitas dengan menggunakan riset mikro, cukup dalam tingkatan makro, hal-hal tersebut sudah dapat menjadi karya yang dapat dipertanggungjawabkan.

Akhirnya pada sesi ke 3 diisi dengan acara diskusi bebas. Dari sini para penggiat kreatif berbincang seputar hal-hal yang dapat dilakukan oleh hasil karya visual dalam rangka sumbangsihnya kepada masyarakat luas. Pembicaraan juga membahas bagaimana sebuah kegiatan seni visual kemasyarakatan bisa diusahakan mendapat perhatian dari masyarakat internasional, terlepas dari kemungkinan tidak adanya kepedulian yang sama dari dalam negeri. Tercetus wacana untuk melakukan edukasi berbagai bidang kemasyarakatan melalui seni visual yang dilakukan dengan metode “dari desa ke desa”. Metode yang diterjemahkan sementara sebagai bentuk gerliya visual ini memposisikan masayarakat dalam lingkup terkecil sebagai sasaran edukasi. Banyak hal yang bisa diperbuat untuk edukasi ini. Bidang kesehatan, narkoba, pendidikan, atau juga tentang kesadaran berdisiplin dalam berbagai bidang. Draft kasarnya, alangkah idealnya jika pameran bertema kehidupan masyarakat justru disajikan kepada masayarakat itu sendiri, jadi tidak hanya menjadikan mereka obyek visual yang hasilnya hanya digunakan sebagai hiburan mata kalangan yang sekedar bisa berdecak kagum atas hasil karya tersebut.

Komunitas visual designer ini memang bukan sebuah organisasi, yang otomatis juga tak memiliki strktur organisasi. Tapi, hal ini diyakini tidak akan menghalangi untuk dapat memberi atau bersumbangsih pada tatanan hidup sosial kemasyarakatan yang ideal. Yang jelas segala yang telah dilakukan dengan berpedoman pada kegiatan nirlaba selama ini, patut diberi apresiasi karena semua dilakukan dengan ikhlas, sukarela, dan semangat berbagi yang tinggi.

Mengutip dari teks yang tercantum dalam salah satu karya fotografi hasil jeperetan Anggri Sugiyanto, yang juga terpampang pada pameran mini di acara ini, “Kegembiraan ini jujur, walau tak di atas karpet beludru.” (.)

Berikut hasil karya visual yang dipampang pada “Pameran Mini” bertema “Visual bebas bicara, bebas bicara visual”

VISUAL DESIGNER NONGKRONG BARENG vol.3

Acara nongkrong bareng kali ketiga ini agak berbeda dengan biasanya. Selain dilaksanakan di saat bulan Ramadhan 1432 H, atau tepatnya 20 Agustus 2011, acara ini (walaupun terkesan mendadak dilaksanakan) sengaja dibuat juga untuk mendengarkan sekaligus membahas presentasi akhir dari seorang mahasiswa Institut Manajemen Telkom, Bandung yang kurang lebih satu setengah bulan melakukan kerja praktek/magang di Yogasdesign. Bertempat di Yogasdesign Studio, pada kesempatan kali ini hadir selain beberapa penggiat desain, juga hadir senior copywriter & jurnalis, Yadi Sastro, dosen dari Sekolah Tinggi Manajemen Industri, Ridzky Kramanandita, dan seorang jurnalis lepas, Teddy Matondang.

Pada kesempatan di acara “Nongkrong Bareng” , Gema, begitu mahasiswa itu biasa disapa, mendapat kesempatan untuk mempresentasikan ide desain berkaitan dengan produk kuliner dengan spesialisasi minuman jus buah. Dengan menggunakan nama “Fresh Juice”, presentasi desain mengedepankan ide untuk menjadikannya sebagai brand yang akan di franchise-kan.  Pembahasan mengenai presentasi yang disampaikan menyangkut banyak hal. Diantaranya mengenai logo, pewarnaan, ikon, hingga tata letak dan pemilihan jenis huruf serta pembahasan mengenai eksekusi produksi dari setiap desain yang diajukan. Di sisi lain, cara ataupun metode penyajian presentasi-pun sempat menjadi pembahasan mendalam, terutama mengenai dasar dari asumsi ataupun pendapat yang tercantum dalam presentasi. Dianjurkan kepada penyaji agar lebih menggali sumber-sumber pustaka untuk memperkuat segala hal yang akan disampaikan.

Perlu diketahui, Gema Ganeswara, nama mahasiswa magang ini, teracatat mulai 7 Juli hingga 20 Agustus 2011 ia melakukan kerja praktek di Yogasdesign. Selama kurun waktu itu, Gema melakukan hampir semua kegiatan kreatif yang biasa dilakukan di Yogasdesign. Dari meeting dengan klien, membuat konsep, riset, hingga eksekusi. Dengan bekal yang sudah didapatnya di kampus, ia coba menyelasaikan tugas-tugas yang diberikan. Selain itu, ia juga mendapat “bonus”, yaitu workshop beberapa spesialisasi bidang desain dengan para praktisi. Retouch foto oleh Hadi, desain website oleh Sapta “Bozo”, desain media cetak oleh Ferry “Pepenk”,  konsep promo & marketing tools oleh Gatot BD, dan digital charicature oleh Andri “Qplex”. Selain itu, ia juga berkesempatan berkunjung ke beberapa rekanan Yogasdesign, termasuk bersosialisasi dengan rekan-rekan di komunitas kreatif.

Setelah sesi presentasi selesai, maka acara ini dilanjutkan dengan sesi diskusi seputar permasalahn di industri kreatif. Untuk kali ini isu yang diangkat adalah: “Menyiasati gejala terpuruknya industri printing”.

Fakta bahwa perkembangan dunia digital bergerak sangat cepat, tak ada yang memungkiri. Hampir semua sisi dalam keseharian masyarakat modern sudah didigitalisasi, dan tentunya termasuk di dalamnya adalah informasi. Kebutuhan informasi yang cepat dan murah menjadi pendorong kuat makin tumbuhnya digitalisasi informasi. Perilaku publikpun ikut berubah, walaupun tidak secepat perkembangan teknologi digital itu sendiri. Salah satunya adalah makin ramainya gadget/produk tablet pc dan smartphone di tengah masyarakat yang tentu juga makin diminati. Simpel, multifungsi, handy, trendy, mobile supporting, dan yang jelas sangat mendukung aktifitas sehari-hari, baik bekerja maupun bersosialisasi. Sebut saja iPad berbasis IOS, GalaxyTab dengan platform Android, juga Playbook yang jadi andalan RIM, produsen BlackBerry.

Seiring dengan membanjirnya smartphone dan tablet pc itu, maka perilaku publikpun sudah mulai bergeser. Untuk membaca surat kabar harian, pembaca tidak perlu lagi membeli di loper ataupun di outlet. Cukup membeli e-paper (sitilah untuk suratkabar digital) via sambungan internet, dengan lebih murah, dan langsung download. Begitupula dengan majalah, tabloid, dan lainnya, semua tinggal klik, bayar, download. Simpel dan jelas lebih murah.

Memang perilaku seperti ini di Indonesia belum sedahsyat seperti di negara asal gadget-gadget tersebut. Tapi, kalau melihat perkembangan mengalirnya produk-produk sarat teknologi, tak bisa disalahkan jika banyak yang berkata bahwa semua hanya soal waktu. Ingat saja, 25 tahun yang lalu siapa yang membayangkan bahwa mayoritas manusia di kota besar menjadikan handphone sebagai kebutuhan utama? Lalu, siap yang bisa mengira bahwa kebutuhan terhadap smartphone multifungsi seperti BlackBerry bisa menjadi genggaman hampir semua orang yang tak mau ketinggalan tren dan sudah melek internet? Harga yang dari masa ke masa semakin murah, fungsi dan feature yang semakin kompleks, menjadi beberapa faktor yang menarik bagi publik untuk memiliki dan menggunakannya.

Di siniliah beberapa kalangan menganggap bahwa kenyataan makin diminatinya media digital tersebut akan menjadikan industri printing bakalan terpuruk. Pada saatnya, semua suratkabar, majalah, tabloid akan menggeser cara penyajian kepada pembaca, dari proses cetak menjadi proses digital. Jelas dengan biaya yang jauh lebih rendah. Itupun sudah terlihat dari beberapa media cetak dengan kategori high quality magazine, hampir semua sudah melangkah dengan membuat edisi e-magz yang dapat dibaca melalui tablet pc dengan berbagai platform-nya. Dan, laku!

Lalu apa yang harus dilakukan para pemilik mesin cetak? Dalam diskusi ini ada beberapa hal yang mengemuka. Diantaranya, bahwa pasar menengah ke bawah yang masih lebih lambat dalam mengikuti perkembangan teknologi, masih bisa digarap. Kemudian, produksi packaging yang kebutuhannya belum terlihat ada tanda-tanda berhenti. Karena hampir semua produk di supermarket, mini market, sampai pasar tradisional, semua masih membutuhkan packaging. Para pemodal dalam industri cetakpun juga harus mulai berpikir digital, karena mesin-mesin cetak digital pun sudah sangat memasyarakat. Biaya cetak yang makin murah dan dapat melayani kuantiti yang tidak harus berstatus produk massal. Juga menggali potensi pasar di kalangan pecinta buku, yang relatif lebih idealis menggunakan buku dengan bahan kertas ketimbang digital.

Patut juga dicermati, perilaku terbalik yang ditunjukkan oleh perusahaan-perusahaan besar, termasuk di dalamnya instansi pemerintah. Yang kini justru sedang getol-getolnya menggunakan media cetak internal sebagai alat sosialisasi yang efektif kepada kalangan internal maupun eksternal. Inhouse magazine berbentuk buletin, majalah, newsletter dengan kuantiti produksi yang terbilang signifikan, dapat dijadikan pasar alternatif di antara kenyataan media cetak umum justru beralih ke format digital.

Sebenarnya masih banyak hal-hal yang dapat dilakukan para pemodal dalam industri printing. Selalu ada celah bisnis di antara perilaku publik Indonesia yang memang agak unik. Cenderung mengikuti tren, konsumerisme, tapi sekaligus memiliki tradisi kuat, terutama diluar area perkotaan. Jadi memang peluang berlanjutnya industri printing ini masih baik, tapi ada baiknya juga bersiap menyikapi perkembangan yang terus berjalan. Seperti telah disinggung, semua hanya soal waktu…

VISUAL DESIGNER NONGKRONG BARENG! vol.2

Untuk kedua kalinya, beberapa penggiat disain visual Jakarta berkumpul untuk “Nongkrong Bareng”. Tepatnya pada Minggu, 26 Juni 2011 bertempat di Yogasdesign Studio yang berlokasi di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Tak banyak beda dengan acara kumpul-kumpul yang sebelumnya, hadir di sini beberapa visual desainer dengan berbagai spesialisasi bidang. Media designer, web designer & programmer, packaging designer, hingga corporate designer.

Komunitas visual designer ini memang terkesan agak “liar”. Karena tak mempunyai wadah tetap atau organisasi (termasuk strukturnya), tak ada keanggotaan ataupun jumlah anggota tetap, dan tak ada waktu atau jadwal berkumpul yang tetap. Komunitas ini lebih terlihat sebagai gerak spontanitas berdasarkan kesamaan profesi sebagai visual designer. Terlepas dari pro-kontra, antusiasme, sinisme, bahkan cibiran dari kalangan sesama, memang komunitas ini tidak ingin membuktikan apa-apa maupun menunjukkan apa-apa, selain ingin memperkuat network yang di dalamnya mengandung kental semangat untuk saling berbagi, baik info, ilmu, maupun wawasan.

Pada kesempatan kali ini, selain beramah-tamah, acara “Nongkrong Bareng” menyajikan sesi workshop yang terdiri dari dua sesi. Sesi pertama bertema “Tinjauan Umum Web Development” dan sesi ke dua bertema “Penggunaan Trik Polar Panoraman pada Photoshop”.

Pada sesi pertama disampaikan oleh Sapta “Bozo” dan Bambang Suwito yang berprofesi sebagai web designer dan web programmer. Diuraikan pada sesi ini bagaimana proses awal pembuatan website dengan elemen-elemen penting yang terkandung di dalamnya, hingga tahap eksekusi programming sampai “ready to online”. Juga sempat dibahas mengenai perkembangan dunia printing yang sudah banyak dikombinasikan dengan dunia online, seperti bagaimana proses mengaplikasikan hasil printing ke media iPad maupun tablet PC lain yang biasa disebut dengan istilah e-paper. Tak ketinggalan juga pembahasan mengenai beberapa web browser ternama yang semua mempunyai kelebihan dan kelemahan.

Setelah sesi pertama selesai ramah temah dilanjutkan dengan sharing antar personal bagaimana memasarkan jasa kreatif agar bisa tercapai penghargaan yang rasional di mata publik. Dalam sesi sharing ini mencuat juga pembicaraan tentang pergeseran perilaku marketing jasa kreatif yang kini lebih terarah kepada perilaku public relation (PR) ketimbang perilaku sales. Walaupun disadari bahwa masing-masing mempunya sisi plus dan minus, tetapi dari perilaku pemasaran bergaya PR (baca “Pi-Ar”) hasilnya mempunyai daya tahan yang lebih baik dari cara-cara standar yang biasa dilakukan dengan perilaku pemasaran sales. Memang hal ini bukanlah sebuah kesimpulan, tapi dengan pembeberan beberapa contoh, tampaknya tren pemasaarn bergaya PR akan menjadi solusi di tengah kondisi umum menurunnya kepercayaan publik terhadap berbagai ketersediaan produk maupun jasa, khususnya di bidang industri kreatif.

Workshop sesi kedua disampaikan oleh Pepenk yang merupakan freelancer dan media design consultant. Kali ini ia menyampaikan tentang trik “Polar Panorama” yang menggunakan software Photoshop. Dengan beberapa contoh hasil eksekusi, diuraikan pula langkah-langkah dan hal-hal yang harus menjadi perhatian utama pada trik ini. Memang ada beberapa tools dasar di Photoshop yang sudah harus dikuasai agar trik dapat berjalan sesuai rencana. Dari pathing, cropping, brushing, patching, hingga penguasaan default filter. Nah, justru disinilah juga diberi penekanan bahwa default filter pada Photshop sebenarnya sudah dapat “berbicara” banyak untuk melakukan olah foto maupun gambar, yang saat ini banyak disebut sebagai “digital imaging”. Pada kesempatan sesi kedua inipun juga dilakukan komparasi dengan kemampuan lensa pada kamera untuk membentuk wujud “Polar Panorama” tsb.

Jalannya acara ini ternyata keluar dari rencana awal. Yang sedianya akan diakhiri pada pukul enam sore, ternyata setelah berakhirnya sesi workshop kedua, sesi sharing berlangsung kembali. Pembahasan bermuara dari kenyataan bahwa edukasi terhadap publik tentang proses kreatif belum sepenuhnya disadari oleh pihak-pihak yang terlibat pada industri kreatif itu sendiri. Kendala eksekusi prima yang biasanya terbentur dengan deadline yang sempit, menjadi pembahasan menarik. Hingga sistim kerja pada industri kreatif pada setiap institusi maupun individu yang terlibat perlu dijadikan “pagar” agar hal-hal yang menjadi sandungan dalam keseluruhan proses bisa diminimalisir. Tampaknya masih banyak persoalan yang bisa dibahas dalam diskusi model non formal seperti acara “Nongkrong Bareng” ini, dan disepakati bahwa persoalan-persoalan itu akan dijadikan pekerjaan rumah yang ke depan memang harus dicarikan solusi.

Akhirnya waktu juga yang membatasi, dan pada pukul setengah sembilan malampun kumpul-kumpul atau nongkrong bareng atau apapun namanya disudahi dengan menyisakan senyum di masing-masing peserta. Belum ditentukan kapan acara berikutnya akan dilaksanakan, yang jelas semua sepakat untuk terus berkumpul dalam rasa ingin berbagai antar sesama. Semoga.

VISUAL DESIGNER NONGKRONG BARENG!

Minggu, 13 Februari 2011 sejumlah penggiat desain visual Jakarta berkumpul di Langsat Corner, Jl KH. Ahmad Dahlan, Jakarta Selatan. Mereka terdiri dari insan-insan kreatif dari beberapa bidang. Desainer penerbitan, packaging, scluptur, kartunis, karikaturis, desainer web, multimedia, hingga tattoo & bodypainting. Keseharian merekapun beragam, ada yang menjalani profesi sebagai konsultan, freelancer, profesional di beberapa institusi industri kreatif, dan bahkan sebagai dosen terbang untuk sejumlah perguruan tinggi.

Walaupun ada beberapa yang sudah saling mengenal, event yang dibuat dengan format informal ini mempertemukan para visual designer yang sebelumnya tidak saling mengetahui. Dengan koordinasi online mereka akhirnya bisa bersilaturahmi, saling mengenal, bertukar ilmu, dan tentunya bertukar segala informasi seputar dunia kreatif, seni rupa, serta desain grafis.

Dalam pertemuan yang lebih terlihat sebagai acara “Nongkrong Bareng”, juga terjadi diskusi serius seputar beberapa permasalahan yang mengemuka dan sering dihadapi para praktisi visual design. Diantaranya adalah permasalahan seputar client service, project management, capacity upgrading dan edukasi tentang proses kreatif.

Beberapa pendapatpun bermunculan. Misalnya tentang minimnya penghargaan terhadap proses kreatif. Masih menjadi teka-teki yang sudah berjalan lama, apakah pengguna jasa kreatif baik disain maupun pekerjaan secara keseluruhan, sudah mengetahui atau menyadari bahwa setiap pekerjaan perlu proses yang tidak sederhana. Proses yang terjadi bukanlah sekedar sulap yang dengan “simsalabim” semua bisa berubah. Ada hal-hal yang tak bisa diabaikan dalam proses kreatif itu. Dari menterjemahkan ide menjadi konsep, memikirkan aplikasi yang sesuai dengan ide awal, mempersiapkan materi-materi yang dibutuhkan dalam eksekusi, hingga penggunaan software komputer yang sangat tergantung dari kapasitas yang dimiliki komputer itu sendiri.

Dari persoalan itu, lalu juga terkait dengan bagaimana sebuah pekerjaan ataupun proyek, bisa dikerjakan dengan jadwal yang rasional, logis, dan dapat dipatuhi semua pihak-pihak terkait. Sempat diberikan contoh tentang sistem kerja majalah, yang akrab dengan deadline periodik. Pentaatan waktu penyetoran materi lengkap sangat berpengaruh terhadap waktu terbit yang direncanakan. Dan masalah klise yang sering dihadapi oleh beberapa media ini memang ujung-ujungnya akan berefek pada “kerja ekstra” pada tahap eksekusi, disain dan layout. Dan tak dapat dipungkiri defenisi materi lengkap inipun kerap menimbulkan permasalahan pada bidang jobdesk. Siapa yang menyiapkan foto hasil riset di internet? Siapa yang harus mengetik naskah berdasarkan materi hardcopy? dsb.

Koreksi terhadap tuntutan kapasitas para visual desainer juga mengemuka. Bahwa tuntutan atas penghargaan proses kreatif selayaknya juga dibarengi dengan peningkatan kapasitas dan kualitas individu-individu penggiat visual desainer. Kesadaran membentuk diri sebagai profesional yang bertanggung jawab harus ditunjukkan. Hasil akhir, kinerja, etos kerja, kemampuan menterjemahkan ide, kemampuan bahasa, kemampuan presentasi atau juga kemampuan berkomunikasi, hanya beberapa hal yang harus jadi perhatian.

Banyak lagi persoalan-persoalan yang dibahas yang akhirnya membuat diskusi berkembang ke beberpa aspek lain yang tidak kalah penting. Yaitu bagaimana memberikan edukasi kepada publik tentang proses kreatif, pembuatan standar alur kerja yang bisa diaplikasikan untuk berbagai bidang dalam industri kreatif, termasuk pembahasan agar ada lembaga perlindungan bagi pekerja kreatif, juga tentang tanggung jawab individu atas segala hasil kerasnya sendiri agar tidak menjadi sia-sia hanya karena perilaku menyimpang yang tidak perlu seperti penggunaan narkoba.

Memang, hampir semua masih sebatas ide. Tapi harapan selalu ada. Ide-ide yang telah terlontar tak ada kata tak mungkin untuk direalisasi. Tentunya semua akan lebih mudah jika dukungan dari segenap insan dan unsur-unsur di industri kreatif juga terhimpun. Dan langkah awal di acara “Nongkrong Bareng” ini diharapkan dapat menghasilkan langkah-langkah nyata di waktu yang akan datang, di pertemuan-pertemuan berikutnya. Waktu yang akan bicara!