KESANDUNG DI MAL


siluet_5

“Hhhh…. Kenapa ya belakagan gue sering dapet sial”, begitu keluh Birun. “Padahal rasa-rasanya udah berbuat baik semampu gue. Masa sih Tuhan masih aja ngasih kesialan ke gue”, tambahnya.

Memang, setengah tahun belakangan Birun yang sehari-harinya menjadi pengusaha tekstil, sering mendapat musibah kecil maupun besar. Dua hari yang lalu saja ia baru kehilangan dompetnya, padahal baru seminggu yang lalu ia kehilangan data-data keuangan di laptopnya karena virus. Sudah tersandung tertimpa tangga pula.

Itu belum seberapa, coba saja bayangkan, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-37, dua bulan yang lalu. Saat ia sedang sangat bergembira merayakan hari jadinya, motor Honda Tiger kesayangannya, yang sudah dimodifikasi, hancur lebur karena dipinjam temannya yang belum fasih mengendarai motornya itu. “Aduh… Mir… kenapa motor gue lu remekin kaya gini”, keluh Birun sambil menyambut temannya, Amir, menenteng motornya yang ringsek. “Iya, Run… sorry banget, gue agak kagok pas tadi di tikungan, dan gue kepeleset. Lu liat nih celana gue pada robek, kaki gue juga pada luka. Masih untung nih gue, gak ikutan ringsek”, ungkap Amir, yang sehari-harinya masih jobless. “Ya udahlah Mir… mau gimana lagi, gue juga gak mungkin minta ganti sama lu.

Bersamaan dengan beberapa “kesialan” atau musibah yang menerpa, sebenarnya usaha yang diijalankan Birun justru sedang bagus-bagusnya. Order seperti gak ada putus-putusnya, bahkan sampai konsumen dari Nigeria-pun sudah banyak yang “nyangkut” jadi pelanggannya. Menyusul Malaysia dan bahkan Australia. Birun pun sudah menambah perbendaharaan kiosnya. Saat ini terhitung sudah tiga kios dia punya.

Tapi kembali lagi kepada keluhan Birun tentang kesialan yang belakangan sering menimpa. Kenapa ya? Padahal si Birun termasuk orang yang rajin ibadah, suka memberi pekerjaan kepada orang lain, dan juga tidak pelit. Logikanya, ia seharusnya bisa hidup nyaman toh?

Sewaktu ketika ia memutuskan untuk “cuti” seminggu untuk berlibur sekedar merenungkan hidupnya. Berangkatlah ia ke rumah almarhumah neneknya yang terletak di sebuah desa di Purwakarta. Di sana ia menginap ditemani sawah, kandang sapi, dan tentunya keterbatasan informasi.

Di sebuah pagi ia sempatkan untuk berjalan berkeliling desa. Sambil mengenakan sarung dan kaus oblong, sudah miriplah ia dengan warga asli desa itu. Tak tahu disengaja atau tidak, sepertinya Birun merasa ada perasaan kuat, tiba-tiba saja dia memberanikan diri menegur, berkenalan dan terlibat pembicaraan dengan seorang pemuda yang menurutnya seumuran dengannya.

“Assalamualaikum”, sapa Birun sambil terus berjalan. “Walaikumsalam”, sahut pemuda yang ternyata bernama Sabri itu. Setelah berkenalan, maka Birun mulai coba mambuka pembicaraan. Dari pembicaraan sekitar keadaan desa, sampai akhirnya singgah ke pembicaraan tentang makna hidup. Tak dilewatkan begitu saja oleh Birun untuk bercerita tentang permasalahannya yang menurut dia pelik.

“Begitulah Bri, kenapa ya kok aku dapet ‘sandungan’ terus ya belakagan ini?”, begitu tanya Birun. Sabri mengerutkan dahi, ia berpikir tentang bagaimana membantu menerangkan jalan dari teman barunya itu.

“Run..”, kata sabri perlahan. “Kalau diibaratkan kita ini sebagai orang yang sedang berbelanja di mal, kita sudah semua beli yang menurut kita dan menurut orang paling okelah. Baju paling oke, celana paling nge-trend, topi paling unik, kaos kaki paling keren, sabuk paling berkelas, sarung tangan paling mengkilap, parfum paling wangi, dan semuanyalah…”, tutur Sabri. “Menurutku, sering kita lupa untuk mampir ke satu toko yang justru punya bobot terpenting di antara yang kita beli tadi. Toko apa Run?, lanjutnya. Birun mulai berpikir, “Toko buku?”. “Bukan”, kata Sabri. “Toko makanan?”, lanjut Birun. “Bukan,” kata Sabri lagi. Dan Birun terus menyebut beberapa toko yang selalu mendapatkan jawaban sama dari Sabri, “Bukan”.

“Lalu apa dong Bri? Aku mulai puyeng nih”, ujar Birun. “Toko cermin, Run”, singkat saja jawaban Sabri. “Dengan mempunyai cermin, kita akan tahu apakah semua yang sudah kita miliki pantas dikenakan, apakah semua yang sudah kita lakukan sudah layak, apakah yang sudah kita perbuat sudah sepadan, dan banyak lagi, Run”, jelas Sabri. “Tanpa cermin, kita gak pernah mau introspeksi diri tentang kekurangan kita, kelemahan kita, kesalahan-kesalahan kita baik dahulu maupun sekarang. Yang kita lihat tanpa cermin hanya yang baik-baik saja menurut penilaian kita sendiri. Kita gak tau bahwa orang lain belum tentu sependapat dengan kita, belum tentu searah dengan kita, belum tentu senang dengan apa yang kita perbuat”, lanjut Sabri. “Karena itulah, dalam hidup ini kita perlu cermin, untuk melihat ke diri kita sendiri. Seperti yang belakangn kamu alami, mungkin ada sebab musababnya di masa lalu yang masih mengganjal. Mungkin kau punya kesalahan-kesalahan yang belum kamu sadari sejak dulu hingga saat ini. Karena kau mungkin lupa bercermin”.

Tanpa harus dijelaskan lebih lanjut, Birun langsung mengangguk-angguk tanda setuju. Nampaknya ia telah mengerti, bahwa selama ini ia tidak pernah bercermin, apakah semua yang telah dilakukannya berkenan di hati orang lain, atau ia juga tak pernah berkaca, apakah semua yang dimilikinya sudah sepatutnya, apakah semua perilakunya dari dulu hingga kini pernah merugikan orang, apakah harta yang dikeluarkannya untuk orang lain sudah seimbang dengan yang didapatnya, apakah…., apakah…., apakah….. dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan dalam dirinya yang mulai terungkap. Selama ini ia tidak pernah tahu, karena rupanya ia lupa mampir ke toko cermin…

Ingin Jadi Tuhan


siluet_4

Setiap manusia sudah dianugerahi nyawa sejak ia lahir. Bahkan rohnya sudah dimasukkan saat berusia 4 bulan dalam kandungan, termasuk takdir-takdirnya. Sebuah bentuk berkah yang merupakan modal utama kita untuk bernafas di dunia. Kemudian, seorang manusia juga sudah dianugerahi nafsu, emosi, akal dan pikiran. Anugerah yang begitu sering digunakan oleh manusia dalam mengatur irama hidup, dan selalu saja membuat penghuni bumi kerap tertawa, sedih, menderita, bahkan menjadi khilaf.

 

Sampai saat ini, memang manusia masih diberikan waktu untuk meramu jalan hidupnya. Pengaturan nafsu, emosi , akal dan pikiran, akan menolong penemuan jalan terbaik bagi kepentingan manusia menghadapi akhir jaman. Dan bukan tak mungkin, justru penemuan jalan terburuk adalah “rejeki” yang didapatnya. Tak ada yang sanggup menerka.

 

Kemampuan yang ada dalam setiap manusia, adalah sah jika digunakan untuk menyambung hidup. Keinginan untk menjadi sempurna di hari depan, adalah sah jika dicita-citakan setiap insan. Dan kumpulan anugerah yang memenuhi diri seseorang, ditakdirkan untuk membuat manusia bersyukur. Bukan lantas membesarkan kepala hanya untuk mencapai kesempurnaan, yang lambat laun menuju keinginan melebihi-Nya.

 

Manusia bukanlah Tuhan. Manusia adalah makhluk yang di dalamnya terdapat kelebihan dan kekurangan. Sebesar apapun gelembung keinginan bermuara di dalam diri, haruslah berkompromi terhadap takdirnya sebagai makhluk Tuhan. Makhluk yang takkan bisa melebihi-Nya. Makhluk yang seharusnya sadar terhadap keadaan dirinya, juga sekelilingnya. Makhluk yang tak bisa menyangkal ketidakberdayaan di hadapan-Nya.

 

Kita bisa melihat, betapa bangganya individu yang begitu sadar bahawa ia punya potensi. Kita bisa melihat, betapa canggihnya otak manusia sehingga ia harus meladeni kemampuannya yang lambat laun ingin menjadi paling sempurna.Kita sudah banyak melihat dan juga mendengar, keinginan berhasilnya hidup yang juga menyertakan ego dan kepentingan tanpa batas, serta merta menjadi sifat yang “sah-sah saja” digenggam manusia.

 

Dari bekal ilmu, potensi individu, serta kemajuan jaman, seorang manusia terpacu untuk mengikatnya menjadi satu. Sampai-sampai ia lupa bahwa yang paling berhak menciptakan hanyalah Yang Maha Pencipta. Bahawa yang paling berhak menyandang gelar penguasa, adalah Yang Maha Penguasa. Lantas, mengapa kita harus berlomba untuk menyamakan diri dengan-Nya?

 

Kalau Sang Pencipta saja sudah diniatkan untuk disamakan kemampuannya. Bagaimana dengan sesama manusia? Apakah harus, manusia-manusia yang bersama hidup di alam fana ini, tak dianggap sebagai manusia? Tak diangap sebagai makhluk ciptaan Tuhan, yang juga berhak mempunyain potensi dan berhak mempunyai kemampuan?

 

Boleh-boleh saja kita bangga dengan potensi. Boleh-boleh saja kita menunjukkan kemampuan, Tapi, perlulah diingat bahwa, yang berpotensi tak hanya satu, dua, atau tiga. Setiap insan punya potensi, punya kemampuan, punya akal, punya budi, serta punya nafsu dan emosi. Setiap makhluk punya jatah yang sama sebagai makhluk. Setiap makhluk sudah punya bagian yang telah dibagi-bagikan berupa rahmat, berkah, hidayah, sampai dengan rejeki dan musibah.

 

Sifat individualistis bukan tak boleh diaplikasikan. Tapi kalau saja sifat ini terus merajalela, bukan tak mungkin, di luar kesadaran manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya, ia hanya peduli dirinya. Seseorang hanya peduli dengan nasibnya. Seseorang hanya teringat bagaimana meberhasilkan hidupnya, bukan membawa keberhasilan bagi kehidupan di dunia. Ambisi untuk menjadi “raja”, selayaknya tidak menjadikan seseorang atau sekelompok individu menjadi angkuh mengusung panji kedigdayaan.

 

Dari rentetan sejarah kita bisa mendapat dan melihat bukti, bagaimana manusia-manusia yang terus saja “terlalu” menikmati “potensi berlebihan” yang disandangnya, akhirnya hancur juga. Kita sudah bisa mendapatkan fakta, banyak manusia yang kini terjebak untuk memaksimalkan kemampuan diri, sebagai media menyamakan dirinya dengan Tuhan. Manusia diganti robot, binatang direproduksi dengan teknologi, dan manusia bebas menyudahi hidup manusia lain. Untung saja, belum sanggup merekayasa reproduksi manusia baru untuk tinggal bersama di bumi, dengan tanpa mengindahkan proses alami yang sudh dikodratkan.

 

Bentuk nafsu ataupun emosi yang terkolaborasi dengan akal, budi, dan pikiran, bukanlah wadah bagi keinginan untuk meninggalkan kodrat sebagai makhluk ciptaan-Nya. Kelonggaran bernapas, berpikir, ber-ilmu pengetahuan, sampai dengan kelonggaran bercita-cita yang diberikan oleh-Nya, bukanlah berkah yang membuat manusia jadi penuh ambisi, takabur, dan semena-mena. Nafsu boleh-boleh saja. Emosi boleh-boleh saja. Berpikir boleh-boleh saja. Ambisi boleh-boleh saja. Tapi siap sangka, akhirnya banyak manusia ingin jadi Tuhan? Namanhya juga manusia. Dikasih hati, minta jantung…

 

(TOR-02-99)

Kecutnya Ketiak

siluet_33

Bersikap adalah menunjukkan sikap. Baik buruknya sikap dapat dinilai darimkonsekuensi si pemilik sikap terhadap perilakunya. Sikap baik belum tentu sanggup direalisasikan secara murni oleh seseorang. Maka ia akan terjebak pada kenyataan bahwa ia tidak dapat bersikap.

Wajar kalau sikap, bersikap, atau apapun namanya, akan membuat bingung jika harus dibeberkan denga arti harfiah. Seseorang yang punya sikap, bukan berarti sikapnya baik. Seseorang yang tidak bersikap, bukan berarti ia bisa bersembunyi dari ketidaksanggupannya bersikap.

Kalau seseorang sudah mengeluarkan kata-kata dari mulutnya, sebagai sebuah bentuk sikapnya pada fenomena yang ada, adalah harus (kalau tak mau dibilang wajib) orang tersebut berperilaku sesuai dengan apa yang dikatakannya. Kalau ia bilang ember harus diisi air, maka sewajarnya ia juga mengisi setiap ember miliknya dengan air. Jika ia menyatakan rumah harus dicat dengan warna cerah, adalah sah jika rumahnya juga dicat dengan warna cerah. Atau lebih mudah kita nyatakan bahwa apa yang dikatakan memang sudah dilakukan.

Akan tetati (tetapi maksudnya….), jika kita melihat seseorang ataupun sekelompok orang yang dengan berwibawa menyatakan, “Kita harus menyampaikan yang benar itu benar, yang salah itu salah”, di hari berikutnya justru ia menekuk lutut untuk menyatakan kebenaran hanya karena sungkan, takut, ataupun toleransi, gelar apa yang pantas kita sandangkan kepadanya? Tidak bersikap, tidak mempunyai sikap, tak tahu sikap, atau mungkin pengecut?

Bukan berniat mencerca, protes, ataupun antipati terhadap nilai manusiawi dari seseorang. Tapi, adalah kenyataan bahwa sudah terlalu banyak orang yang berlaku tak sesuai dengan apa yang dikatakan lewat mulut. Sudah terlalu keruh dunia ini diisi oleh orang-orang yang hanya ingion dibilang “top” padahal dia “down”. Bilang berani, tapi tak berani. Bilang bersikap, tapi tak punya sikap. Bilang manis, tahunya kecut.

Dari lingkup regional, lokal, sampai dunia, kita dapat menyaksikan betapa hebatnya orang-orang yang berdiri tegak di podium kejayaan, kedigdayaan. Mereka melimpahkan kata-kata dalam mjulutnya dengan bunyi sirine perang melawan kebathilan. Dan mereka sekaligus mengumandangkan pernyataan-pernyataan yang justru menunjukkan bahwa, orang memang paling pintar bicara, tapi mana prakteknya? Katanya harus lari, kenapa jalan kaki. Katanya mau ngasih buah, kenapa yang dikasih Cuma biji.

Yah…, memang lain kata lain praktek tidak dapat disalahkan. Orang kan manusia. Yang kadang menemukan kekhilafannya. Yang kadang tak mengira kenyataan terus berubah. Yang tak mengira bahwa dirinya dapat menjadi pemberani, dapat juga jadi pengecut, dapt juga tak punya sikap, bahkan dapat menjadi penipu. Jadi, juga jangan disalahkan kalau saja seorang pemuda berumur 28 tahun berkata, “Pengecut itu tak punya sikap, penipu berarti tak punya sikap, dan tak punya sikap berarti juga menipu”. Entah apa artinya, tak usahlah dipersoalkan. Karena jangan-jangan pemuda itu juga pengecut. Siapa tahu? Ketiak saja baunya kecut…

(TOR-05-99)

Monyet Bukan Anjing, Kerbau Bukan Kuda

Sebagai penghuni bumi, manusia ditemani makhluk hidup lain. Sesama manusia, hewan, juga tumbuhan. Sebagai penghuni bumi, manusia ditemani sifat-sifatnya. Sifat baik dan sifat buruk. Dan sebagai penghuni bumi, manusia juga ditemani oleh nasib. Nasib baik dan nasib buruk.

Kerap kita dapat merasakan betapa nikmatnya sebagai manusia, makhluk paling sempurna di antara makhluk-makhluk lain ciptaan-Nya. Sering kita mendengar, betapa beruntungnya manusia, yang dengan segala upayanya menempuh hidup dengan berbuah keberhasilan. Dan kita juga acap kali melihat, mendengar, bahkan merasakan, betapa teriris-irisnya perasaan manusia. Ketika ia harus ikhlas direnggut haknya oleh ‘rekan’ hidup di bumi ini, manuia juga.

Hanya karena adanya perbedaan nasib di antara yang satu dengan yang lain, lalu keberadaan manusia lain sebagai makhluk yang bermartabat dan berhak hidup harus terlihat samar. Keharusan manusia untuk mengisi hidupnya dengan berusaha dan berdo’a, kian hari kian menjadi hal yang disepelekan. Saat seorang atau sekelompok manusia harus memperjuangkan nafasnya di bumi, bersamaan dengan itu, masih terlalu banyak yang dengan keabsolutannya lebih mementingkan pendayagunaan nafas manusia lain sebagai pemenuh kebutuhan. Syukur-syukur jika nafas itu masih dianggap berharga di depan kelopak mata. Tapi nyatanya adalah terbalik.

Makin banyak saja terlihat, keberlangsungan hidup umat manusia dianggap sebagai permainan yang dapat diputar-putar bagai kincir angin. Sudah ingin terkapar di tanah, masih sja dianggap mampu berlalri mengitari lapangan bola. Sudah harus minum air menghilangkan dahaga, masih saja disuruh menarik gerobak sebagai pengganti kerbau. Apa iya, sebagai sesama, tidaklah sanggup lagi mempergunakan hati nurani. Apa iya, dengan segala kelebihan yang diberikan-Nya, harus memperlakukan sesamanya sebagai hewan perasan. Lalu siapa justru yang lebih cocok dianggap hewan? Kerbau, monyet, kuda, anjing, atau justru manusia?

Kerbau saja harus beristirahat sambil memamah rumput. Monyet saja harus berhenti berteriak untuk memakan pisang. Anjing-pun harus berhenti menggonggong untuk sekedar buang air besar. Lalu kalau makhluk-makhluk yang lebih terkenal dengan sebutan hewan itu, dapat begitu indah menikmati adanya kelonggaran dalam aktivitasnya, mengapa manusia harus tidak?

Manusia punya daya tahan, kemampuan, dan kemampuan itu bukanlah berarti harus mampu semampu-mampunya toh? Mampunya manusia pasti ada batas. Batas ketahanannya. Batas kesanggupannya. Bahkan juga, batas keberadaannya sebagai makhluk ciptaan-Nya. Dan tentunya batas waktu ia harus bernafas di bumi tercinta ini.

Manusia punya nyawa, darah, otak, akal, dan pastinya jantung. Ya, manusia makhluk paling sempurna di antara makhluk lainnya. Ya, manusia selalu saja diberi kelebihan dalam hidupnya. Dan, ya, manusia harus punya keterbatasan, harus punya ketidakberdayaan, dan tentunya hati nurani. Sebab kalau tidak, namanya bukan manusia? Lalu apa? Kerbau, monyet, sapi, kuda, anjing, atau…., atau….?

(TOR-04-99)

Dasar Nasib…

Dalam hidup, nasib merupakan hal yang melekat pada diri tiap manusia. Nasib baik, nasib buruk. Di sisi lain, perjalanan manusia mengisi hidup ini dengan ikhtiar tak selamanya menjadikannya merasa berhasil secara absolut. Ada saja ketidaksempurnaan yang turut serta dalam perjalanan itu.

 

Sebagai contoh, seorang petani yang udah begitu tekun membajak sawahnya dari hari ke hari, justru di saat memanen hasilnya ia mendapat bencana yang tak terkira sama sekali. Hujan deras yang menyiram bumi membuat air meluap dan banjir tak dapaat dibendung. Lalu, sawah-sawahpun tenggelam tak berbekas. Ironis.

 

Maaf, cerita di atas tidak dimaksudkan untuk ‘menghina’ sang hujan sebagai hal yang tak dikehendaki. Karena kita tahu bahwa hujan adalah rahmat dan berkah dari Yang Maha Pencipta. Ok… kita tidak membicarakn hal itu. Tapi coba kita fokuskan alam pikir kita kepada hal yang memandang sebuah keoptimisan sebagai bagian dari perjalanan hidup manusia.

 

Tak bisa disalahkan jika manusia diberkahi rasa optimis dalam dirinya. Tak bisa disalahkan jika manusia dianugerahi rasa ingin menggapai kondisi positif dalam perilakunya. Dan tak dapat dipungkiri bahwa manusia diciptakan-Nya untuk menjadi pemimpin di dunia.

 

Dalam setiap usaha manusia, pergerakan-pergerakan yang memungkinkan tercapainya hasil positif bisa dikatakan alami adanya. Keinginan untuk merancang hidup ini menjadi berarti, adalah sebuah kodrat. Hampir tak ada manusia yang menginginkan hidupnya menjadi sial. Hampir tak ada manusia yang mendambakan hidupnya menjadi mentah.

 

Kembali kepada nasib petani, merintis terbentuknya kondisi ideal, di mana unsur positif menjadi raja, manusia tidak bisa hanya merebahkan diri di kasur tidur. Ia harus dengan kesadarannya sendiri berani melakukan hal-hal bernuansa lelah. Lelah fisik hingga lelah pikiran. Kenapa harus lelah? Ini disebabkan lelah cenderung diartikan sebagai usaha maksimal sampai pada batas kemampuan. Lelah-pun bukan sebuah keadaan yang selalu tidak dinantikan. Karena makhluk hidup bisa dikatakan pasti mengalami kelelahan. Apalagi ketika ia menjalani hidup ini sebagai kredit menuju alam sempurna nanti.

 

Dalam waktu yang tak dapat diterka dan ditentukan, ikhtiar manusia akan diikuti dengan gejolak-gejolak yang mungkin tak dapat disangka pula. Ketika kesungguhan menghinggapi diri, perjalanan terasa menyenangkan bagai piknik ke bulan. Lalu, saat berangsur-angsur langkah menemukan ganjalan,saat itu pula manusia harus berusaha melewatinya. Dari proses melewati inilah kadang (bahkan sering) lelah menghampiri. Apa yang harus dilakukan Istirahatlah, walau sejenak.

 

Setelah beristirahat (bukan berleha-leha), maka teruskanlah perjalanan. Dalam perjalanan selanjutnya inilah lalu kita harus mulai terbiasa menemui ganjalan. Yang nanti, idealnya, justru menjadi hal yang biasa-biasa saja. Dari keadaan bisa-biasa saja lalu kita akan menemukan ganjalan lain yang berbeda dengan sebelumnya. Ganjalan baru yang lebih menantang atau justru bukan tantangan. Tapi, tantangan atau bukan, sebaiknya tidak dianggap remeh. Karena jika saja lengah, tak usah ragu, kitapun akan tersandung.

 

Perlu diingat, adakalanya sebuah usaha ataupun perjalanan akan berhenti dan beristirahat dalam waktu lama, bukan dengan maksud menyerah. Berhenti kalau memang tak dapat lagi diteruskan, adalah keadaan yang tak dapat ditolak. Kemampuan ada batasnya, usaha ada maksimalnya. Soal hasil, manusai tak punya otoritas menentukannya. Adanyang lebih berhak!

 

Bagi yang hingga kini terus saja mengalami berhasilnya perjalanan hidup, mungkin tak boleh mengindahkan begitu saja hal-hal tak terkira yang di hari depan nanti akan menghadang. Dan bagi yang telah mempertimbangkan masak-masak keputusan untuk memberhentikan dengan sementara usaha-usaha menghadapi kerasnya perjalanan, jadikanlah semua yang telah dialami sebagai pelajaran. Pelajaran untuk memulai hidup baru, walaupun itu tidak lebih menguntungkan dibanding hidup sebelumnya.

 

Yahh…., usaha-usaha adalah sebaiknya terus saja dilakukan bukan demi sebuah eksistensi belaka, tapi lebih sebagai perbaikan kualitas hidup. Toh, nasib siapa yang tahu…

 

(TOR-33-99)

 

 

Hidup Bemo!

Cobalah sekali-kali menjadikan kendaraan bernama “Bemo” sebagai contoh bagaimana kita menjalani tugas sebagai manusia di bumi ini.

Loh, apa yang harus di contoh? Bemo, seperti yang kita tahu, adalah sebuah kendaraan umum yang terbilang ‘jadul’. Dengan penyediaan bangku panjang berhadap-hadapan, bemo menjadi wahana interaksi antar manusia.

Coba kita lihat di pagi hari daerah Pejompongan – Benhil, dimana berbondong-bondong manusia berebut untuk segera sampai di tempat tujuan, mencari nafkah. Ternyata bemo masih banyak yang menggunakannya sebagai alternatif untuk melancarkan jalan menunaikan misi mulia ini.

Ya, mencari nafkah memang tergolong misi mulia. Bagaimana tidak, sebagai manusia yang terlanjur berada di bumi, nafkah adalah hal yang menjadi unsur penting dalam meneruskan tugas manusia sebagai pemimpin. Memimpin dunia, memimpin orang lain, memimpin masyarakat, memimpin keluarga, sampai memimpin diri sendiri untuk selalu berjalan di jalan yang dikehendaki-Nya.

Kembali kepada bemo. Dalam sebuah bemo terdapat bangku yang memang disediakan untuk penumpangnya. Walau sempit, hingga kini di daerah tertentu seputar Jakarta, bemo masih menjadi idola pengguna transportasi umum. Walaupun tidak dapat dihindari adanya risiko berdesakan. Dari keadaan di dalam bemo ini, kita sebenarnya bisa belajar. Bagaimana kita harus berbagi, saling menghargai, saling menghormati, dan saling menyintai.

Betapa tidak,dalam keadaan yang sudah begitu minim (dalam bemo maksudnyah…), penumpang harus menyediakan tempat yang tersisa sebisa mungkin. Kalau masih muat satu penumpang, ya harus dimuatkan. Kalau masih muat dua penumpang apa lagi. Bahkan kalau keadaan di “lapangan” hanya memungkinkan masuk setengah penumpang, terus dicoba masuk, untukmikut duduk.

Sekali lagi di sini kita bisa belajar bagaimana kita dapat mengajak manusia selain diri kita untuk ikut menikmati betapa sempitnya ruang untuk melancarkan nafas selancar-lancarnya. Seperti diketahui, bumi inikan sudah begitu sumpek, sudah begitu majemuk. Dan kemajemukan isi bumi ini sepatutnya membuat penghuninya sadar, bahwa kita berada dinplanet yang dalam bahasa inggrisnya dinamakan “earth” ini, bukan untuk melupakan keberadaan penghuni lainnya. Karena, kalau saja manusia sudah berpikir sejak awal mengenai kemajemukan yang dianggap tak akan menguntungkan, rugilah ia!

Kumpulan makhluk di bumi ini memang diciptakan tidak seragam. Dan itu bukan untuk saling mendorong agar keberuntungan selalu terpusat pada ego seseorang, sekelompok orang, ataupun sekelompok makhluk. Kumpulan makhluk yang berderajat sama di hadapan-Nya, diciptakan untuk saling berkomunikasi, saling membutuhkan, saling mengingatkan, sampai saling menyayangi.

Tapi sudah menjadi rahasia umum. Nyatanya makhluk-makhluk di bumi ini justru lebih bergembira dengan melaksanakan hobi saling mendorong, saling menggeser, saling menjorokkan, dan mungkin saling meludahi (maaf, agak kasar). Merasa dirinya yang paling berhak mendapat terempuk adalah manusiawi. Tapi kitapun tahu, mansusiawi belum tentu benar. Karena yang benar bagi manusia belum tentu benar bagi-Nya. Dan yang benar bagi-Nya, pasti benar untuk manusia.

Jadi, sifat manusiawi ini adalah bijak kalau kita dapat menyesuaikan dengan nilai-nilai paling ideal. Manusia harus berangkulan dengan makhluk lain. Apalagi dengan manusia lain. Buat apa kita harus hidup beragam, kalau hanya saling menjatuhkan. Padahal (sekalimlagi), kita diciptakan memang dalam keaqdaan tak sendiri. Toh, nantinya bemo yang paling nikmat bangkunya tak ada di sini, di alam serba fana ini. Tapi ada di…?

(TOR-09-99)

Mengadili Intelektualitas

Melihat gejala-gejala yang timbul di masyarakat, terbesit pemikiran. Pemikiran tentang pentingnya kadar intelektualitas seseorang dalam menyampaikan apa saja yang ada di benaknya. Mengapa harus dikatakan penting, karena dari kenyataan yang ada kita disuguhi ‘tontonan’, betapa kaum yang mengaku dari golongan intelek begitu percaya untuk menyampaikan ataupun memberikan masukan kepada bangsa ini untuk keluar dari permasalahan-permasalahan yang mendera.

Sebenarnya bukan saat ini saja para intelektualis dipercaya memberikan sumbang saran bagi kepentingan umum. Dari jaman kerajaan-pun hal ini sudah dilakukan. Contohnya, seorang raja yang sangat percaya kepada para cendikiawan. Mereka dipercaya kerena potensinya masing-masing yang mencoba untuk berpikir bedasarkan proses sebab-akibat. Kalau keadaan begini, maka akibatnya begitu. Kalau keadaan begitu, maka akibatnya begono. Dan kalau keadaan beginu, maka akibatnya begenee…

Nuahh…, di jaman sekarang ini kita juga dapat melihat bahwa, tak diminta oleh siapapun, makin banyak saja yang dengan kesadaran penuh mempraktekkan dirinya sebagai bagian dari kaum intelek. Kaum dengan tingkat intelektual di atas rata-rata. “Dari indikasi yang ada, kita diharapkan dapat meng-implementasi-kan potensi kita ke dalam proses bergaining. Sehingga tidak terjadi setback yang tak diharapkan, menyusul adanya distorsi dalam sistem yang sudah dikonfirmasikan bersama”, begitu kata salah satu pengamat sosial politik.

Lalu orang yang kebetulan ada di sebelahnya-pun dengan semangat menimpali, “Benar apa yang dikatakan teman saya ini. Dalam mencapai tingkat pengkristalan sistem, setiap personal diharapkan dapat mempertahankan kekonsistennannya sebagai elemen sistem tersebut. Bahkan, dalam rangka memulai step-step selanjutya, kausa-kausa yang telah lalu cenderung dapat kita jadikan plafon dalam menghitung kadar kesatuan atribut-atribut sistem”. Lalu decak kagum diiringi hiasan tepuk tangan, menggema di ruangan sebuah seminar.

Dengan tema “Mari Memberantas Kebutaan Politik”, seminar itu dapat menjadi contoh betapa pintarnya mereka. Betapa pemikiran-pemikiran mereka selalu menggunakan prosedur keilmupengetahuan. Lontaran pendapat ataupun teori seakan merupakan solusi prima dalam menyelesaikan masalah. Atau merupakan masukan terbaik mengenai sebuah masalah.

Tapi rasa-rasanya kita sudah sangat sering mendengar atau menyaksikan sendiri banyaknya diskusi-diskusi maupun seminar-seminar yang intinya mencari jalan keluar masalah yang dialami masayarakat luas. Tentang kelaparanlah, tentang perbankanlah, atau mungkin tentang seks bebas. Dan nyata-nyata dalam pandangan kita, betapa masayarakat hingga kini masih saja terpuruk dalam ketidakjelasan ke mana arah negeri kita akan berlabuh. Kemiskinan tak kunjung habis. Krisis tak kunjung hilang. Dan moral tak kunjung baik.

Padahal, kalau kita simak di kehidupan sehari-hari, di Indonesia kita ini, begitu banyak para ahli yang dipercaya sebagai kaum intelektual. Kaum yang dengan serta-merta selalu mengeluarkan ‘kata-kata kuncian’ agar mendukung prediksi ataupun opini tentang bagaimana membawa Indonesia ke dalam keadaan yang lebih cerah. Lalu apa yang salah, siapa yang salah?

Rasanya sulit melihat siapa yang salah. Karena yang kita ketahui, bahwa para pecinta intelektualitas adalah diakui sebagai orang-orang yang akan mengabdi kepada masyarakat. Mengabdikan ilmu yang sudah terlalu menumpuk di kepala untuk kepentingan masyarakat. Bukan untuk kepentingan diakuinya mereka di mata masyarakat. Bukan untuk kepentingan diinginkannya mereka oleh ‘tim fungsionaris negara’.

Maka ada baiknya mereka yang mengaku berintelektualitas tinggi tidak hanya jago melontarkan kata dengan kadar intelektual, tapi juga fasih melontarkan kata berdasarkan hasil pemikiran mereka sebagai intelektual sejati. Sehingga masyarakat tak termakan indikasi-indikasi, implementasi, bergaining, step, konfirmasi, setback, atau apa saja yang justru membuat mereka merasa sebagai orang paling bodoh. Atau memang masyarakat kita memang sudah terbiasa dibodoh-bodohi dan saling membodohi?

(TOR-26-99)