Idea

REVOLUSI KREATIF

Prihatin. Sejah ini adalah sebuah kata yang tepat menggambarkan situasi bisnis dunia kreatif di Indonesia. “Lho, bukannya justru sekarang lagi maju-majunya?”, begitu sanggah seorang rekan. Ya, memang saat ini, setidaknya 2-3 tahun terakhir, bidang kreatif sedang dalam masa emasnya. Tapi, kalau saja publik tahu yang terjadi di sela masa keemasan itu, mungkin mereka juga akan bergumam sama. Prihatin.

Apa pasal sih? Begini, kebetulan saya hanya salah satu pekerja kreatif independen yang ada di Indonesia. Bekerja dengan modus mobile worker dan homebase business. Kebetulan juga -mudah-mudahan ada hubungannya- pekerjaan kreatif yang saya tangani adalah bidang desain grafis, dimana saya sendiri tidak memiliki background pendidikan desain. Hanya berbekal kemampuan yang telah dianugerahkan kepada saya, plus sedikit pengalaman dan dibantu bacakground pendidikan ilmu komunikasi yang telah saya tempuh.

Saya sendiri ragu, apakah kondisi yang telah saya -dan rekan-rekan seprofesi saya- alami, diketahui oleh para “petinggi-petinggi” di dalam dunia bisnis kreatif ini. Dalam hal ini anggaplah senior-senior bidang kreatif yang juga punya background kuat dalam menjalankan profesinya. Beberapa kali -bahkan sebenarnya acap kali- saya mengalamai betapa belum terbukanya mata publik non bidang kreatif, bahwa pekerjaan kreatif itu selalu melewati proses. Proses pemikiran ide, pewujudan ide, sampai kepada eksekusi. Tak usah jauh-jauh. Pada tahap eksekusi saja, proses pengerjaan banyak menggunakan perangkat bernama komputer. Dengan berbagai keunggulan spesifikasinya, dengan berbagai kehebatan dan kecepatan bekerjanya, dan pastinya, dengan berbagai keterbatasannya sebagai mesin yang dibuat oleh manusia.

Pekerja kreatif bukanlah tukang sulap. Yang bisa dengan sekejap merubah pisau jadi pensil, kelinci jadi burung. Contoh sederhana, ada yang namanya revisi desain. Oke-oke aja kok, kalau sebuah hasil desain direvisi. Tapi, harap maklum, bahwa semua ada prosesnya. Proses penggunaan software, editing, akurasi ukuran, proses komposisi. Atau revisi copywriting, gak beda jauh prosesnya. Dipikir dahulu, dicari kata-kata, dirangkai, diedit lagi, dan proses-proses lainnya. Dan tentunya yang sering dilupakan, proses istirahatnya si eksekutor.

Ironisnya, banyak mediator pekerjaan yang menjadi front person, sering juga lupa bahwa ada proses tadi. Kalau klien bilang begono, bilang bisa. Begini, bisa. Semua bisa. Padahal ia belum bertanya ke eksekutor. Akhirnya? Ya semua dipaksakan, terpaksa dilembur, terpaksa dikebut, terpaksa melek, terpaksa mikir, terpaksa.bla…bla…bla…… yang akhirnya berdampak hasil yang tak sempurna, akhirnya revisi lagi…. revisi lagi….. sampai kalau dihitung waktunya, justru sama saja kalau proses revisi diberi waktu yang masuk kategori “tidak buru-buru”, tapi akan meminimalisir kesalahan. Peliknya lagi, kerap target-target penyelesaian pekerjaan yang ditentukan menjadi tidak logis kalau di compare dengan standard kemampuan bekerja dari para eksekutor. Ya itu tadi, dianggap eksekutor adalah tukang sulap dan bernyawa lebih dari satu, serta dianggap “gak punya puser”.

Belum lagi ide-ide yang truuussssss… berkembang saat dipresentasikan hasil pekerjaan. Kalau ujung-ujungnya memang ide itu layak dieksekusi mungkin masih bisa kompromi. Tapi, justru seringkali sebaliknya. Ide-ide yang diorder untuk dikembangkan oleh para eksekutor malahan membuat semua jadi melenceng, dan itu justru disadari oleh penggagas pengembangan ide. Akhirnya -setelah berkola-kali ganti ide- diambil keputusan, “Ya udah deh bikin yang seperti awal aja…”. Hhhh…. cape deeeehh….

Inilah segelintir kondisi real yang terjadi di area bisnis kreatif yang saya jalani. Saya tidak tahu apakah ini hanya dialami oleh sebagain pekerja kreatif yang “sejenis” dengan background yang saya miliki, atau memang sudah begini culture-nya? Apakah “petinggi-petinggi” di dunia kreatif tahu hal ini? Who knows… Kalau memang tahu, apakah belum ada niat memberi edukasi kepada publik tentang pentingnya unsur proses dalam dunia kreatif? Who knows…. Kalau hal ini tidak ditindaklanjuti, saya khawatir, pekerja kreatif tak kan pernah beranjak dari profesi kelas dua!

Jadi, kalau boleh usul -dan saya kayanya yakin gak akan didengar, karena ada yang bilang “siapa elu sih..?”- bagaimana kalau segenap pekerja kreatif di Indonesia melakukan: REVOLUSI KREATIF. (seru kali yeee…… he…he..he…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s