KOPI TUMPAH

siluet_2

“Nak, kamu itu kan mau menghadapi ujian kenaikan jabatan sebulan lagi, Ibu cuma mau bilang ke kamu, kalau sebelum hari “H” ada baiknya kamu tahan semua emosi, nafsu buruk, dan hal-hal yang gak manfaat”, begitu pesan ibu kepada Amir.

Lalu seperti biasa Amir berangkat menuju kantornya dengan sepeda motor tahun 70-annya. Jalanan macet total, jangankan mobil, sepeda motor saja nyaris tak
bergerak (mungkin juga tikus, kucing, dan anjing juga tak bisa jalan…).

Braaakk!! tiba-tiba sebuah sepeda kumbang dengan pengendara seorang bapak setengah baya menabrak sepeda motor Amir. “Aduh…. gimana sih bapak!”, hardik Amir. “Aduh maaf dik, rem sepeda saya udah haus”, jawab sang bapak. Hanya beberapa detik Amir terdiam, tiba-tiba saja ia berkata, “Ya sudahlah gak apa-apa pak, toh motor saya pun gak ada yang rusak”.

Amir meneruskan jalannya menuju kantor, kebetulan pula lalulintas mulia lancar. Selancar asap rokok yang keluar dari seorang pedagang cermin di pinggir jalan.

Sesampai di kantor ia parkirakan motor di tempat biasa. Sebuah area parkir yang dekil, penuh puing, dan bersebelahan dengan tempat sampah. Dan cilakanya, baru saja ia parkirkan motor, seorang pekerja bangunan yang bekerja di tempat itu sejak sebulan yang lalu, membuang puing tanpa lihat sekeliling. Wussssshhh! debu berterbangan kemana-mana, termasuk menuju Amir. “Aduh… bajuku jadi dekil nih. Sial juga tuh orang, buang puing gak liat-liat”, gerutunya. “Hey mas, jangan sembarangan dong buang puing”, teriaknya. “Waduh, maaf bos. Beneran saya gak liat”, balas pembuang puing.

Sejenak Amir memejamkan mata. Lalu ia berucap, “Ya mas, gak apa-apa kok, maaf juga kalau saya tadi agak ngotot, maklum mas abis kena macet neh”. Lalu Amir bergegas menuju ruang kantornya.

Amir duduk di kursinya, ia seruput secangkir kopi yang sudah tersedia. “Sssrrrrttt….. Aahhhh…!”. “Hoy broer! Gmana kemaren?!”, tiba-tiba Dina menegur sambil mengagetkannya. Kopi yang dipegang Amir tumpah mengenai celana hitam yang dipakainya. “Aduuuuh… lu tu ya.. “, tegur Amir. “Sori Mir, sori… beneran gua gak ada niat bikin celanalu kena kopi. Sori deh…”, rajuk Dina. Untuk kesekian kalinya Amir terdiam sejenak. “Ya..ya… gak apa-apa, toh celana gua kan hitam, jadi gak keliatan kotornya”, tutur Amir.

Berselang 3 hari, Amir dipanggil big boss. Tak ayal Amir sedikit nervous. “Duh… ada apa nih”, pikirnya. “Din, big boss manggil gua nih tumben, kenapa ya, kayaknya gua gak punya salah deh?”, tanyanya pada temennya yang seksi itu. “Wah, gua gak tau Mir, mungkin dia kangen kali. Hi..hi…hi”, jawabnya sambil memegang lipstick dan cermin kecil.

Amir menuju ruangan big boss, Pak Ronald namanya. Pak Ronald memang agak jarang ke kantor, maklum bisnisnya banyak. Dari Properti, kosmetika, supermarket, hingga jual-beli tanah. “Saudara Amir, duduklah”, sapa big boss. “Baik pak”, balas Amir.

“Saudara Amir, anda sebagai sales perusahaan saya sudah lumayan lama. Kira-kira 3 tahunan kalau gak salah”, papar big boss. “Nah, kamu tau kenapa saya panggil ke sini?”. tambahnya. “Ee..ee..e.. tidak tau pak”, jawab Amir. “Begini saudara Amir. Saya dengan dari bagian HRD bahwa sebulan lagi kamu akan diuji untuk kenaikan jabatan. Tapi, kalu saya evaluasi dari hasil kerja kamu selama ini, dan tentunya juga prestasi kamu, saya sudah putuskan anda bersama teman-teman yang nanti juga akan saya panggil, mulai Senen depan…”. “Kriiiiiiiing….” tiba-tiba hp pak Ronald berbunyi. “Halo.. ya… ya… tapi nanti saya telpon deh, saya lagi meeting”. Amir berkesempatan mengambil nafas….

“Maaf tadi pembicaraan kita terpotong”, tutur big boss. “Begini, mulai Bulan depan anda dan teman-teman anda yang juga akan saya panggil, akan mendapat bea siswa untuk kuliah S2 di Universitas Indahnian. Saya
udah instrusksikan sekeretaris saya untuk urus semua”, jelas pak Ronald. “Dan, mengenai kenaikan jabatan,
mulai hari Senen, kamu saya angkat jadi Sales coordinator, dan tanpa ujian lagi”, tambahnya.

Sepulang kantor Amir masih tak habis pikir, bagaimana bisa ia mendapat “rejeki nomplok” yang baru saja diberikan big bossnya. Lalu ia berpikir, merenung, dan sepertinya ia menemukan jawabannya. “Oh… mungkin ini karena aku mengikuti apa kata ibuku untuk menahan emosi, nafsu dan meninggalkan hal-hal yang gak bermanfaat. Ternyata memang semua jadi lebih lancar tanpa terkira sedikitpun. Alhamdulillaah…”

Mulia hari itu Amir mendapat ilmu baru, bahwa ternyata apa yang dikatakan ibunya ternyata salah. Dan menurutnya yang benar adalah, bahwa menahan emosi, nafsu dan meninggalkan hal-hal yang tak bermanfaat seharusnya bukan hanya dilakukan sewaktu kita menghadapai hajat ataupun sebuah tujuan. Tapi, untuk setiap langkah selagi kita hidup.

NDELALAH…

siluet_11

Amat dan teman2nya yang lucu tinggal di sebuah desa. Desa yang dari jauh terlihat makmur, adem ayem, dan rukun antar warganya. Tapi Amat berpandangan lain. Desanya tak semakmur, adem (apalagi ayem), dan rukun. Ia resah, ia gundah, ia mau (maaf) muntah…

Desa Amat dkk dilintasi sebuah kali yang cukup besar (bahkan bisa untuk mandi dan berenang). Lima tahun terakhir, arus di kali begitu deras. Sudah banyak yang hanyut. Dari celana, baju, tempayan, sampai anjing piaraan.

Uniknya, di seberang kali terlihat bayang-bayang (agak kurang nyata karena selalu berkabut, maklum di kaki pegunungan), ada desa-desa lain yang tidak diketahui apakah makmur, adem ayem, dan rukun. Ndelalah… Amat sering berkhayal untuk menyebrangi kali dekat desanya. “Aku berani menyeberangi kali itu”, begitu selalu terucap dalam hati. Tapi, sering teman-temannya mengingatkan,”Mat, belum tentu lho di sana enak, udahlah di sini aja, kita terima keadaan, menderita dikit juga gak napalah…”

Lagi-lagi ndelalah… Amat bukan orang yang begitu saja menelan perkataan orang lain. Ia selalu berusaha berpikir independen (walaupun istilah independen di desanya gak ada yang tau…).

Suatu waktu ia berjalan mnyusuri pinggir kali sambil celingukan. Tiba2, ia bertemu seorang yang agak tua, dengan jenggot yang tipis tapi panjang. Amat belum buka pembicaraan, orang tua itu langsung memegang pundak Amat dan berkata, “Di dunia ini banyak orang berani. Tapi, tidak banyak orang yang yakin.”

Bermalam-malam, berhari-hari, berbulan-bulan ia memikirkan kata-kata itu. Sampai akhirnya usia bertambah. Dan ia sadar, waktu tak boleh dibuang-buang, ia menanamkan keyakinan bahwa ia harus menyebrangi kali sebelum arus bertambah deras dan menenggelamkan desanya. Maka dengan keyakinan (tentu juga keberanian) ia menyeberangi kali yang memang arusnya sudah semakin deras. Tak peduli apa kata orang, apa kata kepala desa, apa kata ketua RT, apalagi kata kepala keamanan desa.

Hhhh…. Amat berhasil juga menyebrang. Ia injak daerah baru yang ia tak pasti mengetahui seluk beluknya. Tapi, ia selalu ingat kata orang tua yang ditemuinya di pinggir kali tentang pentingnya keyakinan diri berada di atas keberanian.

“Ternyata selama ini aku buta. Aku terjebak oleh kabut yang selalu menyelimuti desa ini….”, ujar Amat yang telah menrasakan betapa pintu di desa lain ternyata sangat membuka diri baginya. Dan… Amat siap menjalani keberadaannya di desa baru itu dengan segala resikonya. Dan nyatanyapun Amat kini lebih bersemangat dalam hidup, lebih menikmati apa yang ia kerjakan sehari-hari, dan tentunya lebih mensyukuri nikmat berupa keyakinan untuk berubah lebih baik….