TINJAUAN PROFESI DAN MANAJEMEN KERJA DESAINER GRAFIS

DESIGN _ PROFESI-1Profesi desainer grafis juga mempunyai prisnip-prinsip dasar bekerja. Tak hanya itu, untuk urusan etika bisnis pun desiner grafis juga mempunyai panduan dasar. Dan selayaknya profesi-profesi yang lain, desainer grafis juga tak lepas dari keberadaan ilmu manajemen.

Dari literatur-literatur yang saya gali, baik dari buku, internet, maupun dari pengalaman sebagai desainer grafis, saya coba mengkompilasinya dalam bentuk rangkuman yang sedikit banyak dimaksudkan untuk dapat menilik keprofesian desainer grafis dan manjajemen kerja yang secara umum berlaku. Selamat membaca.

Bahan bacaan dengan format file PDF dapat diunduh dengan mengklik “DOWNLOAD” di bawah ini.

DOWNLOAD

Advertisements

PEDULI SEHAT Newsletter-Januari 2011

<click image to enlarge>

Vendor : VOX PUPULI Syndicate

Client : Yayasan Unilever Indonesia

Graphic design & Lay out : Yogasdesign & Tommy Alexander

Workshop Kecil di Bukit Berkabut

Tiba-tiba saja, Joko Dolok, seorang rekan yang juga fotografer dari Forum Kreativitas (FOK’R), organisasi berbasis dunia kreatif, menelpon saya. Ia mengundang untuk ikut hadir dalam acara pelantikan anggota organisasi tersebut sekaligus bicara-bicara (sharing) seputar perkembangan dunia kreatif, tanggal 13, 14 dan 15 Januari 2012. Lalu beberapa waktu kemudian, seorang rekan lain yang juga dalam wadah yang sama, Adi Prianda mengirim pesan seluler yang bunyinya, “Ente siap ya, Sabtu tanggal 14 Januari, ngisi materi desain, jam 1 – 3 siang”. Kontan saja saya respon dengan cepat, “Oke, tapi karena kalau workshop desain persiapannnya agak berat, bagaimana kalau diganti saja dengan obrolan seputar dunia kreatif secara umum? ”. Dan akhirnya kami sepakat.

Tepat pukul 7 pagi, Sabtu, 14 Januari 2012, saya ditemani rekan-rekan penggiat kreatif yang juga merupakan personil FOK’R, Chanang (script writer), Adi Prianda (fotografer), dan Gatot B.D. (graphic designer, fotografer), berangkat menuju sebuah penginapan berbukit di Mega Mendung, Puncak, Jawa Barat. Di sanalah tempat akan dilaksanakan sharing dan workshop bersama personil-personil FOK’R, terutama mereka yang tergabung sebagai peserta pelantikan anggota.  Sekitar pukul  9 pagi kami sampai di lokasi dengan sambutan hujan rintik-rintik dan kabut pagi. Lalu, beberapa cangkir kopi panas-pun tersaji. Sebuah suasana yang “mahal”. Tak lama kemudian beberapa rekan dari media datang. Setelah terlibat obrolan hangat sambil ngemil snack yang tersedia, di antara mereka ada yang harus kembali bertugas ke Jakarta.

Jelang waktu tengah hari, sharing & workshop yang harus saya pandu-pun dimulai. Dibuka oleh rekan Adi, lalu sayapun mulai menyampaikan bahan obrolan yang sudah di-sounding sebelumnya, Temanya : “Industri kreatif hari ini dan masa datang”. Dalam sesi awal, obrolan dimulai dari tinjauan historis diakuinya bidang kreatif sebagai sebuah industri. Dari transformasi  ekonomi berbasis agraris ke eknonomi berbasis industri. Dari pemberdayaan sumber daya alam ke pemberdayaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan tentu di dalamnya juga terkandung pengetahuan-pengetahuan umum mengenai bidang-bidang yang kini diakui sebagai bagian dari industri kreatif, seperti: musik, fotografi, website, video, film, seni pertunjukan, penerbitan, desain, arsitektur hingga riset.

Setelah mendeskripsikan beberapa kondisi industri kreatif yang kini sedang berjalan, pembicaraan mulai diarahkan ke kondisi masa depan. Dimana diperlukannya insan-insan kreatif berjiwa entrepreneur yang akan memberikan banyak kontribusi bagi pembangunan ekonomi. Sehubungan dengan pemanfaatan teknologi dan ilmu pengetahuan, juga tentunya sumberdaya manusia, maka inovasi adalah keperluan yang harus terus didorong produktifitasnya. Bentuk-bentuk kreatifitas baru harus terus dilahirkan. Yang tidak “merongrong” sumberdaya alam yang makin terbatas, yang makin berfikir efesiensi energi, dan tentunya biaya.

Lalu, dengan mengacu pada cepatnya perkembangan dunia digital, proses kreatif diakui banyak terbantu dengan hadirnya kemudahan-kemudahan. Menyadari bahwa kondisi hari ini adalah eranya informasi, maka banyaknya perubahan bentuk informasi dari atom menjadi bit menjadi perhatian pokok. Walaupun masih banyak informasi yang diterima masih berbentuk atom, seperti bentuk cetak dari surat kabar, buku, majalah, tabloid, tapi proses pembuatannya kini sudah berbasis bit. Dari pengumpulan data, foto dan gambar, layout, hingga pra produksi sebelum diaplikasikan pada kertas cetak, semua sudah terdigitalisasi. Pengiriman data dari luar kota, tidak lagi harus melalui bentuk nyata berupa benda yang harus dikemas lalu diposkan (atau masuk dalam paket titipan kilat). Tapi sudah melalui pengiriman dengan menggunakan proses serba komputasi. Email, cloud computing, hingga bentuk-bentuk komunikasi ringan via selular seperti chatting ataupun sms dan mms.

Beberapa gambaran makin digitalnya beberapa segi kehidupan di antaranya diberikan contoh, mesin penyaji kopi di gerai-gerai yang sering menjadi tempat “nongkrong”, kini tinggal pilih: jenis, ukuran. Sekali tekan, semua sesuai pesanan. Atau booming tablet PC dengan touchscreen dan swipe style nya. Satu perangkat menyediakan banyak kemudahan. Terhubung dengan internet, menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan, bermain game, hingga belanja. Seperti yang kini sudah mulai banyak diaplikasikan, yaitu digital magazine, bentuk penerbitan dengan basis digital ini, dijual dengan harga jauh lebih murah dari harga versi cetak.

Juga diakui, dengan laju perkembangan yang begitu cepat dari teknologi informasi, maka hampir semua produk-produk kreatif menjadi bagus. Dengan melakukan riset dengan serach engine saja, seorang fotografer dapat melihat hasil-hasil karya fotografi tingkat dunia yang dapat dijadikan acuan berkarya. Atau bermacam-macam tutorial desain yang tinggal “click” sudah didapatkan detailnya. Lalu mengemukalah tips & trick bagaimana mencuri perhatian dalam berkarya kreatif di antara makin banyaknya karya/produk kreatif yang semua berlomba-lomba “mempercantik diri” untuk mendapat perhatian publik. Selain menghasilkan inovasi-inovasi, perlu juga insan kreatif yang sudah mengkonsentrasikan dirinya pada satu bidang, mempelajari bidang-bidang lain yang berhubungan. Seorang graphic designer perlu mengetahui ilmu marketing, fotografi, hingga bisnis. Seorang fotografer perlu mempelajari ilmu periklanan, tata letak hingga manajemen. Begitu pula dengan bidang-bidang lain.

Setelah sesi sharing, maka workshop dimulai. Mengambil sample produk kreatif berupa majalah, peserta dibagi beberapa kelompok. Setiap kelompok diberikan tantangan untuk merancang penerbitan majalah, dari nama, perwajahan, hingga penulisan judul. Dari sini, sudah ada beberapa unsur kreatif yang masuk dalam kajian. Konsep kreatif, desain, fotografi, copywriting hingga kemampuan memperesentasikan proposal. Dengan tim penilai dari unsur internal organisasi (FOK’R) yang bersama saya berangkat dari Jakarta, Chanang dan Gatot B.D, ditambah dengan Eko HC (video editor). Setiap kelompok mendapat kesempatan mempresentasikan hasil mereka sekaligus didebat oleh peserta lain. Sesi workshop ini akhirnya ditutup sekitar pukul 13.00 siang dengan pengumuman hasil penilaian dan kesimpulan yang menjadi masukan berarti bagi semua peserta.

Begitulah yang berjalan di Sabtu, 14 Januari 2012. Alhamdulillah, amanat yang diembankan kepada saya berjalan dengan baik. Terlebih dengan sambutan dan antusiasme anggota FOK’R yang sudah sejak Jumat, 13 Januari 2012 berada di sana, maupun yang datang pada hari yang sama. Majulah terus FOK’R, berkreatifitaslah tanpa henti, dan tentunya: majulah dunia kreatif Indonesia!

VISUAL DESIGNER NONGKRONG BARENG VOL. 4

Menutup akhir tahun, acara “Visual Designer Nongkrong Bareng” kembali digelar pada Minggu, 18 Desember 2011. Masih tetap dengan style yang sama. Home to home event. Kali ini XODBOX Grpahic studio menjadi tuan rumahnya. Studio yang digawangi antara lain oleh Sapta “Bozo”, Bambang Suwito, Fajar, dan David ini,  berdomisili di kawasan Ciganjur yang penuh pepohonan. Acara digelar agak berbeda dari biasanya. Selain menu standard, workshop dan diskusi, kali ini acara “nongkrong bareng” juga menyajikan pameran mini dengan tema “Visual bebas bicara, bebas bicara visual”.  Pameran mini yang diisi hasil-hasil karya praktisi visual ini ditujukan untuk saling berbagi ilmu dan lebih mendorong semangat berkreatifitas dari para praktisi tersebut, dan tentunya agar saling mengetahui potensi yang ada hingga dapat berkembang biak menjadi jejaring kreatif yang solid. Terpampang 45 frame hasil karya visual dari 15 penggiat visual. Dari essai fotografi, packaging design, mobile ad, corporate design, print ad, digital imaging, hingga komik, animation project dan karikatur.

Selain diisi dengan pameran mini, acara kali ini juga mengikutsertakan praktisi dunia kreatif yang makin beragam. Graphic designer, layouter, kartunis, video editor, fotografer, web programmer, hingga print production specialist, dan dari praktisi event organizer. Seperti biasa, sesi pertama dilangsungkan workshop yang kali ini membahas komparasi image colour editing tools. Dan pada kesempatan ini Ferry “Pepenk” Ardianto, yang berprofesi sebagai konsultan desain dan freelancer, yang menyampaikannya.

Pembahasan difokuskan pada studi banding umum 3 tools untuk editing warna foto. Yaitu Capture One, Adobe Lightroom, dan adobe Photoshop default. Masing-masing tools dikupas secara permukaan. Baik kelebihan maupun kekurangan masing-masing. Diberikan juga  contoh foto yang hanya bersumber dari standard spot shot yang ternyata dapat di-edit dengan tidak memakan waktu lama. Hal ini diberikan contoh mengingat banyaknya tampilan foto bukan dari fotografer profesional atau spesialis yang terbilang tidak ideal dalam pewarnaan. Baik pada produk printing maupun web.

Sesi ke 2 dimulai sekitar setelah maghrib dan setelah jamuan makan malam. Dalam sesi ini dilakukan diskusi yang menyambung dari workshop di sesi 1. Yaitu “pertarungan” idealisme visual antara hobbiest fotografi, fotgrafer professional, creative designer, & creative management. Berdasar dari ukuran taste yang hingga kini memang terlahir tak mempunyai standard pasti, banyak terjadi  perbedaan-perbedaan dalam memandang sebuah obyek visual. Masing-masing memang mempunyai cara pandang beda. Dan kecenderungan dominasi asumsi memang sangat kuat. Di satu sisi eksekutor foto memiliki keinginan untuk menampilakan karya seperti yang ada dalam pemikirannya. Kemudian para ekskutor desain juga mempunyai cara pandang berdasarkan hasil akhir produksi, hingga kadang kala hasil kesepakatan justru bisa menjadi mentah di mata creative management. Dan lagi-lagi semua masih dalam kategori asumsi, hingga akhirnya yang terjadi adalah pertarungan asumsi dalam mengapresiasi karya visual.

Lalu diskusipun merambah bidang lain yang juga masih berkorelasi kuat dengan tema. Sebuah kasus yang diungkap oleh salah seorang peserta memaparkan bagaimana dalam proses penentuan jenis huruf (font) pada sebuah karya, dapat menjadi perdebatan panjang. Pemilihan font berdasarkan kapasitas seorang graphic designer seringkali tak mendapat “restu” dari creative management. Bahkan saat diadakan polling, hasil yang berpihak pada si desainer, tak kunjung juga mendapat persetujuan. Lalu apa yang harus dilakukan? Beberapa pandangan diungkapkan, bahwa dengan menggunakan studi literatur, riset, dan bahkan dengan menggunakan data empiris, hal-hal menyangkut pola pandang visual dapat menjadi kuat ketimbang hanya dengan menggunakan argumen berdasarkan asumsi. Mungkin tidak usah harus mencapai validitas dengan menggunakan riset mikro, cukup dalam tingkatan makro, hal-hal tersebut sudah dapat menjadi karya yang dapat dipertanggungjawabkan.

Akhirnya pada sesi ke 3 diisi dengan acara diskusi bebas. Dari sini para penggiat kreatif berbincang seputar hal-hal yang dapat dilakukan oleh hasil karya visual dalam rangka sumbangsihnya kepada masyarakat luas. Pembicaraan juga membahas bagaimana sebuah kegiatan seni visual kemasyarakatan bisa diusahakan mendapat perhatian dari masyarakat internasional, terlepas dari kemungkinan tidak adanya kepedulian yang sama dari dalam negeri. Tercetus wacana untuk melakukan edukasi berbagai bidang kemasyarakatan melalui seni visual yang dilakukan dengan metode “dari desa ke desa”. Metode yang diterjemahkan sementara sebagai bentuk gerliya visual ini memposisikan masayarakat dalam lingkup terkecil sebagai sasaran edukasi. Banyak hal yang bisa diperbuat untuk edukasi ini. Bidang kesehatan, narkoba, pendidikan, atau juga tentang kesadaran berdisiplin dalam berbagai bidang. Draft kasarnya, alangkah idealnya jika pameran bertema kehidupan masyarakat justru disajikan kepada masayarakat itu sendiri, jadi tidak hanya menjadikan mereka obyek visual yang hasilnya hanya digunakan sebagai hiburan mata kalangan yang sekedar bisa berdecak kagum atas hasil karya tersebut.

Komunitas visual designer ini memang bukan sebuah organisasi, yang otomatis juga tak memiliki strktur organisasi. Tapi, hal ini diyakini tidak akan menghalangi untuk dapat memberi atau bersumbangsih pada tatanan hidup sosial kemasyarakatan yang ideal. Yang jelas segala yang telah dilakukan dengan berpedoman pada kegiatan nirlaba selama ini, patut diberi apresiasi karena semua dilakukan dengan ikhlas, sukarela, dan semangat berbagi yang tinggi.

Mengutip dari teks yang tercantum dalam salah satu karya fotografi hasil jeperetan Anggri Sugiyanto, yang juga terpampang pada pameran mini di acara ini, “Kegembiraan ini jujur, walau tak di atas karpet beludru.” (.)

Berikut hasil karya visual yang dipampang pada “Pameran Mini” bertema “Visual bebas bicara, bebas bicara visual”

Company Profile LKC-DOMPET DHUAFA

<click image to enlarge>

Client : LAYANAN KESEHATAN CUMA-CUMA (LKC) – DOMPET DHUAFA

Copywrtiting : Yadi Sastro

Graphic design : Yogasdesign

Company Profile INJATAMA MINING

<click image to enlarge>

Vendor : FRANKY ALEXANDER Photography

Client : INJATAMA MINING

Photography : Franky Alexander

Copywrtiting : Warih Desantoro

Graphic design : Yogasdesign

BUMI KITA Bulletin #002

<click image to enlarge>

Vendor : VOX POPULI Syndicate

Client : Yayasan Unilever

Graphic design & Lay out : Yogasdesign & Titis Firmansyah