BUMI KITA Bulletin #001

<click image to enlarge>

Vendor : VOX POPULI Syndicate

Client : Yayasan Unilever

Graphic design & Lay out : Yogasdesign & Titis Firmansyah

Advertisements

VISUAL DESIGNER NONGKRONG BARENG vol.3

Acara nongkrong bareng kali ketiga ini agak berbeda dengan biasanya. Selain dilaksanakan di saat bulan Ramadhan 1432 H, atau tepatnya 20 Agustus 2011, acara ini (walaupun terkesan mendadak dilaksanakan) sengaja dibuat juga untuk mendengarkan sekaligus membahas presentasi akhir dari seorang mahasiswa Institut Manajemen Telkom, Bandung yang kurang lebih satu setengah bulan melakukan kerja praktek/magang di Yogasdesign. Bertempat di Yogasdesign Studio, pada kesempatan kali ini hadir selain beberapa penggiat desain, juga hadir senior copywriter & jurnalis, Yadi Sastro, dosen dari Sekolah Tinggi Manajemen Industri, Ridzky Kramanandita, dan seorang jurnalis lepas, Teddy Matondang.

Pada kesempatan di acara “Nongkrong Bareng” , Gema, begitu mahasiswa itu biasa disapa, mendapat kesempatan untuk mempresentasikan ide desain berkaitan dengan produk kuliner dengan spesialisasi minuman jus buah. Dengan menggunakan nama “Fresh Juice”, presentasi desain mengedepankan ide untuk menjadikannya sebagai brand yang akan di franchise-kan.  Pembahasan mengenai presentasi yang disampaikan menyangkut banyak hal. Diantaranya mengenai logo, pewarnaan, ikon, hingga tata letak dan pemilihan jenis huruf serta pembahasan mengenai eksekusi produksi dari setiap desain yang diajukan. Di sisi lain, cara ataupun metode penyajian presentasi-pun sempat menjadi pembahasan mendalam, terutama mengenai dasar dari asumsi ataupun pendapat yang tercantum dalam presentasi. Dianjurkan kepada penyaji agar lebih menggali sumber-sumber pustaka untuk memperkuat segala hal yang akan disampaikan.

Perlu diketahui, Gema Ganeswara, nama mahasiswa magang ini, teracatat mulai 7 Juli hingga 20 Agustus 2011 ia melakukan kerja praktek di Yogasdesign. Selama kurun waktu itu, Gema melakukan hampir semua kegiatan kreatif yang biasa dilakukan di Yogasdesign. Dari meeting dengan klien, membuat konsep, riset, hingga eksekusi. Dengan bekal yang sudah didapatnya di kampus, ia coba menyelasaikan tugas-tugas yang diberikan. Selain itu, ia juga mendapat “bonus”, yaitu workshop beberapa spesialisasi bidang desain dengan para praktisi. Retouch foto oleh Hadi, desain website oleh Sapta “Bozo”, desain media cetak oleh Ferry “Pepenk”,  konsep promo & marketing tools oleh Gatot BD, dan digital charicature oleh Andri “Qplex”. Selain itu, ia juga berkesempatan berkunjung ke beberapa rekanan Yogasdesign, termasuk bersosialisasi dengan rekan-rekan di komunitas kreatif.

Setelah sesi presentasi selesai, maka acara ini dilanjutkan dengan sesi diskusi seputar permasalahn di industri kreatif. Untuk kali ini isu yang diangkat adalah: “Menyiasati gejala terpuruknya industri printing”.

Fakta bahwa perkembangan dunia digital bergerak sangat cepat, tak ada yang memungkiri. Hampir semua sisi dalam keseharian masyarakat modern sudah didigitalisasi, dan tentunya termasuk di dalamnya adalah informasi. Kebutuhan informasi yang cepat dan murah menjadi pendorong kuat makin tumbuhnya digitalisasi informasi. Perilaku publikpun ikut berubah, walaupun tidak secepat perkembangan teknologi digital itu sendiri. Salah satunya adalah makin ramainya gadget/produk tablet pc dan smartphone di tengah masyarakat yang tentu juga makin diminati. Simpel, multifungsi, handy, trendy, mobile supporting, dan yang jelas sangat mendukung aktifitas sehari-hari, baik bekerja maupun bersosialisasi. Sebut saja iPad berbasis IOS, GalaxyTab dengan platform Android, juga Playbook yang jadi andalan RIM, produsen BlackBerry.

Seiring dengan membanjirnya smartphone dan tablet pc itu, maka perilaku publikpun sudah mulai bergeser. Untuk membaca surat kabar harian, pembaca tidak perlu lagi membeli di loper ataupun di outlet. Cukup membeli e-paper (sitilah untuk suratkabar digital) via sambungan internet, dengan lebih murah, dan langsung download. Begitupula dengan majalah, tabloid, dan lainnya, semua tinggal klik, bayar, download. Simpel dan jelas lebih murah.

Memang perilaku seperti ini di Indonesia belum sedahsyat seperti di negara asal gadget-gadget tersebut. Tapi, kalau melihat perkembangan mengalirnya produk-produk sarat teknologi, tak bisa disalahkan jika banyak yang berkata bahwa semua hanya soal waktu. Ingat saja, 25 tahun yang lalu siapa yang membayangkan bahwa mayoritas manusia di kota besar menjadikan handphone sebagai kebutuhan utama? Lalu, siap yang bisa mengira bahwa kebutuhan terhadap smartphone multifungsi seperti BlackBerry bisa menjadi genggaman hampir semua orang yang tak mau ketinggalan tren dan sudah melek internet? Harga yang dari masa ke masa semakin murah, fungsi dan feature yang semakin kompleks, menjadi beberapa faktor yang menarik bagi publik untuk memiliki dan menggunakannya.

Di siniliah beberapa kalangan menganggap bahwa kenyataan makin diminatinya media digital tersebut akan menjadikan industri printing bakalan terpuruk. Pada saatnya, semua suratkabar, majalah, tabloid akan menggeser cara penyajian kepada pembaca, dari proses cetak menjadi proses digital. Jelas dengan biaya yang jauh lebih rendah. Itupun sudah terlihat dari beberapa media cetak dengan kategori high quality magazine, hampir semua sudah melangkah dengan membuat edisi e-magz yang dapat dibaca melalui tablet pc dengan berbagai platform-nya. Dan, laku!

Lalu apa yang harus dilakukan para pemilik mesin cetak? Dalam diskusi ini ada beberapa hal yang mengemuka. Diantaranya, bahwa pasar menengah ke bawah yang masih lebih lambat dalam mengikuti perkembangan teknologi, masih bisa digarap. Kemudian, produksi packaging yang kebutuhannya belum terlihat ada tanda-tanda berhenti. Karena hampir semua produk di supermarket, mini market, sampai pasar tradisional, semua masih membutuhkan packaging. Para pemodal dalam industri cetakpun juga harus mulai berpikir digital, karena mesin-mesin cetak digital pun sudah sangat memasyarakat. Biaya cetak yang makin murah dan dapat melayani kuantiti yang tidak harus berstatus produk massal. Juga menggali potensi pasar di kalangan pecinta buku, yang relatif lebih idealis menggunakan buku dengan bahan kertas ketimbang digital.

Patut juga dicermati, perilaku terbalik yang ditunjukkan oleh perusahaan-perusahaan besar, termasuk di dalamnya instansi pemerintah. Yang kini justru sedang getol-getolnya menggunakan media cetak internal sebagai alat sosialisasi yang efektif kepada kalangan internal maupun eksternal. Inhouse magazine berbentuk buletin, majalah, newsletter dengan kuantiti produksi yang terbilang signifikan, dapat dijadikan pasar alternatif di antara kenyataan media cetak umum justru beralih ke format digital.

Sebenarnya masih banyak hal-hal yang dapat dilakukan para pemodal dalam industri printing. Selalu ada celah bisnis di antara perilaku publik Indonesia yang memang agak unik. Cenderung mengikuti tren, konsumerisme, tapi sekaligus memiliki tradisi kuat, terutama diluar area perkotaan. Jadi memang peluang berlanjutnya industri printing ini masih baik, tapi ada baiknya juga bersiap menyikapi perkembangan yang terus berjalan. Seperti telah disinggung, semua hanya soal waktu…

PEDULI SEHAT Newsletter-Juni 2011

<click image to enlarge>

Vendor : VOX PUPULI Syndicate

Client : Yayasan Unilever Indonesia

Graphic design & Lay out : Yogasdesign

MENU JAPANESE & KOREAN FESTIVAL

<click image to enlarge>

Creative Management : Yogasdesign

Graphic Design : Tommy Alexander

Client : DIMSUM FESTIVAL

Vendor : Yogasdesign.com

VISUAL DESIGNER NONGKRONG BARENG! vol.2

Untuk kedua kalinya, beberapa penggiat disain visual Jakarta berkumpul untuk “Nongkrong Bareng”. Tepatnya pada Minggu, 26 Juni 2011 bertempat di Yogasdesign Studio yang berlokasi di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Tak banyak beda dengan acara kumpul-kumpul yang sebelumnya, hadir di sini beberapa visual desainer dengan berbagai spesialisasi bidang. Media designer, web designer & programmer, packaging designer, hingga corporate designer.

Komunitas visual designer ini memang terkesan agak “liar”. Karena tak mempunyai wadah tetap atau organisasi (termasuk strukturnya), tak ada keanggotaan ataupun jumlah anggota tetap, dan tak ada waktu atau jadwal berkumpul yang tetap. Komunitas ini lebih terlihat sebagai gerak spontanitas berdasarkan kesamaan profesi sebagai visual designer. Terlepas dari pro-kontra, antusiasme, sinisme, bahkan cibiran dari kalangan sesama, memang komunitas ini tidak ingin membuktikan apa-apa maupun menunjukkan apa-apa, selain ingin memperkuat network yang di dalamnya mengandung kental semangat untuk saling berbagi, baik info, ilmu, maupun wawasan.

Pada kesempatan kali ini, selain beramah-tamah, acara “Nongkrong Bareng” menyajikan sesi workshop yang terdiri dari dua sesi. Sesi pertama bertema “Tinjauan Umum Web Development” dan sesi ke dua bertema “Penggunaan Trik Polar Panoraman pada Photoshop”.

Pada sesi pertama disampaikan oleh Sapta “Bozo” dan Bambang Suwito yang berprofesi sebagai web designer dan web programmer. Diuraikan pada sesi ini bagaimana proses awal pembuatan website dengan elemen-elemen penting yang terkandung di dalamnya, hingga tahap eksekusi programming sampai “ready to online”. Juga sempat dibahas mengenai perkembangan dunia printing yang sudah banyak dikombinasikan dengan dunia online, seperti bagaimana proses mengaplikasikan hasil printing ke media iPad maupun tablet PC lain yang biasa disebut dengan istilah e-paper. Tak ketinggalan juga pembahasan mengenai beberapa web browser ternama yang semua mempunyai kelebihan dan kelemahan.

Setelah sesi pertama selesai ramah temah dilanjutkan dengan sharing antar personal bagaimana memasarkan jasa kreatif agar bisa tercapai penghargaan yang rasional di mata publik. Dalam sesi sharing ini mencuat juga pembicaraan tentang pergeseran perilaku marketing jasa kreatif yang kini lebih terarah kepada perilaku public relation (PR) ketimbang perilaku sales. Walaupun disadari bahwa masing-masing mempunya sisi plus dan minus, tetapi dari perilaku pemasaran bergaya PR (baca “Pi-Ar”) hasilnya mempunyai daya tahan yang lebih baik dari cara-cara standar yang biasa dilakukan dengan perilaku pemasaran sales. Memang hal ini bukanlah sebuah kesimpulan, tapi dengan pembeberan beberapa contoh, tampaknya tren pemasaarn bergaya PR akan menjadi solusi di tengah kondisi umum menurunnya kepercayaan publik terhadap berbagai ketersediaan produk maupun jasa, khususnya di bidang industri kreatif.

Workshop sesi kedua disampaikan oleh Pepenk yang merupakan freelancer dan media design consultant. Kali ini ia menyampaikan tentang trik “Polar Panorama” yang menggunakan software Photoshop. Dengan beberapa contoh hasil eksekusi, diuraikan pula langkah-langkah dan hal-hal yang harus menjadi perhatian utama pada trik ini. Memang ada beberapa tools dasar di Photoshop yang sudah harus dikuasai agar trik dapat berjalan sesuai rencana. Dari pathing, cropping, brushing, patching, hingga penguasaan default filter. Nah, justru disinilah juga diberi penekanan bahwa default filter pada Photshop sebenarnya sudah dapat “berbicara” banyak untuk melakukan olah foto maupun gambar, yang saat ini banyak disebut sebagai “digital imaging”. Pada kesempatan sesi kedua inipun juga dilakukan komparasi dengan kemampuan lensa pada kamera untuk membentuk wujud “Polar Panorama” tsb.

Jalannya acara ini ternyata keluar dari rencana awal. Yang sedianya akan diakhiri pada pukul enam sore, ternyata setelah berakhirnya sesi workshop kedua, sesi sharing berlangsung kembali. Pembahasan bermuara dari kenyataan bahwa edukasi terhadap publik tentang proses kreatif belum sepenuhnya disadari oleh pihak-pihak yang terlibat pada industri kreatif itu sendiri. Kendala eksekusi prima yang biasanya terbentur dengan deadline yang sempit, menjadi pembahasan menarik. Hingga sistim kerja pada industri kreatif pada setiap institusi maupun individu yang terlibat perlu dijadikan “pagar” agar hal-hal yang menjadi sandungan dalam keseluruhan proses bisa diminimalisir. Tampaknya masih banyak persoalan yang bisa dibahas dalam diskusi model non formal seperti acara “Nongkrong Bareng” ini, dan disepakati bahwa persoalan-persoalan itu akan dijadikan pekerjaan rumah yang ke depan memang harus dicarikan solusi.

Akhirnya waktu juga yang membatasi, dan pada pukul setengah sembilan malampun kumpul-kumpul atau nongkrong bareng atau apapun namanya disudahi dengan menyisakan senyum di masing-masing peserta. Belum ditentukan kapan acara berikutnya akan dilaksanakan, yang jelas semua sepakat untuk terus berkumpul dalam rasa ingin berbagai antar sesama. Semoga.

VISUAL DESIGNER NONGKRONG BARENG!

Minggu, 13 Februari 2011 sejumlah penggiat desain visual Jakarta berkumpul di Langsat Corner, Jl KH. Ahmad Dahlan, Jakarta Selatan. Mereka terdiri dari insan-insan kreatif dari beberapa bidang. Desainer penerbitan, packaging, scluptur, kartunis, karikaturis, desainer web, multimedia, hingga tattoo & bodypainting. Keseharian merekapun beragam, ada yang menjalani profesi sebagai konsultan, freelancer, profesional di beberapa institusi industri kreatif, dan bahkan sebagai dosen terbang untuk sejumlah perguruan tinggi.

Walaupun ada beberapa yang sudah saling mengenal, event yang dibuat dengan format informal ini mempertemukan para visual designer yang sebelumnya tidak saling mengetahui. Dengan koordinasi online mereka akhirnya bisa bersilaturahmi, saling mengenal, bertukar ilmu, dan tentunya bertukar segala informasi seputar dunia kreatif, seni rupa, serta desain grafis.

Dalam pertemuan yang lebih terlihat sebagai acara “Nongkrong Bareng”, juga terjadi diskusi serius seputar beberapa permasalahan yang mengemuka dan sering dihadapi para praktisi visual design. Diantaranya adalah permasalahan seputar client service, project management, capacity upgrading dan edukasi tentang proses kreatif.

Beberapa pendapatpun bermunculan. Misalnya tentang minimnya penghargaan terhadap proses kreatif. Masih menjadi teka-teki yang sudah berjalan lama, apakah pengguna jasa kreatif baik disain maupun pekerjaan secara keseluruhan, sudah mengetahui atau menyadari bahwa setiap pekerjaan perlu proses yang tidak sederhana. Proses yang terjadi bukanlah sekedar sulap yang dengan “simsalabim” semua bisa berubah. Ada hal-hal yang tak bisa diabaikan dalam proses kreatif itu. Dari menterjemahkan ide menjadi konsep, memikirkan aplikasi yang sesuai dengan ide awal, mempersiapkan materi-materi yang dibutuhkan dalam eksekusi, hingga penggunaan software komputer yang sangat tergantung dari kapasitas yang dimiliki komputer itu sendiri.

Dari persoalan itu, lalu juga terkait dengan bagaimana sebuah pekerjaan ataupun proyek, bisa dikerjakan dengan jadwal yang rasional, logis, dan dapat dipatuhi semua pihak-pihak terkait. Sempat diberikan contoh tentang sistem kerja majalah, yang akrab dengan deadline periodik. Pentaatan waktu penyetoran materi lengkap sangat berpengaruh terhadap waktu terbit yang direncanakan. Dan masalah klise yang sering dihadapi oleh beberapa media ini memang ujung-ujungnya akan berefek pada “kerja ekstra” pada tahap eksekusi, disain dan layout. Dan tak dapat dipungkiri defenisi materi lengkap inipun kerap menimbulkan permasalahan pada bidang jobdesk. Siapa yang menyiapkan foto hasil riset di internet? Siapa yang harus mengetik naskah berdasarkan materi hardcopy? dsb.

Koreksi terhadap tuntutan kapasitas para visual desainer juga mengemuka. Bahwa tuntutan atas penghargaan proses kreatif selayaknya juga dibarengi dengan peningkatan kapasitas dan kualitas individu-individu penggiat visual desainer. Kesadaran membentuk diri sebagai profesional yang bertanggung jawab harus ditunjukkan. Hasil akhir, kinerja, etos kerja, kemampuan menterjemahkan ide, kemampuan bahasa, kemampuan presentasi atau juga kemampuan berkomunikasi, hanya beberapa hal yang harus jadi perhatian.

Banyak lagi persoalan-persoalan yang dibahas yang akhirnya membuat diskusi berkembang ke beberpa aspek lain yang tidak kalah penting. Yaitu bagaimana memberikan edukasi kepada publik tentang proses kreatif, pembuatan standar alur kerja yang bisa diaplikasikan untuk berbagai bidang dalam industri kreatif, termasuk pembahasan agar ada lembaga perlindungan bagi pekerja kreatif, juga tentang tanggung jawab individu atas segala hasil kerasnya sendiri agar tidak menjadi sia-sia hanya karena perilaku menyimpang yang tidak perlu seperti penggunaan narkoba.

Memang, hampir semua masih sebatas ide. Tapi harapan selalu ada. Ide-ide yang telah terlontar tak ada kata tak mungkin untuk direalisasi. Tentunya semua akan lebih mudah jika dukungan dari segenap insan dan unsur-unsur di industri kreatif juga terhimpun. Dan langkah awal di acara “Nongkrong Bareng” ini diharapkan dapat menghasilkan langkah-langkah nyata di waktu yang akan datang, di pertemuan-pertemuan berikutnya. Waktu yang akan bicara!

PEDULI SEHAT Newsletter-November 2010

Vendor : VOX PUPULI Syndicate

Client : Yayasan Unilever Indonesia

Graphic design & Lay out : Yogasdesign & Tommy Alexander