MENELUSURI PELUANG BISNIS DI ERA DIGITAL

PowerPoint PresentationKeberadaan internet menjadi tonggak kejayaan teknologi digital yang tak lagi menjadi pilihan tapi menjadi keharusan dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk kepentingan individu maupun bisnis.

Tak bisa dihindari, jika kita bicara perkembangan teknologi digital, berarti kita harus bicara keberadaan internet. Dan transformasi digital yang mengacu pada perubahan yang terkait dengan penerapan teknologi digital dalam semua aspek masyarakat, makin terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam bahan bacaan berbentuk presentasi ini, saya coba mengurai hal-hal dipermukaan berkenaan dengan peluang-peluang bisnis yang ada di era digital. Walaupun belum secara detail, saya berharap apa yang tertuang dapat menambah wawasan yang membacanya.

Semoga bermanfaat.

Bahan bacaan dengan format file PDF dapat diunduh dengan mengklik “DOWNLOAD” di bawah ini.

DOWNLOAD

GRAND SCENARIO “TRIPLE DOUBLE U”

scenicreflections.com

Tak pelak, kemajuan teknologi informasi bisa dikatakan belum ada yang sanggup membendung. Dari periode ke periode, terasa sekali banyaknya kemajuan yang tak terkira. Hitung saja dari era penulisan di batu hingga sandi dan simbol sampai tablet pc atau smartphone. Luar biasa! Saya coba flashbacksekitar 20 tahun yang lalu, sama sekali di kala itu tidak membayangkan bahwa handphone akan menjadi kebutuhan primer seperti saat ini. Begitupula dengan internet, yang pertumbuhan tingkat kebutuhannya sudah melampaui hitungan dari tahun ke tahun.

Dari uraian singkat yang memang belum menyentuh hal-hal mikro itu, saya punya analisa pribadi. Yang tidak ada kewajiban bagi khalayak umum untuk meng-iya-kannya. Karena analisa ini sangat subyektif berdasarkan fantasi-fantasi yang merngurut hal-hal kejadian masa lalu, masa kini, hingga bayangan masa datang.

Begini. Hakikatnya (menurut saya) jalannya hidup itu adalah perjalanan ke titik nol. Diawali dari nol menuju nol. Dari tiada menjadi ada, lalu kembali lagi menjadi tiada. Kalau boleh disketsakan, skemanya mirip seperti gambar balon tiup yang menggelembung, lalu kita ambil awal dari  pangkal tempat balon ditiup kemudaian menuju area gelembung teratas, dan akhirnya turun lagi menuju pangkal.

Sebuah benda, ada karena proses penciptaan dari tiada, lalu setelah difungsigunakan hingga mencapai titik maksimal, ia akan perlahan maupun cepat menjadi tak berfungsi guna, dan akhirnya bernilai nol. Atau yang paling gampang dan sangat harfiah. Manusia, dari tiada, lalu dilahirkan kemudian menjalani proses hidup hingga melewati masa puncak, entah di usia berapa, lalu bisa perlahan-lahan ataupun secara tiba-tiba, menjadi tiada. Begitupula bisa lihat pepohonan. Dari tiada, lalu ditanam atau tertanam benih-benihnya hingga ia tumbuh dan produktif menghasilkan buah sampai masa yang tak bisa diprediksi, kemudian perlahan mengering hingga mati, dengan proses alami maupun kesengajaan oleh anggota alam lainnya, seperti manusia ataupun hewan.

Lalu apa hubungannya dengan kemajuan teknologi ataupun teknologi informasi? Seperti telah disinggung, jaman dulu kala kebutuhan menyampaikan informasi tidak seagresif masa kini. Baik dengan penyampaian simbol  atau dibawanya surat tertulis oleh burung kepada penerima informasi dan bentuk-bentuk lainnya. Lalu seiring perjalanan waktu bentuk-bentuk ataupun cara-cara itu terus berkembang. Hingga penemu-penemu brilian menemukan cara-cara yang lebih cepat dan efektif. Ditemukannya mesin sandi morse, telepon maupun telegrap harus diakui merupakan salah satu catatan sejarah terbaik dalam kemajuan teknologi informasi.

Dan… lihatlah hari ini! Handphonesmartphone, tablet pc, internet,atau smart tv adalah benda-benda yang mendominasi. Betapa kebutuhan dan agresifitas berinformasi begitu luar biasa. Dan itupun terus berkembang. Dengan keluarnya model-model baru yang bertujuan sama: mempercepat, mempermudah. Hingga seluruh pelosok dunia dapat bertukar informasi dengan hitungan kecepatan cahaya. Pertanyaan yang mengganggu saya adalah, apakah hal ini merupakanh puncak peradaban manusia hingga nanti akan mulai menuju kemunduran, atau masihkah akan terus bergerak maju sampai pada waktu, yang bisa jadi saya sendiri belum tentu mengalaminya?

celebritywonder.ugo.com

Beberapa kali saya melihat film serial di televisi maupun layar lebar yang terkesan sekedar khayalan. Seperti Buck Rogers, Star Wars, Star Trek, Mad Max, hingga Lord of the Rings. Mengapa tiba-tiba saya seperti tersadarkan, bahwa arah perjalanan hidup ini menuju ke arah yang ditunjukkan dalam film-film tersebut? Serba canggih, komunikasi serba virtual dan sekali sentuh, kehancuran kota-kota besar karena peperangan antar suku, antar wilayah, antar planet hingga antar galaksi, dan kemunculan peradaban baru dengan lahirnya spesies-spesies baru makhluk hidup, termasuk manusia dengan bahasa-bahasa varian barunya. Dari telanjang menjadi telanjang, dari biadab menjadi biadab, dari kanibal menjadi kanibal, dari primitif menjadi primitif. Dari tulisan di daun, batu dan kayu menjadi tulisan di atas media yang sama lagi, daun, batu dan kayu.

Kok bisa saya berpikir seperti itu? Coba lihat. Belahan dunia manapun kini dengan mudah bersitegang, berkonflik, saling menyerang. Kelompok dengan kelompok, komunitas dengan komunitas, sampai Individu dengan individupun juga begitu. Apa pasal? Salah satunya: makin cepat dan mudahnya laju informasi. Saat ini, adu domba hanya pekerjaan sekali sentuh. Tidak adanya lagi tembok-tembok penghalang untuk mengatakan segala yang ada di benak, itu hanya hal sederhana. Bahkan dengan teknologi informasi yang ada, tak ada lagi yang bisa mencegah orang lain untuk mengorek-ngorek rahasia. Bahkan rahasia negara sekalipun, termasuk mengorek brankas bank!

Dari sini saya lalu berpikir, penemuan brilian apa yang bisa menjadi catatan penting setelah para penemu pendahulu menemukan benda-benda dasar teknologi informasi? Ya!! Triple double U alias www (World Wide Web). Lalu saya coba bandingakan dengan proses kemajuan yang ada dan telah terjadi. World Wide Web (www) yang hingga kini telah menggeser perilaku berinformasi, telah banyak mempengaruhi berbagai sisi kehidupan. Baik keseharian hingga ekonomi bisnis. Termasuk munculnya jargon “Go Green” yang menurut saya lebih kepada doktrin ketimbang gerakan. Karena sebenarnya yang terjadi hanya pergeseran cara orang dalam menggunakan produk yang sarat kandungan hasil alam. Contoh; dari kertas menjadi online. Padahal pembatasan penggunan kertas dengan alasan makin menipisnya ketersediaan kayu beserta pepohonan, tak pernah dibandingkan langsung dengan seberapa dahsyat eksplorasi sumber daya alam yang digunakan untuk menghasilkan listrik yang dibutuhlkan dalam dunia online.

Selanjutnya dengan keberhasilan pergeseran perilaku tersebut, “Triple double U” berkembang menjadi World Without Wire (dunia tanpa kabel), dimana bentuk-bentuk perpindahan inforamsi semua mengarah pada komunikasi nirkabel. Tengok saja benda-benda yang telah disebut, handphone hingga tablet pc.Saking cepatnya perkembangan teknologi informasi ini, pada sebuah forum resmi seorang konsultan multimedia marketing pernah mengemukakan, bahwa sudah ada website khusus pemantau suratkabar cetak yang tutup atau bangkrut.Tapi ia lupa, bahwa ternyata belum ada website khusus pemantau media online yang berkondisi sama, mati. Dan saya yakin, justru jumlahnya luar biasa banyak, karena kematiannya pasti semudah membuatnya.

blogcdn.com

Kemudian”Triple double U” semakin berkembang menjadi World Without Wall (Dunia Tanpa Dinding), bahwa tak ada lagi dinding penyekat antar individu, wilayah, dan tentunya antar belahan dunia. Akses informasi dengan mudah didapat dengan internet dan segala turunan produknya: dari website, weblog hingga social media. Akses yang sangat terbuka dan dapat dibuka dengan cara legal maupun ilegal adalah yang terjadi dimanapun saat ini. Ingat dengan kasus Wikileaks? atau di-hack-nya website Mabes POLRI? itu hanya contoh di permukaan. Atau mau bicara content? seorang bocah SD yang baru hitungan bulan mengenal dunia website, sudah fasih mencari dimana ia bisa melihat perilaku hubungan badan antara dua orang dewasa. Ya, pornografi menjadi mudah terakses oleh siapapun!

Lalu yang kini mulai menggejala dan sedang dalam proses menjadi habit, World Wide War!!! Perang yang berkecamuk diseantro dunia. Lihat people power di Mesir dan Libya, terdapat peran penting jejaring Twitter dan Facebook. Riot in London, dengan Balckberry Messenger dan Facebook, atau tweet war anntar selebritis Indonesia yang sudah di luar kewajaran. Luar biasa dahsyat! Inipun juga menggejala di tatanan hidup masyarakat yang tersederhana. Makin bebas berbicara dengan social media membuat tumbuhnya kembali narsis kedaerahan yang menjadi rasis terselubung. Lalu pemaksaan doktrin komunitas yang bebas bergentayangan menyerang siapapun tanpa rambu-rambu, atau info-info sarat kepentingan pribadi yang membuat orang mengkerutkan dahi karena semua merasa punya hak berbicara. Demokrasi, begitu alibi yang jadi tren terkini. Padahal saya sendiri belum menemukan literatur yang mengatakan bahwa “mazhab” yang kini bersentral di negeri yang ditemukan Colombus itu adalah yang paling baik bagi tatanan kehidupan dunia. Padahal nyatanya hanya membuat individu semakin “kerdil” dengan artian semakin sensitif, emosional, melakonis, dan cenderung over pride.

up.neutek.ned

Kemudian apa selanjutnya? Sayapun hanya bisa berandai-andai, bahwa setelah peperangan terjadi dan memuncak, lalu terwujudlah World Without Wealth, dunia tanpa kekayaan. Semua kekayaan bumi habis tak tersisa, hancur, porak poranda, kembali menjadi nol! Dan inilah yang juga sejalan dengan hakikat jalannya hidup, dari nol menunju nol. Justru makin agresif manusia menuju kemajuan untuk mencapai puncak peradaban, makin dekatlah dengan perjalanan ke titik nol.

Dan itu pasti, karena memang begitulah jalur hidup ini semua akan kembali pada titik tiada. Tinggal manusia yang memutuskan, apakah terus ingin terburu-buru mencapainya, seperti makin terburu-burunya ingin mendapatkan informasi, maupun makin terburu-burunya berperikehidupan sehari-hari hingga merasa semua pekerjaan sebisa mungkin diselesaikan dengan cepat melebihi batas-batas yang sudah ada. Tak salah memang, jangankan bekerja, untuk berdoapun manusia selalu terburu-buru memohon permintaannya dikabulkan oleh Tuhan.

Bagaimanapun dalam hati kecil, saya tak ingin terbawa arus “Grand Scenario” ini. Walaupun kenyataannya, tak  bisa dihindari, harus mengikuti perkembangan yang ada. Yah…, setidak-tidaknya dengan uraian berdasarkan fantasi ini , minimal untuk saya pribadi dapat memberi batasan-batasan atau standar bagaimana menyikapi perkembangan teknologi, termasuk teknologi informasi. Karena tulisan yang saya tulis inipun jauh dari memenuhi syarat atau jauh memenuhi kelengkapan kaedah-kaedah dasar penulisan, apalagi studi pustaka maupun literatur.  Hanya sekedar ber-ide tiba-tiba, saat menyeruput secangkir kopi hitam… slurp..ahhh…..