POPULAR MAGZ – JANUARI 2010

<click image to enlarge>

Lagi-lagi….. “dinas luar” sebagai konsultan disain majalah POPULAR…

Lagi-lagi….. deadline yang ketat…

Lagi-lagi….. cover harus di pooling…

Lagi-lagi….. kerja lembur…

Lagi-lagi….. pindah percetakan…

Lagi-lagi….. POPULAR berhasil terbit sesuai target!!

(Lagi-lagi…) Good job, team!

(Padahal sempet terlontar kata-kata dari beberapa awak POPULAR: kok deadline-nya gak sampai malem sih, masih sore begini sudah kelar…. eh ternyata setelah melalui proses finishing…. jam 2 pagi juga selesainya… dasar deadline… larut-larut juga kelarnya… “kuclaksss…”)

Advertisements

POPULAR MAGZ – DESEMBER 2009

<click image to enlarge>

Menjadi demokratis itu mudah-mudah gampang. Maaf, maksudnya gampang-gampang susah.

Ini saya alami ketika bertugas sebagai konsultan desain di majalah POPULAR untuk terbitan  bulan Desember 2009. Seperti layaknya sebuah media, masa deadline cenderung mencekam. Waktu yang terus berjalan, target waktu cetak untuk mengejar disiplin waktu terbit, semakin dekat.

Apa mau dikata, namanya juga bekerja, kadang berada di puncak kadang berada di bawah. Materi isi majalah terhitung meleset sampai ke tangan bagian artistik. Konsekuensinya: lemburrrrrrrrrrr…………… Secara logika hampir tak masuk akal menyelesaikan tahap akhir majalah dengan waktu efektif 2-3 hari. Untungnya sudah beberapa bagian dicicil untuk siap masuk produksi oleh bung Fajar dan jeng Dian. Di sinilah masing-masing personal yang terlibat harus berhati besar untuk menjadi demokratis. “Gimana materi, dah kelar?”, “Wah, besok kayanya nih mas”. “Oh, ya udah, besok digeber ya”. Begitu sedikit percakapan di “area eksekusi”.

Akhirnya majalah POPULAR edisi Desember selesai di desain dan lay out. Termasuk cover, yang justru merupakan pekerjaan sederhana paling berat karena harus memperhatikan detail secara teliti. “Ah…. aman….”, pikir saya bersama Mr. Siswanto, tandem saya di Jum’at malam yang bergelimpangan roti bakar dan martabak telor.

Senen pagi saya kirimkan file cover baru yang saya tambahkan alternatif foto. Itupun atas ijin Mr. Siswanto dulu. Dan saya lega, “Bisa, kirim aja dulu”, kata Sis di Sabtu (atau Minggu ya?) siang.

Akan tetati……. Eh, akan tetapi…., Senen siang Wapemred Popular menelpon saya. “Mas, ada perubahan nih foto cover…bla…bla…bla….., yang kemaren dan yang tadi dikirim gak ada yang kita pakai”, begitu jeritnya. “Bisa ketemu Gramedia gak, kita edit di sini biar selesai sekalian”, tambahnya sambil menghisap rokok. “Ok, saya edit dulu di rumah, dan segera meluncur ke Gramedia”. Dengan ojek saya meluncur deras bagai panah (ck..ck..ck….). Dan sampai di Gramedia langsung menuju ruang pra-produksi. Edit punya edit, dan jadilah cover majalah POPULAR edisi Desember 2009.

Nah, betapa memang, kesanggupan kita mendengar, memperhatikan, ataupun menghargai ide orang lain, harus teruji. Disitulah kita makin dekat menjadi orang besar. Terlepas nantinya ide siapa yang dijalankan, dan hasil akhirnya seperti apa? Apakah plus atau minus. Ada yang lebih penting, yaitu tadi, menjadi pribadi yang demokratis, termasuk nantinya tidak menjadi orang yang mencari-cari kambing hitam saat hasil yang diinginkan tidak tercapai. Akuilah bahwa semua merupakan hasil kerja kolektif dan atas kesepakatan bersama. Kalau hasil kurang memuaskan, teruslah berjuang, perbaiki yang belum baik, pertahankan yang sudah baik. Seperti judul lagu D’Masive : Jangan Menyerah…. Atau kata managing editor POPULAR yang selalu berujar kepada saya, “Kuclak…kuclak… kayanya neh mas……” Gak tau apa maksudnya…. dasar, managing editor yang aneh ya….

POPULAR MAGZ – NOVEMBER 2009

<click image to enlarge>

Saat saya menjalani tugas sebagai konsultan desain majalah POPULAR di bulan Oktober 2009, keadaan sedikit berbeda. Fakta bahwa redaksi POPULAR berpindah tempat harus dihadapi. Masa transisi perpindahan tempat memang penuh resiko jika lengah sedikit saja.

Kantor baru POPULAR sedang dalam masa renovasi. Sementara awak redaksi berpindah ke daerah Senayan. Bekerja dalam ruangan yang tidak di-setting untuk pekerjaan jurnalistik, dan waktu yang sangat terbatas karena bersamaan dengan “boyongan” pindah tempat.

Beruntung POPULAR mempunyai tim dengan diisi anak-anak muda. Energik, kreatif, dan pantang menyerah. “Pokoknya apapun kondisinya POPULAR harus terbit!”, kata mereka. Dan…. ya, POPULAR terbit sesuai jadwal yang sudah direncanakan.

Memang, ternyata inilah saatnya anak-anak muda bicara, yang tua mendukung dari belakang. Good job team!

POPULAR MAGAZINE COVERS

<click image to enlarge>

This is the results of my work as a design consultant for POPULAR magazine