Ingin Jadi Tuhan


siluet_4

Setiap manusia sudah dianugerahi nyawa sejak ia lahir. Bahkan rohnya sudah dimasukkan saat berusia 4 bulan dalam kandungan, termasuk takdir-takdirnya. Sebuah bentuk berkah yang merupakan modal utama kita untuk bernafas di dunia. Kemudian, seorang manusia juga sudah dianugerahi nafsu, emosi, akal dan pikiran. Anugerah yang begitu sering digunakan oleh manusia dalam mengatur irama hidup, dan selalu saja membuat penghuni bumi kerap tertawa, sedih, menderita, bahkan menjadi khilaf.

 

Sampai saat ini, memang manusia masih diberikan waktu untuk meramu jalan hidupnya. Pengaturan nafsu, emosi , akal dan pikiran, akan menolong penemuan jalan terbaik bagi kepentingan manusia menghadapi akhir jaman. Dan bukan tak mungkin, justru penemuan jalan terburuk adalah “rejeki” yang didapatnya. Tak ada yang sanggup menerka.

 

Kemampuan yang ada dalam setiap manusia, adalah sah jika digunakan untuk menyambung hidup. Keinginan untk menjadi sempurna di hari depan, adalah sah jika dicita-citakan setiap insan. Dan kumpulan anugerah yang memenuhi diri seseorang, ditakdirkan untuk membuat manusia bersyukur. Bukan lantas membesarkan kepala hanya untuk mencapai kesempurnaan, yang lambat laun menuju keinginan melebihi-Nya.

 

Manusia bukanlah Tuhan. Manusia adalah makhluk yang di dalamnya terdapat kelebihan dan kekurangan. Sebesar apapun gelembung keinginan bermuara di dalam diri, haruslah berkompromi terhadap takdirnya sebagai makhluk Tuhan. Makhluk yang takkan bisa melebihi-Nya. Makhluk yang seharusnya sadar terhadap keadaan dirinya, juga sekelilingnya. Makhluk yang tak bisa menyangkal ketidakberdayaan di hadapan-Nya.

 

Kita bisa melihat, betapa bangganya individu yang begitu sadar bahawa ia punya potensi. Kita bisa melihat, betapa canggihnya otak manusia sehingga ia harus meladeni kemampuannya yang lambat laun ingin menjadi paling sempurna.Kita sudah banyak melihat dan juga mendengar, keinginan berhasilnya hidup yang juga menyertakan ego dan kepentingan tanpa batas, serta merta menjadi sifat yang “sah-sah saja” digenggam manusia.

 

Dari bekal ilmu, potensi individu, serta kemajuan jaman, seorang manusia terpacu untuk mengikatnya menjadi satu. Sampai-sampai ia lupa bahwa yang paling berhak menciptakan hanyalah Yang Maha Pencipta. Bahawa yang paling berhak menyandang gelar penguasa, adalah Yang Maha Penguasa. Lantas, mengapa kita harus berlomba untuk menyamakan diri dengan-Nya?

 

Kalau Sang Pencipta saja sudah diniatkan untuk disamakan kemampuannya. Bagaimana dengan sesama manusia? Apakah harus, manusia-manusia yang bersama hidup di alam fana ini, tak dianggap sebagai manusia? Tak diangap sebagai makhluk ciptaan Tuhan, yang juga berhak mempunyain potensi dan berhak mempunyai kemampuan?

 

Boleh-boleh saja kita bangga dengan potensi. Boleh-boleh saja kita menunjukkan kemampuan, Tapi, perlulah diingat bahwa, yang berpotensi tak hanya satu, dua, atau tiga. Setiap insan punya potensi, punya kemampuan, punya akal, punya budi, serta punya nafsu dan emosi. Setiap makhluk punya jatah yang sama sebagai makhluk. Setiap makhluk sudah punya bagian yang telah dibagi-bagikan berupa rahmat, berkah, hidayah, sampai dengan rejeki dan musibah.

 

Sifat individualistis bukan tak boleh diaplikasikan. Tapi kalau saja sifat ini terus merajalela, bukan tak mungkin, di luar kesadaran manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya, ia hanya peduli dirinya. Seseorang hanya peduli dengan nasibnya. Seseorang hanya teringat bagaimana meberhasilkan hidupnya, bukan membawa keberhasilan bagi kehidupan di dunia. Ambisi untuk menjadi “raja”, selayaknya tidak menjadikan seseorang atau sekelompok individu menjadi angkuh mengusung panji kedigdayaan.

 

Dari rentetan sejarah kita bisa mendapat dan melihat bukti, bagaimana manusia-manusia yang terus saja “terlalu” menikmati “potensi berlebihan” yang disandangnya, akhirnya hancur juga. Kita sudah bisa mendapatkan fakta, banyak manusia yang kini terjebak untuk memaksimalkan kemampuan diri, sebagai media menyamakan dirinya dengan Tuhan. Manusia diganti robot, binatang direproduksi dengan teknologi, dan manusia bebas menyudahi hidup manusia lain. Untung saja, belum sanggup merekayasa reproduksi manusia baru untuk tinggal bersama di bumi, dengan tanpa mengindahkan proses alami yang sudh dikodratkan.

 

Bentuk nafsu ataupun emosi yang terkolaborasi dengan akal, budi, dan pikiran, bukanlah wadah bagi keinginan untuk meninggalkan kodrat sebagai makhluk ciptaan-Nya. Kelonggaran bernapas, berpikir, ber-ilmu pengetahuan, sampai dengan kelonggaran bercita-cita yang diberikan oleh-Nya, bukanlah berkah yang membuat manusia jadi penuh ambisi, takabur, dan semena-mena. Nafsu boleh-boleh saja. Emosi boleh-boleh saja. Berpikir boleh-boleh saja. Ambisi boleh-boleh saja. Tapi siap sangka, akhirnya banyak manusia ingin jadi Tuhan? Namanhya juga manusia. Dikasih hati, minta jantung…

 

(TOR-02-99)

Advertisements

Kecutnya Ketiak

siluet_33

Bersikap adalah menunjukkan sikap. Baik buruknya sikap dapat dinilai darimkonsekuensi si pemilik sikap terhadap perilakunya. Sikap baik belum tentu sanggup direalisasikan secara murni oleh seseorang. Maka ia akan terjebak pada kenyataan bahwa ia tidak dapat bersikap.

Wajar kalau sikap, bersikap, atau apapun namanya, akan membuat bingung jika harus dibeberkan denga arti harfiah. Seseorang yang punya sikap, bukan berarti sikapnya baik. Seseorang yang tidak bersikap, bukan berarti ia bisa bersembunyi dari ketidaksanggupannya bersikap.

Kalau seseorang sudah mengeluarkan kata-kata dari mulutnya, sebagai sebuah bentuk sikapnya pada fenomena yang ada, adalah harus (kalau tak mau dibilang wajib) orang tersebut berperilaku sesuai dengan apa yang dikatakannya. Kalau ia bilang ember harus diisi air, maka sewajarnya ia juga mengisi setiap ember miliknya dengan air. Jika ia menyatakan rumah harus dicat dengan warna cerah, adalah sah jika rumahnya juga dicat dengan warna cerah. Atau lebih mudah kita nyatakan bahwa apa yang dikatakan memang sudah dilakukan.

Akan tetati (tetapi maksudnya….), jika kita melihat seseorang ataupun sekelompok orang yang dengan berwibawa menyatakan, “Kita harus menyampaikan yang benar itu benar, yang salah itu salah”, di hari berikutnya justru ia menekuk lutut untuk menyatakan kebenaran hanya karena sungkan, takut, ataupun toleransi, gelar apa yang pantas kita sandangkan kepadanya? Tidak bersikap, tidak mempunyai sikap, tak tahu sikap, atau mungkin pengecut?

Bukan berniat mencerca, protes, ataupun antipati terhadap nilai manusiawi dari seseorang. Tapi, adalah kenyataan bahwa sudah terlalu banyak orang yang berlaku tak sesuai dengan apa yang dikatakan lewat mulut. Sudah terlalu keruh dunia ini diisi oleh orang-orang yang hanya ingion dibilang “top” padahal dia “down”. Bilang berani, tapi tak berani. Bilang bersikap, tapi tak punya sikap. Bilang manis, tahunya kecut.

Dari lingkup regional, lokal, sampai dunia, kita dapat menyaksikan betapa hebatnya orang-orang yang berdiri tegak di podium kejayaan, kedigdayaan. Mereka melimpahkan kata-kata dalam mjulutnya dengan bunyi sirine perang melawan kebathilan. Dan mereka sekaligus mengumandangkan pernyataan-pernyataan yang justru menunjukkan bahwa, orang memang paling pintar bicara, tapi mana prakteknya? Katanya harus lari, kenapa jalan kaki. Katanya mau ngasih buah, kenapa yang dikasih Cuma biji.

Yah…, memang lain kata lain praktek tidak dapat disalahkan. Orang kan manusia. Yang kadang menemukan kekhilafannya. Yang kadang tak mengira kenyataan terus berubah. Yang tak mengira bahwa dirinya dapat menjadi pemberani, dapat juga jadi pengecut, dapt juga tak punya sikap, bahkan dapat menjadi penipu. Jadi, juga jangan disalahkan kalau saja seorang pemuda berumur 28 tahun berkata, “Pengecut itu tak punya sikap, penipu berarti tak punya sikap, dan tak punya sikap berarti juga menipu”. Entah apa artinya, tak usahlah dipersoalkan. Karena jangan-jangan pemuda itu juga pengecut. Siapa tahu? Ketiak saja baunya kecut…

(TOR-05-99)

Mengadili Intelektualitas

Melihat gejala-gejala yang timbul di masyarakat, terbesit pemikiran. Pemikiran tentang pentingnya kadar intelektualitas seseorang dalam menyampaikan apa saja yang ada di benaknya. Mengapa harus dikatakan penting, karena dari kenyataan yang ada kita disuguhi ‘tontonan’, betapa kaum yang mengaku dari golongan intelek begitu percaya untuk menyampaikan ataupun memberikan masukan kepada bangsa ini untuk keluar dari permasalahan-permasalahan yang mendera.

Sebenarnya bukan saat ini saja para intelektualis dipercaya memberikan sumbang saran bagi kepentingan umum. Dari jaman kerajaan-pun hal ini sudah dilakukan. Contohnya, seorang raja yang sangat percaya kepada para cendikiawan. Mereka dipercaya kerena potensinya masing-masing yang mencoba untuk berpikir bedasarkan proses sebab-akibat. Kalau keadaan begini, maka akibatnya begitu. Kalau keadaan begitu, maka akibatnya begono. Dan kalau keadaan beginu, maka akibatnya begenee…

Nuahh…, di jaman sekarang ini kita juga dapat melihat bahwa, tak diminta oleh siapapun, makin banyak saja yang dengan kesadaran penuh mempraktekkan dirinya sebagai bagian dari kaum intelek. Kaum dengan tingkat intelektual di atas rata-rata. “Dari indikasi yang ada, kita diharapkan dapat meng-implementasi-kan potensi kita ke dalam proses bergaining. Sehingga tidak terjadi setback yang tak diharapkan, menyusul adanya distorsi dalam sistem yang sudah dikonfirmasikan bersama”, begitu kata salah satu pengamat sosial politik.

Lalu orang yang kebetulan ada di sebelahnya-pun dengan semangat menimpali, “Benar apa yang dikatakan teman saya ini. Dalam mencapai tingkat pengkristalan sistem, setiap personal diharapkan dapat mempertahankan kekonsistennannya sebagai elemen sistem tersebut. Bahkan, dalam rangka memulai step-step selanjutya, kausa-kausa yang telah lalu cenderung dapat kita jadikan plafon dalam menghitung kadar kesatuan atribut-atribut sistem”. Lalu decak kagum diiringi hiasan tepuk tangan, menggema di ruangan sebuah seminar.

Dengan tema “Mari Memberantas Kebutaan Politik”, seminar itu dapat menjadi contoh betapa pintarnya mereka. Betapa pemikiran-pemikiran mereka selalu menggunakan prosedur keilmupengetahuan. Lontaran pendapat ataupun teori seakan merupakan solusi prima dalam menyelesaikan masalah. Atau merupakan masukan terbaik mengenai sebuah masalah.

Tapi rasa-rasanya kita sudah sangat sering mendengar atau menyaksikan sendiri banyaknya diskusi-diskusi maupun seminar-seminar yang intinya mencari jalan keluar masalah yang dialami masayarakat luas. Tentang kelaparanlah, tentang perbankanlah, atau mungkin tentang seks bebas. Dan nyata-nyata dalam pandangan kita, betapa masayarakat hingga kini masih saja terpuruk dalam ketidakjelasan ke mana arah negeri kita akan berlabuh. Kemiskinan tak kunjung habis. Krisis tak kunjung hilang. Dan moral tak kunjung baik.

Padahal, kalau kita simak di kehidupan sehari-hari, di Indonesia kita ini, begitu banyak para ahli yang dipercaya sebagai kaum intelektual. Kaum yang dengan serta-merta selalu mengeluarkan ‘kata-kata kuncian’ agar mendukung prediksi ataupun opini tentang bagaimana membawa Indonesia ke dalam keadaan yang lebih cerah. Lalu apa yang salah, siapa yang salah?

Rasanya sulit melihat siapa yang salah. Karena yang kita ketahui, bahwa para pecinta intelektualitas adalah diakui sebagai orang-orang yang akan mengabdi kepada masyarakat. Mengabdikan ilmu yang sudah terlalu menumpuk di kepala untuk kepentingan masyarakat. Bukan untuk kepentingan diakuinya mereka di mata masyarakat. Bukan untuk kepentingan diinginkannya mereka oleh ‘tim fungsionaris negara’.

Maka ada baiknya mereka yang mengaku berintelektualitas tinggi tidak hanya jago melontarkan kata dengan kadar intelektual, tapi juga fasih melontarkan kata berdasarkan hasil pemikiran mereka sebagai intelektual sejati. Sehingga masyarakat tak termakan indikasi-indikasi, implementasi, bergaining, step, konfirmasi, setback, atau apa saja yang justru membuat mereka merasa sebagai orang paling bodoh. Atau memang masyarakat kita memang sudah terbiasa dibodoh-bodohi dan saling membodohi?

(TOR-26-99)