KESANDUNG DI MAL


siluet_5

“Hhhh…. Kenapa ya belakagan gue sering dapet sial”, begitu keluh Birun. “Padahal rasa-rasanya udah berbuat baik semampu gue. Masa sih Tuhan masih aja ngasih kesialan ke gue”, tambahnya.

Memang, setengah tahun belakangan Birun yang sehari-harinya menjadi pengusaha tekstil, sering mendapat musibah kecil maupun besar. Dua hari yang lalu saja ia baru kehilangan dompetnya, padahal baru seminggu yang lalu ia kehilangan data-data keuangan di laptopnya karena virus. Sudah tersandung tertimpa tangga pula.

Itu belum seberapa, coba saja bayangkan, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-37, dua bulan yang lalu. Saat ia sedang sangat bergembira merayakan hari jadinya, motor Honda Tiger kesayangannya, yang sudah dimodifikasi, hancur lebur karena dipinjam temannya yang belum fasih mengendarai motornya itu. “Aduh… Mir… kenapa motor gue lu remekin kaya gini”, keluh Birun sambil menyambut temannya, Amir, menenteng motornya yang ringsek. “Iya, Run… sorry banget, gue agak kagok pas tadi di tikungan, dan gue kepeleset. Lu liat nih celana gue pada robek, kaki gue juga pada luka. Masih untung nih gue, gak ikutan ringsek”, ungkap Amir, yang sehari-harinya masih jobless. “Ya udahlah Mir… mau gimana lagi, gue juga gak mungkin minta ganti sama lu.

Bersamaan dengan beberapa “kesialan” atau musibah yang menerpa, sebenarnya usaha yang diijalankan Birun justru sedang bagus-bagusnya. Order seperti gak ada putus-putusnya, bahkan sampai konsumen dari Nigeria-pun sudah banyak yang “nyangkut” jadi pelanggannya. Menyusul Malaysia dan bahkan Australia. Birun pun sudah menambah perbendaharaan kiosnya. Saat ini terhitung sudah tiga kios dia punya.

Tapi kembali lagi kepada keluhan Birun tentang kesialan yang belakangan sering menimpa. Kenapa ya? Padahal si Birun termasuk orang yang rajin ibadah, suka memberi pekerjaan kepada orang lain, dan juga tidak pelit. Logikanya, ia seharusnya bisa hidup nyaman toh?

Sewaktu ketika ia memutuskan untuk “cuti” seminggu untuk berlibur sekedar merenungkan hidupnya. Berangkatlah ia ke rumah almarhumah neneknya yang terletak di sebuah desa di Purwakarta. Di sana ia menginap ditemani sawah, kandang sapi, dan tentunya keterbatasan informasi.

Di sebuah pagi ia sempatkan untuk berjalan berkeliling desa. Sambil mengenakan sarung dan kaus oblong, sudah miriplah ia dengan warga asli desa itu. Tak tahu disengaja atau tidak, sepertinya Birun merasa ada perasaan kuat, tiba-tiba saja dia memberanikan diri menegur, berkenalan dan terlibat pembicaraan dengan seorang pemuda yang menurutnya seumuran dengannya.

“Assalamualaikum”, sapa Birun sambil terus berjalan. “Walaikumsalam”, sahut pemuda yang ternyata bernama Sabri itu. Setelah berkenalan, maka Birun mulai coba mambuka pembicaraan. Dari pembicaraan sekitar keadaan desa, sampai akhirnya singgah ke pembicaraan tentang makna hidup. Tak dilewatkan begitu saja oleh Birun untuk bercerita tentang permasalahannya yang menurut dia pelik.

“Begitulah Bri, kenapa ya kok aku dapet ‘sandungan’ terus ya belakagan ini?”, begitu tanya Birun. Sabri mengerutkan dahi, ia berpikir tentang bagaimana membantu menerangkan jalan dari teman barunya itu.

“Run..”, kata sabri perlahan. “Kalau diibaratkan kita ini sebagai orang yang sedang berbelanja di mal, kita sudah semua beli yang menurut kita dan menurut orang paling okelah. Baju paling oke, celana paling nge-trend, topi paling unik, kaos kaki paling keren, sabuk paling berkelas, sarung tangan paling mengkilap, parfum paling wangi, dan semuanyalah…”, tutur Sabri. “Menurutku, sering kita lupa untuk mampir ke satu toko yang justru punya bobot terpenting di antara yang kita beli tadi. Toko apa Run?, lanjutnya. Birun mulai berpikir, “Toko buku?”. “Bukan”, kata Sabri. “Toko makanan?”, lanjut Birun. “Bukan,” kata Sabri lagi. Dan Birun terus menyebut beberapa toko yang selalu mendapatkan jawaban sama dari Sabri, “Bukan”.

“Lalu apa dong Bri? Aku mulai puyeng nih”, ujar Birun. “Toko cermin, Run”, singkat saja jawaban Sabri. “Dengan mempunyai cermin, kita akan tahu apakah semua yang sudah kita miliki pantas dikenakan, apakah semua yang sudah kita lakukan sudah layak, apakah yang sudah kita perbuat sudah sepadan, dan banyak lagi, Run”, jelas Sabri. “Tanpa cermin, kita gak pernah mau introspeksi diri tentang kekurangan kita, kelemahan kita, kesalahan-kesalahan kita baik dahulu maupun sekarang. Yang kita lihat tanpa cermin hanya yang baik-baik saja menurut penilaian kita sendiri. Kita gak tau bahwa orang lain belum tentu sependapat dengan kita, belum tentu searah dengan kita, belum tentu senang dengan apa yang kita perbuat”, lanjut Sabri. “Karena itulah, dalam hidup ini kita perlu cermin, untuk melihat ke diri kita sendiri. Seperti yang belakangn kamu alami, mungkin ada sebab musababnya di masa lalu yang masih mengganjal. Mungkin kau punya kesalahan-kesalahan yang belum kamu sadari sejak dulu hingga saat ini. Karena kau mungkin lupa bercermin”.

Tanpa harus dijelaskan lebih lanjut, Birun langsung mengangguk-angguk tanda setuju. Nampaknya ia telah mengerti, bahwa selama ini ia tidak pernah bercermin, apakah semua yang telah dilakukannya berkenan di hati orang lain, atau ia juga tak pernah berkaca, apakah semua yang dimilikinya sudah sepatutnya, apakah semua perilakunya dari dulu hingga kini pernah merugikan orang, apakah harta yang dikeluarkannya untuk orang lain sudah seimbang dengan yang didapatnya, apakah…., apakah…., apakah….. dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan dalam dirinya yang mulai terungkap. Selama ini ia tidak pernah tahu, karena rupanya ia lupa mampir ke toko cermin…

Advertisements

KOPI TUMPAH

siluet_2

“Nak, kamu itu kan mau menghadapi ujian kenaikan jabatan sebulan lagi, Ibu cuma mau bilang ke kamu, kalau sebelum hari “H” ada baiknya kamu tahan semua emosi, nafsu buruk, dan hal-hal yang gak manfaat”, begitu pesan ibu kepada Amir.

Lalu seperti biasa Amir berangkat menuju kantornya dengan sepeda motor tahun 70-annya. Jalanan macet total, jangankan mobil, sepeda motor saja nyaris tak
bergerak (mungkin juga tikus, kucing, dan anjing juga tak bisa jalan…).

Braaakk!! tiba-tiba sebuah sepeda kumbang dengan pengendara seorang bapak setengah baya menabrak sepeda motor Amir. “Aduh…. gimana sih bapak!”, hardik Amir. “Aduh maaf dik, rem sepeda saya udah haus”, jawab sang bapak. Hanya beberapa detik Amir terdiam, tiba-tiba saja ia berkata, “Ya sudahlah gak apa-apa pak, toh motor saya pun gak ada yang rusak”.

Amir meneruskan jalannya menuju kantor, kebetulan pula lalulintas mulia lancar. Selancar asap rokok yang keluar dari seorang pedagang cermin di pinggir jalan.

Sesampai di kantor ia parkirakan motor di tempat biasa. Sebuah area parkir yang dekil, penuh puing, dan bersebelahan dengan tempat sampah. Dan cilakanya, baru saja ia parkirkan motor, seorang pekerja bangunan yang bekerja di tempat itu sejak sebulan yang lalu, membuang puing tanpa lihat sekeliling. Wussssshhh! debu berterbangan kemana-mana, termasuk menuju Amir. “Aduh… bajuku jadi dekil nih. Sial juga tuh orang, buang puing gak liat-liat”, gerutunya. “Hey mas, jangan sembarangan dong buang puing”, teriaknya. “Waduh, maaf bos. Beneran saya gak liat”, balas pembuang puing.

Sejenak Amir memejamkan mata. Lalu ia berucap, “Ya mas, gak apa-apa kok, maaf juga kalau saya tadi agak ngotot, maklum mas abis kena macet neh”. Lalu Amir bergegas menuju ruang kantornya.

Amir duduk di kursinya, ia seruput secangkir kopi yang sudah tersedia. “Sssrrrrttt….. Aahhhh…!”. “Hoy broer! Gmana kemaren?!”, tiba-tiba Dina menegur sambil mengagetkannya. Kopi yang dipegang Amir tumpah mengenai celana hitam yang dipakainya. “Aduuuuh… lu tu ya.. “, tegur Amir. “Sori Mir, sori… beneran gua gak ada niat bikin celanalu kena kopi. Sori deh…”, rajuk Dina. Untuk kesekian kalinya Amir terdiam sejenak. “Ya..ya… gak apa-apa, toh celana gua kan hitam, jadi gak keliatan kotornya”, tutur Amir.

Berselang 3 hari, Amir dipanggil big boss. Tak ayal Amir sedikit nervous. “Duh… ada apa nih”, pikirnya. “Din, big boss manggil gua nih tumben, kenapa ya, kayaknya gua gak punya salah deh?”, tanyanya pada temennya yang seksi itu. “Wah, gua gak tau Mir, mungkin dia kangen kali. Hi..hi…hi”, jawabnya sambil memegang lipstick dan cermin kecil.

Amir menuju ruangan big boss, Pak Ronald namanya. Pak Ronald memang agak jarang ke kantor, maklum bisnisnya banyak. Dari Properti, kosmetika, supermarket, hingga jual-beli tanah. “Saudara Amir, duduklah”, sapa big boss. “Baik pak”, balas Amir.

“Saudara Amir, anda sebagai sales perusahaan saya sudah lumayan lama. Kira-kira 3 tahunan kalau gak salah”, papar big boss. “Nah, kamu tau kenapa saya panggil ke sini?”. tambahnya. “Ee..ee..e.. tidak tau pak”, jawab Amir. “Begini saudara Amir. Saya dengan dari bagian HRD bahwa sebulan lagi kamu akan diuji untuk kenaikan jabatan. Tapi, kalu saya evaluasi dari hasil kerja kamu selama ini, dan tentunya juga prestasi kamu, saya sudah putuskan anda bersama teman-teman yang nanti juga akan saya panggil, mulai Senen depan…”. “Kriiiiiiiing….” tiba-tiba hp pak Ronald berbunyi. “Halo.. ya… ya… tapi nanti saya telpon deh, saya lagi meeting”. Amir berkesempatan mengambil nafas….

“Maaf tadi pembicaraan kita terpotong”, tutur big boss. “Begini, mulai Bulan depan anda dan teman-teman anda yang juga akan saya panggil, akan mendapat bea siswa untuk kuliah S2 di Universitas Indahnian. Saya
udah instrusksikan sekeretaris saya untuk urus semua”, jelas pak Ronald. “Dan, mengenai kenaikan jabatan,
mulai hari Senen, kamu saya angkat jadi Sales coordinator, dan tanpa ujian lagi”, tambahnya.

Sepulang kantor Amir masih tak habis pikir, bagaimana bisa ia mendapat “rejeki nomplok” yang baru saja diberikan big bossnya. Lalu ia berpikir, merenung, dan sepertinya ia menemukan jawabannya. “Oh… mungkin ini karena aku mengikuti apa kata ibuku untuk menahan emosi, nafsu dan meninggalkan hal-hal yang gak bermanfaat. Ternyata memang semua jadi lebih lancar tanpa terkira sedikitpun. Alhamdulillaah…”

Mulia hari itu Amir mendapat ilmu baru, bahwa ternyata apa yang dikatakan ibunya ternyata salah. Dan menurutnya yang benar adalah, bahwa menahan emosi, nafsu dan meninggalkan hal-hal yang tak bermanfaat seharusnya bukan hanya dilakukan sewaktu kita menghadapai hajat ataupun sebuah tujuan. Tapi, untuk setiap langkah selagi kita hidup.

NDELALAH…

siluet_11

Amat dan teman2nya yang lucu tinggal di sebuah desa. Desa yang dari jauh terlihat makmur, adem ayem, dan rukun antar warganya. Tapi Amat berpandangan lain. Desanya tak semakmur, adem (apalagi ayem), dan rukun. Ia resah, ia gundah, ia mau (maaf) muntah…

Desa Amat dkk dilintasi sebuah kali yang cukup besar (bahkan bisa untuk mandi dan berenang). Lima tahun terakhir, arus di kali begitu deras. Sudah banyak yang hanyut. Dari celana, baju, tempayan, sampai anjing piaraan.

Uniknya, di seberang kali terlihat bayang-bayang (agak kurang nyata karena selalu berkabut, maklum di kaki pegunungan), ada desa-desa lain yang tidak diketahui apakah makmur, adem ayem, dan rukun. Ndelalah… Amat sering berkhayal untuk menyebrangi kali dekat desanya. “Aku berani menyeberangi kali itu”, begitu selalu terucap dalam hati. Tapi, sering teman-temannya mengingatkan,”Mat, belum tentu lho di sana enak, udahlah di sini aja, kita terima keadaan, menderita dikit juga gak napalah…”

Lagi-lagi ndelalah… Amat bukan orang yang begitu saja menelan perkataan orang lain. Ia selalu berusaha berpikir independen (walaupun istilah independen di desanya gak ada yang tau…).

Suatu waktu ia berjalan mnyusuri pinggir kali sambil celingukan. Tiba2, ia bertemu seorang yang agak tua, dengan jenggot yang tipis tapi panjang. Amat belum buka pembicaraan, orang tua itu langsung memegang pundak Amat dan berkata, “Di dunia ini banyak orang berani. Tapi, tidak banyak orang yang yakin.”

Bermalam-malam, berhari-hari, berbulan-bulan ia memikirkan kata-kata itu. Sampai akhirnya usia bertambah. Dan ia sadar, waktu tak boleh dibuang-buang, ia menanamkan keyakinan bahwa ia harus menyebrangi kali sebelum arus bertambah deras dan menenggelamkan desanya. Maka dengan keyakinan (tentu juga keberanian) ia menyeberangi kali yang memang arusnya sudah semakin deras. Tak peduli apa kata orang, apa kata kepala desa, apa kata ketua RT, apalagi kata kepala keamanan desa.

Hhhh…. Amat berhasil juga menyebrang. Ia injak daerah baru yang ia tak pasti mengetahui seluk beluknya. Tapi, ia selalu ingat kata orang tua yang ditemuinya di pinggir kali tentang pentingnya keyakinan diri berada di atas keberanian.

“Ternyata selama ini aku buta. Aku terjebak oleh kabut yang selalu menyelimuti desa ini….”, ujar Amat yang telah menrasakan betapa pintu di desa lain ternyata sangat membuka diri baginya. Dan… Amat siap menjalani keberadaannya di desa baru itu dengan segala resikonya. Dan nyatanyapun Amat kini lebih bersemangat dalam hidup, lebih menikmati apa yang ia kerjakan sehari-hari, dan tentunya lebih mensyukuri nikmat berupa keyakinan untuk berubah lebih baik….